Kamis, 10 April 2014

Keajaiban Lian Puri



“Maaf, ada panggilan masuk. Sebentar ya..” Ujar suara dari seberang

Aku mengangguk. 

Perbincangan ringan yang telah beralangsung 52 menit 16 detik itu harus terhenti seketika. Nada sibuk khas sang provider terdengar sumbang dari earphone. Aku melepas salah satu earphone yang tadi menempel di liang telinga kiri ku. Sembari menunggu panggilan tadi masuk lagi, aku meraih buku bacaan yang kemarin aku pinjam dari sahabat kecil, Your Job is not Your Career. Aku melanjutkan bacaan ku. 

Nada sibuk ala sang provider cukup mengganggu konsentrasi ku. Aku melirik durasi panggilan yang tertera di layar handphone, 1 jam 4 menit 8 detik. Sempat terpikir untuk menekan tombol akhiri panggilan, namun niat itu aku urungkan. Mengapa? Ah, sebut saja ini keajaiban pertama. Aku melanjutkan bacaan ku lagi. Hingga di durasi panggilan 1 jam 28 menit 17 detik, nada sibuk ala sang provider mendadak berubah. Sempat hening sejenak, lalu terdengar suara seorang lelaki dewasa dari seberang.  Suara yang asing bagiku, namun gaya berbicara yang justru terasa tidak asing bagiku. 

Aku terdiam sejenak. Tangan ku meraih earphone yang tadi aku lepas. Sekarang kedua earphone terpasang mantap di kedua liang telinga ku. Aku mendengar kata demi kata. Lalu suara lain lagi terdengar. Suara lelaki muda yang jelas tadi berbincang denganku. Aku seolah mendengar perbincangan antara dua lelaki yang gaya berbicaranya nyaris sama. Yang membedakan hanya, suara kebijakan, dari salah satu suara itu terluncur kalimat-kalimat bijak, nasihat tanda kasih sayang. Ada apa ini? Apakah aku terjebak dalam perbincangan antara ayah dan anak? Ah, sebut saja ini keajaiban kedua. 

Tidak bisa dipungkiri, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Jelas saja, dalam perbincangan mereka, sesekali ada namaku disebut. Hipotesisku, telah terjadi kesalahan teknis atau mungkin sebuah ketidaksengajaan. Lawan bicara ku yang pertama tadi tanpa sadar menekan tombol conference. Mengapa bisa terjadi? Ah, sebut saja ini keajaiban ketiga.

“Ayah, ini sudah terhubung dengan Puri. Ayah bisa ngobrol langsung dengan dia.” Ujar Lian dari seberang.

Ups..aku mendadak panik. Benar. Ini memang keajaiban. Keajaiban yang diusahakan. Siapa yang merencanakan? Siapa lagi kalau bukan Lian, yang pandai membuat aku takjub. Aku yang tadi terdiam, sempat melamun beberapa saat terhanyut dengan perbincangan mereka tiba-tiba mendadak kikuk.

Aku berusaha menenangkan diri. Setidaknya membantuku agar tidak menjadi semakin kikuk. Aku hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit saja untuk mengatur irama nafas, termasuk detak jantung agar kembali normal. Ada apa ini? Ah, sebut saja ini keajaiban keempat.

Suara orang ketiga itu adalah suara ayah Lian. Awal perbincangan yang manis. Sederhana namun mendalam. Ayah Lian becerita sekilas tentang Lian semasa kecil. Tentang diri Lian yang sebenarnya sudah banyak diceritakannya sendiri namun kali ini Ayah yang menegaskannya. Aku senang mendengarnya.

Hal ini sungguh keajaiban. Ah, sebut saja ini keajaiban kelima. Aku dan Ayah berada di kota yang sama, namun berbincang via telepon dengan diperantarai Lian yang justru berada di seberang pulau.        

“Puri, Ayah sudah mengenalmu sejak dulu. Namamu tidak asing. Bahkan Ayah pernah melihatmu menjadi pemandu acara perpisahan angkatan I”, suara Ayah terdengar semakin tajam.

Aku tersanjung. Ternyata Ayah Lian telah mengenal ku sejak remaja. Saat ini, usiaku menginjak usia dewasa muda. Dipertemukan kembali dengan Lian dengan cerita yang berbeda. Apakah sebenarnya maksud dari semua ini? Apakah ini juga keajaiban? Ah, dengan berbesar hati aku menyebutnya ini keajaiban. Ya, keajaiban yang luar biasa. Namun, aku tidak akan memberi label angka.  Sebab pertemuan ini adalah induk dari semua keajaiban.  

