Minggu, 08 Februari 2015

Cinta dan Persahabatan





“Iya.. karena kami pernah belajar bersama, bermain bersama, dan…. bercinta bersama”, Ucap seorang perempuan bertubuh mungil, di hadapan ribuan pasang mata. Di ujung acara dari pernikahan seorang sahabat. 

“Sahabat kami yang pertama kali memegang piala ini, kami persilahkan menyerahkan piala kepada sahabat yang hari ini berbahagia…”, tambahnya lagi. 

Salah seorang sahabat menuju kearah singgasana raja dan ratu sehari. Menyerahkan piala tanda kebahagiaan itu. Dan mataku berkaca-kaca. Aku amat bahagia. Hingga hari ini sudah dua dari sebelas keanggotaan GMC yang sudah menemukan dan menjemput janji masa depannya. Namun ada cerita spesial dibalik ini semua. Lalu bagaimana cara untuk menceritakannya? Dan kepada siapa aku ingin menceritakannya? Ah, dua tiga tahun silam boleh jadi ini kisah yang mengiris hati, tapi aku yakin. Nanti setelah kita tua, kisah ini hanya akan jadi lelucon. Dan bangganya, aku orang yang dipercaya untuk mengisahkannya. 

Teruntuk dua sahabatku. Aku senantiasa mendoakan, semoga segera, dari rahim kalian akan hadir GMC junior. Anak kalian akan aku sayangi seperti anakku sendiri. Dan izinkan aku berbagi cerita kepada mereka, tentang kisah cinta yang tidak sempurna, para ibunya, yang dulu pernah jatuh cinta namun memilih menyembunyikannya agar tidak saling menyakiti :)

Nak, sebut saja ibu kalian adalah ibu Rosa dan ibu Jasmin. Oh ya, kalian bisa memanggilku, Ibu Putri. Ada satu hal di dunia ini yang kehadirannya tidak bisa diajak kompromi, ditawar ataupun ditolak. Apa itu, nak? Itu adalah perasaan jatuh cinta. Kita tidak pernah bisa merencanakan kepada siapa kita akan jatuh cinta. Perasaan itu tumbuh dengan sendirinya tanpa kompromi. Ah, ini bukan topik terlalu berat untuk kita bincangkan bukan?. Kalian akan jadi generasi GMC yang kaya akan pemahaman, termasuk tentang cinta. Makanya kisah ini semoga menjadi salah satu yang memperkaya pemahaman kalian. Kembali lagi tentang jatuh cinta tadi. Hal yang bisa kita lakukan menanggapi perasaan itu hanyalah, menerima. Iya, menerima perasaan itu dengan tulus. 

Namun, apa jadinya jika perasaan itu harus jatuh kepada sahabat sendiri?. Apa akan tetap kuat menerima perasaan itu terus tumbuh dan menjadi-jadi. Atau akan dihujam, dipangkas tanpa bekas. Kali ini bukan sekedar perasaan, tapi jatuhnya perasaan itu kepada sahabat sendiri. Dan itu terjadi pada ibu kalian. Ibu Rosa dan Ibu Jasmin. 

Ajaibnya, Ibu Rosa dan Ibu Jasmin jatuh cinta kepada lelaki yang sama. Namun masing-masing dari mereka tidak saling mengetahui. Juga tidak berniat saling memberitahu. Karena pemahaman ibu kalian sama, walau di kepala yang berbeda. Tentang bagaimana menjaga persahabatan. Lalu bagaimana Ibu Putri tahu akan hal ini. Apakah Ibu Rosa dan Ibu Jasmin menceritakan isi hatinya secara lugas? Jawabannya, tidak.

Ibu Putri sering mendapati pandangan mata yang berbeda dari Ibu Rosa dan Ibu Jasmin kepada lelaki itu. Pernah suatu ketika tangan lelaki itu terluka, lalu tanpa disadari Ibu Rosa dan Ibu Jasmin meraih tangan lelaki itu secara bersamaan, untuk mengobati luka itu. Namun, Ibu Rosa kalah cepat. Ibu Jasmin yang lebih dahulu membersihkan luka lelaki itu dan menutupnya dengan kain kasa. Apa yang dirasa Ibu Rosa? Ternyata Ibu Rosa merasa sedih dan sempat menangis. Di lain kesempatan, Ibu Jasmin juga pernah menangis. Menangis dengan dada yang begitu sesak. Siapa bilang jatuh cinta itu indah, nyatanya Ibu Rosa dan Ibu Jasmin menangis karena jatuh cinta. Di suatu malam akhirnya Ibu Rosa mencurahkan isi hatinya, tentang perasaannya, tentang ketidakmampuannya lagi untuk menahan perasaan jatuh cinta itu. Ibu Putri hanya bisa diam. Lalu, di lain momen, juga Ibu Jasmin menangis di hadapan Ibu Putri untuk hal yang sama. Mereka jatuh cinta kepada orang yang sama. Ibu Putri lah yang mengetahui hal ini. Ibu Putri tidak bisa berbuat banyak hal. Hanya menghibur dan banyak membahas topik lain di sela sela perbincangan  untuk mengalihkan perhatian agar ibu kalian tidak fokus  dengan perasaannya. 