Ayah Lian mengungkapkan bahwa seorang Lian membutuhkan “Panitia Pengarah”. Istilah yang sontak membuat aku dan Lian tertawa. Istilah yang sederhana namun memberi pemahaman yang lebih. Terakhir, ayah berpesan bahwa segala sesuatu itu tergantung niat awalnya. Jikalau niat kita baik, maka semua harapan-harapan baik itulah yang menjadi tujuan.

“Untuk Lian dan Puri, semakin munajatkan doa kalian, semangat untuk saling mengisi itu juga semakin diperkokoh…”

“Iya Ayah….”
***

Dalam hidup ini, ada waktu kita diberi amanah. Istilah boleh jadi kiasan, namun dibalik itu tersimpan pemahaman yang lebih. Ini tentang bagaimana senantiasa tulus mengingatkan ketika lupa, menemani ketika sepi, mengobati ketika luka, menenangkan ketika resah, dan bersinergi meraih semua mimpi.

Puri, Mengapa kau menuliskan ini?
Aku hanya takut keajaiban-keajaiban ini tersapu oleh debu, hilang diterpa angin….

Selasa, 18 Maret 2014

Berburu Anak-anak

Selamat Pagi!
Apakabar kalian hari ini? Semoga senantiasa baik dan diisi dengan rasa bersyukur. Bukankah dengan kita bersyukur, Sang Pemilik Bumi dan Langit akan menambahkan nikmatNya lagi dan lagi di esok hari. Sekedar ingin menumpahkan cerita satu hari ini. Boleh jadi cerita saya tentang hari ini tidak begitu bermakna. Tapi siapa yang menjamin kalau ternyata ada insan-insan yang merasa ditemani dengan adanya tulisan ini. Insan-insan yang menghabiskan waktunya seharian penuh di balik tumpukan kertas, di gedung pencakar langit, atau yang menghabiskan harinya di tengah pekatnya polusi ibukota, atau yang tengah menghadapi peliknya masalah kehidupan sehingga untuk bernafas terasa begitu sesak, atau juga yang berada di sudut pulau ditemani oleh sekelompok nyamuk-nyamuk nakal. Ketika menutup satu hari ini,  menyempatkan mengintip blog ini guna mencari tahu apakah ada tulisan terbaru. Haha, saya ke-PD-an ya. Bukan, sungguh bukan saya ke-PD-an. Saya berpikir demikian karena menurut saya setiap orang berpeluang untuk terdampar disini. Siapapun, dari suku manapun dan kapanpun. Oleh karena itu, jika ada yang bisa dipetik dari setiap tulisan di blog ini alhamdulillaah, jika tidak pun tidak mengapa. Saya selalu yakin bahwa selalu ada alasan mengapa Allah membuat jemari kalian untuk membuka laman ini baik sengaja maupun tidak sengaja. Walau tidak cukup menginspirasi minimal bisa menemani. Iya, menemani.

‘’Menulislah jika tulisanmu mampu mengubah. Menulislah jika tulisanmu mampu memberi. Jika tidak keduanya, maka tetap menulislah, karena boleh jadi tulisanmu dapat menemani.’’

                Hey, hari ini seolah membayar janji yang telah lama menggantung, janji yang ditunggu guna membantu teman sejawat. Iya, hutang janji itu adalah menemani teman saya yang bernama Rivemi Gusyanti (Koas Gigi paling kece) mencari pasien gigi. Kali ini edisi pasien anak-anak. Mungkin muka saya lebih mirip pawang anak-anak, jadilah siang tadi kami isi dengan berburu anak-anak di kawasan kosan saya.

                Kami awali dengan makan siang bersama. Selain guna mengisi energi, momen makan siang juga diisi dengan cerita hana hene. Memang dasarnya tukang cerita dan masing-masing kami tempat menumpahkan cerita satu sama lain. Jadi kalau sudah lama tak jumpa, entah ada berapa chapter yang rasanya sudah ketinggalan cerita,haha. Selesai makan siang kami langsung bergegas beranjak menuju lapangan hijau kecil tepat di samping kosan saya. Ahhaa, mata kami berbinar-binar. Kami mendapati beberapa anak yang tengah asik bermain. Kami akan mengusik permainan mereka. Kami ganti dengan pemeriksaan gigi sederhana oleh Vemi. Kedatangan kami mengejutkan mereka. Beberapa ada yang tampak semangat namun beberapa lainnya malah takut dan menolak untuk diperiksa.