Bahkan mungkin hingga hari ini, lelaki itu tidak pernah tahu. Betapa dua sahabat perempuannya pernah sangat jatuh cinta dan menangisi perasaannya itu. Akhirnya, Ibu Jasmin terhitung cepat berdamai dengan perasaannya. Ibu Jasmin kembali ceria. Ia sudah bisa mengabaikan perasaannya karena frekuensi pertemuan dengan lelaki itu semakin jarang. Berbeda hal dengan Ibu Rosa, perasaannya semakin kuat. Semakin dipangkas, semakin tumbuh dengan hebatnya. Setiap hari bersama dengan lelaki itu setiap hari pula membohongi diri sendiri. Ibu Putri sering mendapati Ibu Rosa menangis. Hingga akhirnya tangisannya terhenti, sangat sesak memang, tapi itu ujung dari kesedihannya. Lelaki itu sudah memiliki tambatan hati. Ibu Rosa memilih menghindar dan membuang perasaannya.

“Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya”
REFRAIN, saat Cinta Selalu Pulang. - Winna Effendy –

Terkadang, tak bisa dipungkiri, waktulah yang paling setia untuk mengobati. Hanyalah waktu yang menjawab. Selang beberapa bulan dari itu, Ibu Rosa diperkenalkan dengan seorang lelaki yang akhirnya menjadi teman hidupnya. Lalu Ibu Jasmin juga menemukan teman hidupnya dengan cara yang tak disangka. Berselang delapan bulan, tepatnya hari ini, Ibu Jasmin memenuhi janji sucinya. 

 Ibu kalian hebat. Mereka memilih jalan terbaiknya. Dan, karena pilihan terbaiknya itulah, hingga hari ini persahabatan itu tetap terjalin dengan manis. Ibu Rosa, Ibu Jasmin, Ibu Putri, lelaki itu dan anggota GMC lainnya masih bersahabat dengan baik hingga hari ini. Saling mengisi tawa ketika dekat dan saling merindu ketika jauh. 

Hey, apa kalian tidak penasaran dengan lelaki itu? Ah, sudahlah. Tutup rasa penasaran kalian. Bab itu tidak ada dalam kisah yang ingin Ibu Putri sampaikan. Tugas Ibu Putri hanyalah mengisahkan ini dan memberi pemahaman dibaliknya.  


Prabumulih, 08 Februari 2015 22;04
Selamat berbahagia untuk dua sahabatku. Semoga cinta dan persahabatan selalu terjalin dengan manis diantara kita.


Kamis, 22 Januari 2015

Kopi Impian

Aku selalu tertarik berdiskusi tentang impian. Lewat impian, seseorang akan merasa hidupnya butuh diperjuangkan. Lewat impian, seseorang akan merasa hidupnya akan lebih hidup.


Bagi ku ada banyak cara menanamkan impian-impian. Impian itu bisa kau pegang erat-erat. Bisa kau tulis di setiap lembar kertas kehidupan. Bisa kau utarakan kepada orang-orang tersayang. 


Aku akan merasa sedih jika seseorang telah meletakkan impiannya di garis tertinggi. Namun seseorang itu hanya berjalan di bawah garis-garis impiannya itu. 


Jika kau adalah seseorang yang memiliki impian dan aku termasuk orang tersayang, mari kesini duduk berdua dengan ku. Membincangkan impian sambil minum kopi. Aku rasa, ini lebih dari sekedar hal menarik.


Ajaibnya, kopi yang menemani kita ini mampu memberikan energi yang luar biasa. Kau akan menjadi lebih kuat. Garis impian itu tidak terlalu jauh, sayang. Tidak terlalu jauh. 


Tiga puluh tahun lagi, ketika kita duduk berdua lagi, berdiksusi lagi, sambil minum kopi lagi, kita akan tertawa. Iya, tertawa. Mimpi yang pernah kau utarakan sudah kau raih. Lalu, aku? Siapa aku? Aku hanyalah seseorang yang menjadi saksi hidup atas keberhasilanmu. 


Someday, you can go somewhere and get something that you really want, with someone you love the most :”)


Andwilika, 23 Januari 2014

Januari

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong kecil. Lorong yang biasa aku lewati tak kurang dari delapan belas tahun silam. Perjalanan ku kali ini bukan tidak ada tujuan. Aku ingin bermain dengan memori. Memori masa kecil. 


Di lorong ini, dulu aku sering melihat seorang anak perempuan menggendong adiknya. Sesakali aku juga sering melihat dia memetik bunga di pekarangan rumahnya. Lucunya, untuk menuju ke sekolah ku, aku bisa menempuh jalan lain. Tapi, lorong ini selalu menjadi jalan pilihan ku. 


Ketika aku tidak mendapati anak perempuan itu, tanpa aku sadari aku tertegun sejenak di depan rumahnya. Lalu, ketika suara halusnya terdengar, aku berlari. Ini berlangsung bertahun-tahun hingga aku tidak punya alasan lagi melewati lorong ini. 


Suatu hari aku melewati lorong ini lagi. Aku melihat bangunan rumahnya sudah berubah. Aku menanyakan kepada tetangganya. Ternyata anak perempuan itu tidak lagi disini. Seolah semakin lengkap, aku benar-benar tidak punya alasan lagi untuk melewati lorong ini lagi.


Ah, kau tahu, anak perempuan itu kurang lebih seusia ku. Aku hanya membayangkan wajahnya kini pasti sudah menjelma menjadi perempuan dewasa muda. Jika saja aku punya kesempatan, aku ingin menyapanya. Sungguh ingin menyapanya.


Bodohnya, sebenarnya aku punya banyak kesempatan. Ternyata beberapa kesempatan, aku berada di tempat yang sama dengannya. Akhirnya aku tahu namanya. Perempuan itu bernama Januari. Beberapa kali aku bersanding dengannya. Aku pernah duduk berhadapan dengannya. Aku pernah melihatnya menangis. Aku juga pernah melihat pipinya belepotan sehabis makan es krim. Tapi, aku tidak pernah bisa menyapanya. Bibirku keluh.


Sekarang aku dengar, anak perempuan itu akan segera menikah. Tentu, aku tidak akan bisa bersahabat dengannya seperti yang aku impikan. Bersahabat sepanjang hidup dan mati.


Hari ini, aku melewati lorong ini lagi. Andai aku mendapati seorang anak perempuan itu, aku akan menyapanya. 


"Januari, bersahabatlah. Januari bersahabatlah dengan ku…."


Andwilika, 23 Januari 2014

Misteri Bapak Tukang Jahit




 Kisah ini bermula dari kebingungan saya yang mencari penjahit, yang murah, handal dan bisa selesai cepat. Saya hanya punya waktu kurang lebih satu minggu lagi menjelang pernikahan salah seorang sahabat saya. Akhirnya saya berkeliling kota dengan naik kuda sambil bernyanyi-nyanyi, *ngayal*. Beberapa penjahit yang terkenal dan posisinya mudah dikunjungin pada rame dan antrian pesanan banyak. Saya ga ngerti deh, segitu ramenya ya orang mau nikah, makanya yang jahit kebaya juga rame, loh emangnya urusan kita cin? Wkwk.

Kurang lebih sudah enam penjahit yang saya datangi, akhirnya saya setengah putus asa, maka saya putuskan untuk…… Pulang? Hah, bukan…saya putuskan untuk makan sate. Loh kok makan sate, iyah..abisnya saya kelaperan, hehe. Selesai makan sate, saya menghampiri seorang ibu penjual buah. Saya menanyakan dimana ada penjahit terdekat, dan ibu itu menunjukkan pohon pinang, “nah..di bawah pohon pinang itu ada penjahit..”. Hey, alangkah riangnya langkah saya menuju pohon pinang itu. Sesampainya disana ada dua bapak tua yang menawari jasa jahit. Saya bingung, tapi akhirnya saya memilih bapak tua yang posisinya sebelah kanan biar saya masuk surga. Haha, apa maksudnya? Iya, bukannya kalo yang baik-baik itu sebelah kanan yaakk, hehe. Dan bener, bapaknya baik. Menyambut saya dengan senyum hangatnya. Dan yang paling penting, bisa selesai dalam waktu satu minggu dan harganya murah meriah. Yippy….bahagia tingkat dewa ^^.

Di ujung transaksi ini, ada hal mengejutkan.

“Mba bukan orang sini kan, mba ini kalo bukan orang Palembang, orang Prabumulih..”
“Mba seorang dokter umum yang kerja di rumah sakit kan….”
“Mba pernah naik kereta sendirian kan, dengan memakai masker.”
“Mba duduk di antara anak-anak kecil….”
“Mba mengeluarkan cemilan..”
“Walau saat itu mba pakai masker, tapi detail wajah mba, bapak ingat lho…”

Saya terhenyak…segitu detailnya bapak penjahit ini mengingat saya. Saya membuka lembaran file di memori saya. Ya, memang ada, saya pernah naik kereta pagi sendirian, kereta ekonomi yang duduknya berhadap-hadapan dari Lubuk Linggau menuju Prabumulih. Ya, memang benar ada saya pakai masker dan membawa cemilan. Ya, memang benar ada saya duduk diantara anak-anak kecil yang waktu itu dibawa neneknya untuk liburan. Tapi seingat saya, tidak ada seorang bapak tua yang duduk di dekat saya saat itu. Dan tidak ada saya memperkenalkan diri kepada siapapun, apalagi menyebutkan profesi dan tempat saya bekerja. Tapi si bapak menegaskan, saat itu beliau ada duduk tak jauh dari saya. Dan saya hanya  bisa tersenyum dalam rangka bingung, mikir dan mikir lagi.