                Tingkah anak-anak selalu dan selalu menarik. Ada yang sudah menyatakan takut dan tidak mau diperiksa namun sekejap keputusannya berubah melihat ada temannya yang berani diperiksa. Iyaa..bisa dibilang mereka tidak mau kalah. Dengan gesit Vemi mencatat nama, usia dan temuan pemeriksaan. Setelah semua anak sudah diperiksa, kami melanjutkan aksi berikutnya. Apakah itu? Tentunya menemui orang tua mereka untuk minta izin apakah boleh dilakukan pengobatan. Alhamdulillaah semua orang tua yang kami temui selalu bersedia memberikan izin anaknya untuk diberi perawatan. Si Vemi melakukan aksi negosiasi jadwal. Ada anak yang tidak bisa memenuhi jadwal yang Vemi tawarkan karena bertabrakan dengan jadwal sekolah si anak. Apa boleh buat, tidak jodoh namanya.

                Perburuan anak-anak ini kami lanjutkan lagi dengan dipandu oleh seorang gadis kecil dan pemuda kecil. Mereka adalah Cinta dan Ridho. Lucu sekali, dipandu mereka kami mengunjungi dari rumah ke rumah. Menanyakan apakah ada anak kecil usia TK atau SD. Khususnya yang ada keluhan sakit gigi. Ajaibnya Cinta dan Ridho hafal semua rumah yang isinya ada anak-anak dan memaksa kami mengunjungi setiap rumah itu walaupun kondisi rumah tertutup. Satu hal yang kami (saya dan Vemi) pahami bahwa energi anak-anak itu jauh lebih besar daripada kami. Buktinya kami ngos-ngosan ngikutin setiap langkah Cinta dan Ridho. Memasuki setiap lorong-lorong dan mengetuk pintu-pintu. Haha, kalau kalian mendapati dua orang gadis yang keliling kampung. Mohon buka pintunya. Jangan takut, dua gadis itu bukan mau minta sumbangan kok. Hanya ingin menanyakan apakah ada anak kecil yang punya keluhan sakit gigi,hahaha.

                Mengingat hari semakin sore. Matahari juga sudah mau undur diri. Kamipun memutuskan untuk mengakhiri perburuan kami. Padahal si dua bocah masih semangat mengajak kami keliling-keliling. Masih banyak rumah yang belum dikunjungin katanya.Haha, semoga lain waktu kita bisa melanjutkan pencarian ya. Alhamdulillaah, Vemi sudah mengantongi beberapa nama. Esok hari jika jadwalnya cocok, anak-anak itu sudah bisa dibawa ke Rumah sakit Khusus Gigi dan Mulut yang letaknya tidak jauh dari kosan saya.

Ayuk Vemi lagi periksa gigi ^^


Hai..nama saya Kiki, sekolah TK, berani sama dokter gigi!


Saya Ridho, bocah paling ganteng sejagat rayaaaa

Hiks..Saya Cinta, saya takut periksa gigi. Gimanaaa dong T_______T

lalalalalala....kami mau mengaji ayukkk.... ^^



Ciyeeeee....berangkat ngaji bareng euy...wkwk


HUAHAHAHAHA...itu si Kiki sampe ngepor!


Hayoooo...semua unjuk gigi!


                Pesan konyol dari tulisan ini adalah tolong amankan anak anda. Jangan biarkan mereka main sendirian di lapangan terbuka. Anak-anak tersebut berpotensi terjaring dalam perburuan kami,hihihihi.

                Pesan moral dari tulisan ini adalah aksi kecil-kecilan ini semoga bermanfaat buat si anak dan si Vemi. Buat anak-anak, ya giginya bisa lebih sehat terus belajarnya produktif terus prestasinya bagus terus proses pendidikannya lancar dan bisa mencapai cita-cita sesuai harapan. Buat si Vemi, ya semoga jadi dokter gigi yang bermanfaat. Selalu inget ya Vem, bahwa kamu akan jadi dokter gigi yang hebat nanti. Ajaibnya ilmu itu bersumber dari gigi manusia-manusia kecil yang kita temuin hari ini.