Dari kisah ini ada beberapa hal yang kegaringannya bisa jadi catatan dan pelajaran, hehe: (1) Itulah pengaturan Allah, ternyata saya harus berkeliling dan melewati enam penjahit terlebih dahulu baru dipertemukan dengan bapak penjahit ini yang tempatnya tidak terpikirkan, dan ternyata telah mengenal saya sebelumnya. Alhasil, si bapak terlihat segitunya ingin membantu saya. (2) Usia kadang-kadang bikin malu ya, kok si bapak yang jelas jauh lebih tua bisa segitu detailnya mengingat saya, sedangkan saya, hehe. (3) Ini saran sih, kalo cari penjahit ya, kadang kita ikutan yang rame kemana, kita ga pernah tahu kan terkadang ada penjahit lain di pinggiran tapi bagus kerjanya, jadi lebih telaten kerjanya karena orderan ga terlalu banyak dan selesai lebih cepat. Bagi-bagi rezeki lah ya, hehe. (4) Jadi sebenernya bapak ini beneran ada ga sih di kereta waktu itu…… ????


Jumat, 12 September 2014

Catatan Kaki Dokter Putri




“Wah ternyata di telapak kaki kiri si Putri ada tahi lalat”
“Emang apa maksudnya?”
“Tahi lalat di telapak kaki menandakan kalo yang punya kaki, suatu saat akan melangkahkan kakinya sendiri, dengan langkahnya sendiri dan tujuan atas dasar pilihannya sendiri.”
“……….”

***

            Hari ini tepat satu bulan saya berada jauh dari rumah. Berbekal kepercayaan dari kedua orang tua dan semangat luar biasa, saya mencoba berpetualang sambil menunggu jadwal penempatan internsip. Mungkin beberapa teman ada yang bertanya-tanya, bagaimana saya bisa berada disini. Saya bawa baju berapa banyak. Saya tinggal dimana. Bagaimana saya bisa kesana kemari dan apa yang saya dapat. Hal ini terbukti ada beberapa teman yang sengaja bertanya via line, bbm, dll. Baiklah, akan saya bagi pengalaman saya lewat tulisan ini.

            Adalah kebosanan yang kian lama terhitung sejak selesai kepaniteraan Januari lalu. Ditambah lagi berbagai rangkaian ujian kompetensi yang membuat galau. Selain itu proses administrasi yang menyusahkan, tentu membuat isi kepala ingin pecah. Hari-hari kosong tanpa produktifitas. Diusia dan kecukupan ilmu yang seharusnya sudah bisa bermanfaat untuk orang banyak, terasa hampa jika diisi dengan kediaman belaka. Oleh karena itu, saya mengambil sebuah langkah. Apakah itu? Yap, berpetualang!


Izin Orang Tua

            Sebagai seorang anak perempuan, pastilah sangat dikhawatirkan oleh kedua orang tuanya jika bepergian jauh dari rumah untuk jangka waktu yang lama. Sendirian. Tanpa kejelasan. Hal ini yang saya perjuangkan. Saya meminta izin dengan ayah dan ibu saya, dengan meyakinkan mereka bahwa saya akan baik-baik saja. Saya hanya butuh kepercayaan dan sedikit bekal uang jajan,hehe. Tapi ayah saya sempat menyangsikan. Oleh karena itu saya membuat perjanjian tak tertulis dengan beliau. Pertama, cukup bekali saya dengan uang 1 juta (500.000 untuk ongkos pesawat + 500.000 untuk bertahan hidup entah bagaimanapun bentuknya), saya berjanji ayah tak akan mendengar rintihan saya dari sini karena kelaparan ataupun tersesat. Kedua, bukankah proses terbitnya STR dan penempatan internsip masih lama dan banyak berurusan di Jakarta, tentu akan memudahkan saya dalam menyelesaikan ini semua. Ketiga, saya menjanjikan bahwa sepulangnya saya nanti dari petualangan ini, akan banyak hal yang saya dapatkan, saya selalu yakin itu. Tentang pengalaman hidup, mengenal banyak orang, dan mengunjungi tempat-tempat yang asing bagi saya. Atas tiga alasan inilah bapak mengizinkan saya.


Hidup dengan Satu Ransel 

            Sebelum berangkat ke Jakarta saya bertanya kepada Kiki teman saya yang kebetulan sudah di Jakarta, mengabdikan ilmunya di sebuah klinik di Tanggerang. Kiki menyarankan agar saya cukup membawa satu ransel dengan 5 pasang baju kerja dan baju tidur. Perlengkapan secukupnya. Serta buku yang bisa saya baca. Dengan semangat empat lima saya menyiapkan perbekalan menuju ibukota. Sayangnya, ransel kesayangan saya sudah tiada sejak musibah penghujung Mei lalu (hiks, ransel saya yang isinya kamera dslr harus saya robek karena dijahilin orang di bus menuju Pekanbaru, dan kamera dslr saya diganti dengan 2 botol air mineral 600cc). Jadilah saya menggunakan tas jaga jaman masih koas. Tas baju gede warna biru dengan aksen Mickey Mouse. Setibanya saya di Bandara Soekarno Hatta, saya dijemput oleh sahabat saya Fathur dan Indra. Merekalah yang menghantarkan saya ke tempat Kiki. Well, thank you so much. Ketika tiba di Jakarta, kiki menyarankan saya untuk menukar tas Mickey Mouse saya yang gede itu dengan tas ranselnya. Agar lebih mudah kesana kemari katanya. Okesip, perjalananpun dimulai.

             Senin, 11 Agustus 2014 pukul 09.00 pagi, setelah perut saya terisi bubur ayam yang dibeliin Kiki, saya berangkat menuju Cigombong (Kab. Bogor). Cigombong adalah tempat saya mengadu nasib dan mengaplikasikan ilmu saya. Awalnya untuk menuju Bogor saya disarankan untuk naik kereta. Namun kenyataannya beda, di jalan bersama mamang ojek rekomendasi Kiki, saya diantar ke terminal bus jurusan Serpong-Bogor. Akhirnya dengan sebuah bus butut yang isinya lumayan padat, saya berangkat menuju Bogor. Ongkosnya 20.000 rupiah. Di Bogor saya turun di terminal Baranangsiang dan lanjut menumpang sebuah travel jurusan Bogor-Sukabumi. Dengan travel inilah saya menuju tempat yang asing bagi saya, Cigombong. Cigombong adalah sebuah kecamatan di Kab. Bogor yang arahnya sudah menuju Sukabumi. Tempat yang saya tuju tepatnya Kampung Pasir Jaya Desa Pasir Menjul di kaki Gunung Salak, sebuah klinik sosial dibawah naungan yayasan Al-Azhar. Saya turun depan Stasiun Cigombong dan dijemput oleh Kang Walid, pegawai klinik.

            Hari pertama di Klinik Al-Azhar, saya sudah menerima beberapa pasien. Sungguh mengesankan, karena saya harus memahami bahasa sunda. Beberapa kosa kata yang menjadi keluhan utama harus saya ingat benar, seperti “engap” artinya sesak, “atey” artinya gatel, hehe. Di klinik ini berdasarkan kesepakatan saya mendapat kesempatan 3 hari kerja yaitu Rabu, Kamis dan Jumat. Maka dari hari Sabtu, Minggu, Senin dan Selasa saya kemana? Inilah tantangannya. Saya melompat lompat antar klinik mengisi hari-hari tersebut.

            Untuk hari Sabtu dan Minggu saya dapat kesempatan untuk jaga di sebuah klinik di daerah Bekasi Utara. Jam jaga mulai pukul 09.00 pagi. Saya yang belum pernah ke kawasan Bekasi, mau naik apa, sama siapa dan bagaimana. Dari Cigombong menuju Bekasi, baiknya berangkat jam berapa agar tiba di Bekasi Utara kurang dari pukul 09.00. Alhamdulillah, seolah sudah diatur oleh gusti Allah. Hari Jumat sore saya menerima pasien seorang bapak tua, yang kerjanya dagang roti di daerah Bekasi. Waw..Waw..Waw…jadilah saya minta ajarin sama si bapak gimana angkot dari Cigombong menuju Bekasi. Gimana caranya: 1. Naik Bus jurusan Sukabumi-Bekasi (ongkos 16.000), 2. Naik Bus jurusan Sukabumi-Kp. Rambutan (ongkos 10.000), nyambung lagi bus Kp. Rambutan-Bekasi (ongkos 6.000), 3. Naik angkot Cicurug-Sukasari (ongkos 7.000) terus nyambung angkot ke stasiun Bogor ( ongkos 2.500), lanjut naik kereta dengan beli e-tiket. Baiklah diatas adalah 3 pilihan cara menuju Bekasi. Hari Sabtu dini hari saya bangun pukul 04.00 subuh. Merebus air buat mandi, sholat subuh dan lain-lain. Pukul 05.00 lewat dianter sama Mped (OB klinik) menuju simpang Cigombong buat nunggu beberapa angkutan yang diajarkan pasien saya kemaren. Ternyata, teori tak sesuai realisasi. Beberapa angkutan rekomendasi itu tidak ada yang lewat, sedangkan saya harus tiba di Bekasi pukul 09.00. Filosofi yang selalu saya pegang adalah, bergeraklah walau semili, itu lebih baik daripada menanti pergerakan yang kencang namun tak kunjung datang. Akhirnya saya naik angkot apa aja deh yang penting searah. Jadilah saya naik angkot Cicurug yang turun di Ciawi (ongkos 6.000), lalu saya nyambung naik bus jurusan Sukabumi-Kp. Rambutan (ongkos 10.000), nyambung lagi bus Kp. Rambutan-Bekasi (ongkos 6.000). Ternyata saya bergerak dengan opsi angkutan kedua, tapi dengan perantara angkot Cicurug-Ciawi, haha, never mind. Setibanya di terminal Bekasi saya naik ojek untuk menuju klinik tempat saya jaga di Jl. perjuangan. Alhamdulillah, saya tiba pukul 08.35, jauh lebih cepat dari harapan. Apa kata pegawai klinik disana, “Dok, cepet banget tiba disini. Baru kali ini ada dokter yang datang lebih cepat dari jadwal jam jaga…”. Huahahaha..yaiyalah..kamu ga tahu kan kalo buat berangkat kesini saya bangun dari jam empat ((EEMMPAATTT)) *pake toa*.