Sukabangun, 18 Maret 2014
Di sudut kamar Kosan Cinta 
               

                 

Senin, 10 Maret 2014

Sore Bersama Jasmine



Ketika matahari sudah mulai meredupkan cahayanya, aku teringat tentang sebuah janji. Iya, aku memiliki janji untuk mengunjungi seorang sahabat. Sahabat lama ketika masih duduk di bangku SMA. Sebut saja si Jasmine. Lalu bersama Mela aku membeli sebuah kado dan diantar menuju ke rumah Jasmine. Setibanya di depan rumah Jasmine, aku mendapati sebuah tenda sudah terpasang. Dari bibir pintu aku lihat dekorasi rumah tengah dipasang. Lalu wajah Jasmine tampak bersinar dari kejauhan. Assalamualaikum….. ucapku. Waalaikum salam… Jasmine menjawab dengan senyum sumringah, ditambah ekspresi wajah terkejut, melihat aku sudah di depan rumahnya.

Jasmine mempersilahkan aku masuk. Aku sangat terkesima melihat pelaminan sederhana di dalam rumahnya. Akupun dipersilahkan duduk di ruang tengah. Kurang dari sepuluh menit aku duduk, Jasmine memanggilku. Aku diajak masuk ke kamarnya. Subhanallah, ini sebuah kamar sederhana namun istimewa. Betapa tidak, aku menikmati kesederhanaan dalam kamar Jasmine. Dengan nuansa abu-abu lembut diselingi kuning keemasan. Iya, inilah surga dunia bagi Jasmine. Hadiah terindah bagi yang berbuka puasa. Aku benar-benar jatuh hati….

Aku dan Jasmine saling bertatap muka. Saling menunjukkan wajah bahagia. Setidaknya hari ini, Allah memberikan kami kesempatan untuk bersua, berbagi cerita dan tertawa bersama. Sore yang mengesankan, aku mendengar kisah pertemuan Jasmine dengan calon suaminya. Hanya bertemu satu kali, dilanjutkan dengan lamaran dan hingga hari pernikahan barulah Jasmine berjumpa lagi dengan suaminya. Subhanallah, aku selalu percaya bahwa Allah memiliki cara terbaik bagi dua insan yang berniat baik menyempurnakan separuh agamanya.

Tiba-tiba di sudut kamar aku mendapati sebuah papan yang bertuliskan sebuah doa. Aku penasaran, lalu aku bertanya untuk apa papan itu. Jasmine menjelaskan bahwa papan itu tertulis doa untuk pengantin, yang nanti akan di letakkan tepat di muka rumah. Setiap tamu yang datang, ketika membaca papan itu maka terucap doa untuk Jasmine dan suaminya. Sungguh, yang menjadi harapan dari kedatangan para tamu tidak lain tidak bukan, lantunan doa yang tulus. Tanpa aku sadari mataku berkaca-kaca.

Hari semakin sore, bahkan matahari sudah hendak bersembunyi di balik kaki langit. Dipenghujung perjumpaan kami, Jasmine mengatakan bahwa Ia sangat bahagia atas kedatanganku sore  itu, lalu bertanya mengapa aku segitunya ingin berjumpa dengannya. Dengan senyum termanis tingkat dewa, aku menjawab pertanyaannya, tentu karena aku  tahu setelah menikah Jasmine pasti akan turut suami dan entah kapan kami punya kesempatan untuk berjumpa.  Lalu aku izin pulang. Perjumpaan sore itu ditutup dengan pelukan hangat antara dua sahabat.

Allah selalu punya penjelasan mengapa menggerakkan aku untuk mengunjungi Jasmine sore itu. Sepulang dari rumah Jasmine, seolah mendapatkan materi pelajaran baru dan aku mencoba untuk merangkai intisari dari materi pelajaran itu.

“Bahwa Allah maha baik, yang senantiasa menjawab permintaan hambaNya dengan cara terbaikNya. Bahwa tentang sebuah pernikahan adalah bersatunya dua insan yang didekatkan karena Allah. Bahwa tentang sebuah perayaan pernikahan adalah ketika orang-orang dengan tulus mendoakan, tulus mendoakan, dan tulus mendoakan. Bahwa kesederhanaan yang ditujukan hanya karena Allah, membuat kita paham semua yang bergeser dari psrinsip dasar dapat melenakan, lupa bahwa itu hanya keindahan dunia dan penilaian manusia semata.”

Minggu, 09 Maret 2014

Kita adalah Guru dan Lingkungan adalah Sekolah




Saya adalah seseorang pecinta anak-anak. Bagi saya senyum anak-anak mampu melumpuhkan dunia #eaaaaa. Mungkin agak berlebihan namun memang demikian kenyataannya. Saya tertarik sekali mengamati tingkah anak-anak. Tingkah mereka beragam, aneh dan lucu. Setiap proses tumbuh kembangnya menyimpan misteri. Ibu adalah seseorang yang paling setia menunggu dan menerka-nerka misteri itu. Tapi tahukah kalian, dibalik misteri-misteri itu ada campur tangan kita. Ada campur tangan manusia seperti kita yang mungkin tidak sengaja memberi corak pada misteri itu. Penasaran apa yang saya maksud? Mari luangkan waktu sejenak, izinkan saya mengajak kalian yang kebetulan nyasar di blog saya dan tidak sengaja baca tulisan ini untuk berimajinasi.

Masihkah kalian ingat masa-masa kecil kalian? Saya rasa masih ya, karena memang pada dasarnya kita dibekali long term memory. Lain hal jika ada diantara kita yang doyan nari-nari di atas loteng terus jatuh, terus kepalanya kejedot, terus amnesia #abaikan. Nah, sebenarnya apa yang ada pada diri kita saat ini merupakan akumulasi waktu-waktu yang kita lewati sejak lahir hingga detik ini. Selain orang tua, keluarga, sahabat, dan guru-guru di sekolah, tentu ada manusia-manusia lain yang pernah tanpa sengaja terlihat oleh kita. Mungkin sempat berinteraksi atau bahkan hanya sekedar bertemu dalam hitungan detik. Tapi siapa yang menjamin pertemuan yang hanya hitungan detik itu ternyata ada ‘sesuatu’. Ternyata Allah menitipkan ‘sesuatu’ itu yang ditransfer kepada kita, yang kita bawa hingga saat ini. Dalam hal ini ‘sesuatu’ itu memiliki banyak arti.

Baiklah, akan lebih asik kalau kita ambil contoh ya. Misalnya, seseorang anak laki-laki usia 7 tahun berdiri di depan pagar sekolah menanti bundanya menjemputnya. Sembari menunggu sang bunda yang belum datang, si anak menunggu sambil mengamati jalanan di depan pagar sekolah. Ternyata tepat di seberang pagar ada nenek yang mau menyebrang. Lalu seorang manusia entah siapa saja dari mana saja berkenan menyebrangkan nenek tersebut. Momen itu hanya terjadi lebih kurang tujuh belas detik. Ya, si anak melihat namun sebatas melihat. Beberapa tahun kemudian ketika si anak dalam kondisi yang sama dengan manusia tadi, bisa jadi si anak melakukan hal yang sama yakni menyebrangkan nenek tua. Boleh jadi hal ini tidak ia dapatkan dari orang tua, saudara, teman-teman, dan guru-guru di sekolah. Tapi ia dapatkan dari seorang manusia yang entah siapa dan darimana.

‘Sesuatu’ yang saya maksud dapat berupa banyak hal. Contoh yang paling sederhana saja, senyuman. Kalau kita membiasakan tersenyum kepada anak-anak. Entah berapa persen, namun pasti ada, saya yakin ada. Tertanam dipikiran mereka juga untuk tersenyum. Contoh lain untuk hal negatif, misalnya ada seorang pemuda merokok di depan anak-anak, aduhai saya sangat mencemaskan hal ini. Anak-anak akan melihat, mengamati dan menangkapnya sebagai suatu hal yang baik-baik saja untuk mereka lakukan. Oleh karena itu untuk seluruh kaum perokok, sah-sah saja jika kalian ingin merokok tapi mohon jangan di depan anak-anak ya. Please….

Ada banyak hal ‘sesuatu’ itu. Setelah saya gambarkan contoh sederhana di atas mungkin kalian sudah punya gambaran sesuatu-sesuatu yang lain versi kalian,hehe. Nah, oleh karena itulah tanpa kita sadari kita semua adalah guru untuk semua anak-anak yang pernah bertemu dengan kita dan lingkungan adalah sekolahnya. Mungkin kita belum jadi guru yang cukup baik namun kita selalu bisa mengusahakan untuk tidak menjadikan anak-anak di sekitar kita menjadi lebih buruk.