            Disini saya jaga untuk 2 x 24 jam. Jadi kalo mulai jaga pukul 09.00 hari Sabtu, maka selesainya pukul 09.00 hari Senin. Nah, bukankah hari Rabu saya baru jaga di Cigombong. Lalu bagaimana Senin malam Selasa, kemanakah saya. Sebenernya sih saya bisa ke tempat Kiki atau sodara di Tanggerang. Tapi jauh banget dari Bekasi. Okelah, saya menganggap seolah saya ga tahu harus kemana lagi. Akhirnya saya membuka lowongan kerja dokter, ternyata ada sebuah klinik yang membutuhkan dokter pengganti untuk hari Senin. Klinik itu berada di daerah Cikarang. Tepat sekali, sesuai pencarian saya. Tempat menyambung nyawa satu malam dan ga jauh dari Bekasi. Tapi saya keluar dari klinik di Bekasi jam 09.00 pagi, sedangkan klinik di Cikarang meminta saya untuk mulai jaga jam 09.00 pagi juga. Duh, gimana coba. Akhirnya saya komunikasiin sama dokter yang minta gantiin jaga, dan si TS kasih kompensasi saya telat (jam berapa aja yang penting gantiin dia, haha) dan si TS juga ngajarin saya rute angkotnya.

            Petualangan ke Cikarang kali ini ditemani sebuah tas ransel di pundak dan amplop berisi honor dua hari jaga kemaren *muka sumringah*. Dari klinik Bekasi saya naik angkot dengan kode 09 menuju Mega Mall Bekasi (ongkos 4.000), lalu nyambung naik angkot elef ke Cikarang (ongkos 7.000). Turun depan Mall Lippo Cikarang. Nah, pas disini saya ga tahu lagi naik angkot apa. Dan saya bingung mau nanya siapa. Tahukah kalian apa langkah yang saya ambil?? Yaakk saya refreshing ke Mall Lippo Cikarang. Saya baru inget kalo baju saya tinggal satu setel dan ga ada baju lagi buat besok.  Masuklah saya ke dalam mall. Krik krik..pegawai mall masih nyapu-nyapu, haha..yaiyalah orang mallnya baru buka. Setelah muter muter ga jelas, saya baru nyadar saya kan mau lanjut cari klinik Cikarang buat jaga. Akhirnya saya bertanya kepada Pak Satpam mall, dan naiklah saya angkot 17 Turki menuju klinik itu. Ternyata jauuuuuuuuuhhhh banget. Hingga saya turun di depan Mega Regency, pundak saya rasanya mau lepas. Oh ya disini kayaknya saya dibegoin mamang angkot, saya kasih 10.000 ga dikasih kembalian. Pas saya pelototi, dikasih kembalian 2.000, jadi ongkosnya 8.000, lebih mahal dari ongkos Kp. Rambutan-Bekasi. Haha, ga apa-apa deh, emang saya yang salah ga survey harga dulu sebelum naik angkot. Dan saya dijemput oleh Robi (OB klinik di Cikarang). 

            Saya tiba di klinik Cikarang pukul 11.00. Dua jam ngaretnya, hehe. Saya langsung mengeluarkan jas putih dan stetoskop. Mumpung belum ada pasien saya merebahkan badan terlebih dahulu. Huu….saya terharu, ga nyangka saya udah sampe Cikarang aja. Dan tiba-tiba pintu kamar berbunyi…”tok..tok… dokter ada pasien”. Hap hap hap dengan semangat saya menerima pasien tersebut. Tentang kedua klinik Bekasi dan Cikarang akan saya ceritain lagi di bab khusus. Selanjutnya saya akan cerita tentang perjalanan pulang. 

            Selasa, pukul 09.00 saya sudah dipersilahkan selesai jaga. Tak lupa menerima amplop hasil jaga 24 jam, hehe *senyum sumringah lagi*. Kali ini ga kagok lagi, saya hanya mengulangi rute angkot pergi kemaren. Namun pas sampe Bekasi, saya baru celingukan nyari angkot ke stasiun dan mau naik kereta untuk pertama kalinya. Bersama siapa saya naik kereta? Tentu dengan tas ransel di pundak saya dong!