Adakah diantara kalian yang bertanya, mengapa saya hanya menyoroti anak-anak? Toh segala contoh kebaikan atau keburukan yang ditangkap baik oleh manusia dewasa atau manusia usia anak-anak sama saja. Sama-sama berpotensi menginspirasi mereka. Namun saya pribadi dan mungkin milyaran seisi negeri ini, berharap dari anak-anak. Iya anak-anak. Jikalau di gedung KPK orang-orang sedang memproses ratusan kasus korupsi yang diperbuat oleh manusia dewasa. Ya sudahlah, kita masih punya manusia-manusia kecil, yang isi kepalanya dan isi hatinya kita ajarkan hal-hal baik dan pemahaman baik.

Saya berharap tulisan ini tidak sengaja dibaca oleh anak-anak usia muda yang mungkin baru belajar baca. Saya sangat bahagia jikalau hari ini mereka hanya membaca namun belum paham, karena pemahaman itu tidak selalu datang pada saat itu juga. Bisa jadi duluan, bisa jadi saat itu, bisa jadi beberapa waktu kemudian, atau bisa jadi tidak akan datang sama sekali. Semua itu sudah ada pengaturannya. Allah selalu mempunyai alasan mengapa begini mengapa begitu.

Tulisan sederhana ini bertujuan membuka mata hati bukan mata kaki, bahwa ternyata kita semua adalah guru dan lingkungan kita adalah sekolah bagi anak-anak di sekitar kita.






Kamis, 30 Januari 2014

Reuni Kecil


            Beberapa hari lalu, di sebuah resepsi pernikahan temen SMA, saya dan beberapa teman seangkatan menghadiri acara tersebut. Bahagia rasanya bisa melihat wajah-wajah lama yang dulu menghiasi masa-masa SMA. Ketawa dan bercanda menjadi bumbu di hari itu. Satu sama lain saling menanyakan kabar. Ahh, ada yang banyak berubah, ada yang sedikit berubah dan ada yang tidak berubah sama sekali. Kalo dulu lucu, ternyata masih ada yang lucunya sampai sekarang, nggak nyisa-nyisa, hehe.  Nah, kira-kira temen-temen memandang saya sendiri gimana ya? Haha. 

“Hidup kita ini seperti film ya, yang kita jalani setiap hari adalah adegan-adegannya. Lalu, orang-orang di sekitar kita adalah juga pemeran filmnya. Lucunya,  kita tidak tahu yang kita mainkan hari ini masih awal cerita, tengah-tengah atau sudah di penghujung film. Yang sebaiknya kita pahami bahwa mainkan film kehidupan kita dengan sebaik-baiknya. Sehingga kita adalah aktor/aktris terbaik untuk film kehidupan kita.”

Seolah memutar sebuah film, masa SMA bisa disebut salah satu scene cerita. Nah, pernikahan salah satu teman ini juga menjadi salah satu adegan. Saya agak merasa aneh tapi ya beginilah suasana sekarang. Perbincangan tidak seperti dulu lagi. Kalo dulu mungkin yang ditanya, “eh..gimana soal UHB kita ya?” atau “Buku kemajuan kelas kita kok nggak ada di kelas?” atau “hey, pinjem topi dong buat apel pagi, aku takut kena hukum.” Nah yang sekarang, “kerja dimana? Kapan mau nyebar undangan?”. Bahkan beberapa teman yang sudah datang bersama pasangannya. Lalu semacam nyusun waiting list, “nanti Maret dateng ya ke nikahan aku” ada juga, “aku pertengahan tahun ini ya..” dan ada juga “aku insyaAllah akhir tahun ini”. Mungkin bagi sebagian teman yang lain, ini hal yang lumrah, toh memangnya prosedurnya begitu. Selesai SMA lanjut kuliah. Selesai kuliah lanjut kerja. Setelah itu menikah dan bla bla bla. Rata-rata temen seangkatan sudah pada kerja, jadi fase yang mereka lewati sedikit lebih cepet dibanding saya, hehe. Ketika mereka lulus sarjana, saya juga lulus sarjana. Ketika mereka kerja, eh saya lanjut kepaniteraan klinik. Ketika mereka sudah pada merancang pernikahan, saya baru selesai koas. Ketika mereka sudah menikah, saya masih lanjut internship. Bisa jadi tahun depan waktu ketemu lagi, sudah rame yang panggil saya, “tanteee Andwi”, hihihi lucunyaaaa. Pastinya topik pembicaraan beda lagi. Nanti akan jadi begini nih, ”anak kamu sudah berapa usianya? Sekarang sudah bisa apa? Apa susu formulanya?” hihihi. Dan saya yang bakal sibuk berkoar-koar untuk temen-temen yang cewek, “temen-temen walau sibuk jangan lupa ASI Eksklusif ya…”. Nah kalo buat temen yang cowok saya bakal bilang, “temen-temen, kalian harus jadi Papa pendukung ASI yaa..”. Terus mereka bakal nanya balik, ”gimana caranya Andwi?” nah untuk yang ini saya agak harus lebih cerdas sekarang menjelaskan karena temen-temen cowok angkatan 3 pasti semakin kreatif.  