            Saya ada urusan ke Konsil Kedokteran Indonesia untuk urusan STR. Saya beli tiket kereta jurusan Jakarta Kota dan turun di Cikini (ongkos 8.000, kalo ga salah lupa juga,hehe). Iya itu awalnya. Entah kenapa, saya bengong dan yang pasti ga ngerti. Saya turun di stasiun Gondangdia. Ketika keluar dari stasiun, e-tiket saya ditolak. Saya ga bisa keluar. Terus saya panik dan bingung. Lalu saya digiring oleh Pak Satpam ke posnya. Sedih amat yaakk, disana e-tiket saya dibaca, harusnya turun di Cikini tapi saya turun di Gondangdia. Saya bilang aja saya pertama kali dan saya ga ngerti. Pak Satpam ketawa dan tetap ngikutin prosedur untuk menarik e-tiket saya dan saya kena pinalti 5.000. Hahaha, ada-ada saja. Tapi saya bahagia, dengan itu saya jadi tahu. Untuk pulangnya, saya sudah paham dong. Jadi ga ada aksi diajak ke pos satpam segala. Saya pulang dengan kereta jurusan Gondangdia-Bogor. Beneran turun di Bogor, ga kemana-mana lagi. Yaiyalah, kan stasiun Bogor itu ujungnya stasiun,hahaha. Lalu saya balik lagi ke Cigombong, ke kaki Gunung Salak lagi dengan rute angkot yang sudah saya lewati. Ahh..bahagianya balik ke kaki gunung lagi setelah 3 hari berpanas ria di Bekasi-Cikarang.

           
Single Fighter in Cigombong

            Awal kesepakatan saya hanya dapat 3 hari kerja, namun bertambah menjadi 5 hari kerja. Ternyata dokter lain selain saya yang jaga disini belum bisa datang, alhasil saya jadi pemain tunggal. Jaga klinik 7x24 jam, terus dan terus sampe saya internsip, hehe. Baiklah akan saya utarakan betapa saya nyaman disini. Klinik sosial ini bukanlah klinik komersial yang mencari keuntungan lewat pelayanan medis. Klinik ini murni menyalurkan donasi para dermawan untuk para dhuafa yang telah memenuhi kriteria mereka. Jadi pasien disini gratis. Beberapa ada yang pasien umum, namun dikenakan biaya yang amat murah. Sistem seperti ini ada untung ruginya. Untungnya adalah, kita sebagai dokter kerja ga ada beban. Waktu ngeresepin obat ya ngeresep aja, karena gratis, ga perlu mikirin kantong pasien. Selain itu kita ga akan kena syndrome kejar target yang pengennya pasien banyak datang supaya pendapatan besar. Selain itu pasien-pasien disini ramah dan bersahabat. Kerugiannya ya kalo jumlah pasien terlalu ramai, sedangkan honor kita dibayar flat. Tapi itu bukan jadi masalah, karena niatkan hanya karena Allah. Bekerja akan lebih ringan dan menyenangkan, hehe. Gaji tambahannya ridho Allah. 

            Klinik ini tepat di kaki Gunung Salak. Hanya melangkahkan kaki dari muka klinik, saya bisa memandangi puncak Gunung Salak. Di halaman depan terdapat lapangan hijau tempat anak-anak bermain bola. Di halaman belakang terdapat pekarangan nan hijau tempat saya menjemur pakaian. Dari sisi kiri klinik, ini sudut kesukaan saya, sudut dimana membuat hati orang yang memandang menjadi tenang. Setiap pagi saya membuka jendela kamar, barisan hijau pohon jati selalu menjadi pemandanga. I do really love it.
  
            Disini juga tersedia dapur dengan peralatan masak yang lengkap dan juga mesin cuci. Suasana disini membuat saya semakin nyaman karena pegawainya baik dan bersahabat banget. Kang Walid (pegawai TU) yang berbaik hati menerima saya disini dan ngizinin kalo saya lagi ada urusan keluar, hehe. Kang Dayat dan Mped (OB klinik) yang berbaik hati mengantar saya kesana kemari dan ga bosan nanyain saya, “dok mau sarapan apa? Mau makan siang apa? Makan malam apa?”, selain itu bersedia saya repotin setiap pagi buat angkatin air anget yang saya rebus buat saya mandi, hehe. Teh Yully, mitra kerja yang bersahabat, suka ngajarin kosa kata sunda dan setia nemenin di dapur kalo lagi mau masak bareng. 

            Disini suasananya sepi dan amat tenang. Baik untuk beristirahat dan menenangkan pikiran. Tapi kalo buat hidup jangka panjang, mungkin bisa bosan. Lalu bagaimana untuk saya yang setiap hari disini? Saya mengisi hari-hari saya dengan memasak, berbelanja ke pasar tradisional Cigombong, mencuci, mengunjungi kebun jambu, membaca dan menulis (iya termasuk menulis cerita ini,hehe). 

            Dan rasa sepi juga bekurang, karena sesekali Kak Fathur datang mengunjungi saya, tak lupa membawakan buku-buku bacaan untuk saya. Menikmati indahnya Cigombong bersama saya. Meniti jalan menuju Gunung Salak yang lebih tinggi, namun nyatanya kami tersasar, haha. Meniti jalanan Batutulis yang disana sini terdapat hamparan sawah yang menghijau. Berbelanja ke pasar, lalu pulang lewat jalanan curam hanya karena penasaran pengen memandang jarak dekat barisan sawah yang indah, yang kebetulan kami lihat dari pasar Cigombong. Masak sama-sama dan ditutup makan sama-sama. It’s very wonderful day

             Dan begitulah hari-hari indah di Cigombong ini akan saya nikmati hingga akhir September ini. Yap, karena awal Oktober saya sudah berstatus sebagai dokter internsip.


Cicurug VS Cibedug

            Ini kisah ketika saya minta izin untuk keluar dulu dari klinik menuju Jakarta, tepatnya kawasan Pasar Minggu untuk membuat rekening BRI yang merupakan salah satu syarat internsip. Sepulang dari Pasar Minggu, ketika turun di stasiun Bogor saya ingin mencoba naik angkot kecil bukan naik travel untuk ke Cigombong. Jadilah saya naik angkot biru (ongkos 2.500) menuju Sukasari, lalu lanjut naik angkot Cicurug (ongkos 7.500) yang kebetulan juga berwarna biru. “Punten a’, kalo mau kearah Cigombong abdi naik angkot mana a’?” Tanya saya, “Naik angkot depan aja teh, angkot Cicurug”. Da sayapun bergegas, “Nuhun a’..”.

            Yap, saya naik angkot biru, tapi bukan yang berada tepat didepan angkot yang saya naikin tadi. Abisnya ngetem, pasti lama, jadi saya memilih untuk naik angkot yang berada di depannya dan langsung jalan. Saya kebagian kursi di depan, berdampingan ama aa sopirnya. Kaki saya lurusin, dan saya bersandar sambil memeluk tas. Sesekali mata saya terpejam dan kepala mengangguk-angguk. Ketika di Ciawi, saya agak heran karena arah angkot yang saya tumpangin ini malah menjauh dari arah Sukabumi, justru kearah Cisarua. Saya ga ambil pusing karena bisa jadi ini jalan alternatif saya pikir. Hingga diujung perjalanan angkot ini, saya baru sadar, ini daerah asing. Lalu saya nanya sama aa sopirnya, “a’, kalo saya mau ke Cigombong ntar turun dimana ya?”. Apa jawab sopir angkotnya, “wahh..teteh salah naik angkot, harusnya angkot Cicurug, kalo ini angkot Cibedug”. Jeng Jeng Jeng….dan angkot sudah menuju Tapos aja. Memang sih tempatnya indah, kayak bukit-bukit gitu. Beberapa terdapat resort tempat orang-orang berlibur. Namun saya tak cukup bisa menikmati pemandangan itu dengan baik, sebab saya teringat dengan pasien di klinik Al-Azhar pasti lama nunggu kalo saya pulang kesorean. Lalu saya kirim sms untuk kang Walid, buat kasih tahu kalo saya salah naik angkot. Apa coba jawabnya, “Ga apa-apa dok, anggap aja jalan-jalan..”. Dan senada banget dengan guyonan sopir angkot yang saya tumpangin, “Ga apa-apa teh, anggap aja teteh lagi jalan-jalan ke Tapos”. Haha, it’s unforgettable experience.


Perjalanan ke Baduy

            Setelah beberapa minggu jadi pemain tunggal di klinik Al-Azhar, ada rasa bosan mendera. Kebetulan saya mendapat tawaran dari temen buat ikut trip Bakrie Amanah ke Baduy hari Sabtu Minggu. Lalu saya minta izin buat ga jaga di Al-Azhar dua hari karena pengen banget ikut ke Baduy. Alhamdulillah, Kang Walid mengizinkan. Dan yaakk… kaki dokter Putri beneran sampe ke Baduy. Ulasan tentang Baduy saya tulis disini. Perjalanan singkat itu membuat saya mengenal orang-orang baru. Pak Wawan, Pak Har, Pak Didi, Pak Jufri, Asep, Mba Ria, Mba Tuti, Mba Ida, Mba Riani, Mba Eko dan Mba Tri. How lucky I am to know them, and stay in Baduy for two days with them. Alhamdulillah, silaturahmi ini berlanjut. Pak Wawan mengajak kembali ke Baduy akhir September ini, dan saya senang sekali karena saya ingin menindaklanjuti satu pasien kemaren yang kakinya mengalami multiple abses. Selain itu, Pak Wawan juga mengajak trip ke Garut untuk bakti sosial di desa tertinggal awal Oktober mendatang. Aah, namun sayang sekali itu jadwal saya internsip.


Demikianlah Catatan Kaki Dokter Putri.
Petualangan ini terjadi karena galau menanti jadwal internsip yang seolah tak kunjung datang. Ternyata dengan bergerak dinamis sesuatu hal yang ditunggu menjadi seolah tak ditunggu, justru saya merasa…oh..saya sudah harus internsip ya, padahal sebelumnya, kapaaaaan saya internsip, haha. Seperti yang saya tulis diawal bahwa,

“Bergeraklah walau semili, itu lebih baik daripada menanti pergerakan yang kencang namun tak kunjung datang”.
Andwilika Putri