Lalu sepulang dari acara tersebut saya pulang bersama Cecep dan Puja. Sempet mampir ke rumah Cecep dan ngobrol-ngobrol. Mengingat Puja harus cepet pulang jadilah kami pamit pulang.  (FYI sebenernya Cecep dan saya masih pengen ngobrol panjang, berhubung saya kan nebeng sama Puja jadi manut aja, haha).

Dasar memang berjodoh, obrolan kami berlanjut lagi malam harinya. Saya mau balik ke Palembang dan Cecep juga mau ke Palembang. Berhubung saya dianter oleh bapak, jadi Cecep bisa ikut. Hey, jadilah kami punya waktu panjang buat ngobrol sepanjang perjalanan.  

Uhuk..Uhuk..ini obrolan dua perempuan dewasa muda ya. Dulu terakhir ketemu dan bisa cerita panjang lebar dari AAA sampai ZZEETT tahun 2009. Lalu kini ada kesempatan lagi 2014. Waw..Waw..Waw..ada selang lima tahun yaa. Ceritanya kita ngobrolin apa saja, dari yang ‘nggak penting-penting amat’ sampai yang ‘amat-amat penting’. Lumayan mengisi waktu tiga jam perjalanan. Saya selalu tertarik mendengarkan pengalaman seseorang, nah dengan ketemu begini kan setidaknya saya mendapat cerita dan seolah masuk di hidup seseorang. Begitu juga sebaliknya saya cerita banyak hal. Yang paling menarik adalah ketika kita sharing. Untuk kapasitas saya yang banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, merawat orang sakit dan berkumpul dengan teman-teman seprofesi. Tentu, dunia yang saya hadapi itu-itu saja. Nah dengan ngobrol sama temen seperti ini yang punya dunia di luar dunia saya, tentu menjadi hal yang sangat menarik, seperti angin segar buat saya, hehe *lebay!.

Cecep yang merupakan lulusan Teknik Industri  salah satu perguruan tinggi di Bandung bercerita banyak hal. Saya sangat tertarik, saya mengatakan kepada Cecep, ada satu ilmu yang sangat saya suka di Teknik Industri yaitu Ergonomi. Well, ketika stase IKM-IKK saya dan teman-teman kunjungan ke suatu perusahaan beras. Topik yang kita pelajari adalah keselamatan kerja. Disinilah saya mengenal ilmu Ergonomi. Segitunya saya tertarik sampai-sampai saya browsing di internet dari mata kuliah anak TI, lalu memahami ilmu ini. Ternyata kalo saya sudah tertarik sebegituya yaa, hehe.  Begitu juga sebaliknya, Cecep juga harus banyak baca untuk masalah penyakit dan kesehatan. Jadi kalo berobat sama dokter, ada banyak hal yang bisa dikritisi. Kan sebagai dokter jadi lebih enak. Komunikasi dokter-pasien lebih santai, pasiennya pinter-pinter, tidak perlu banyak menjelaskan tapi hanya meluruskan, hehe.

“Belajar itu bukan hanya tentang apa keilmuan yang tengah kita geluti, tetapi tentang apasaja yang ingin kita pahami, sehingga membuat kita berusaha mencari tahu dan mau mempelajari. Itulah belajar, makna yang paling hakiki”

Menjelang tengah malam, kami tiba di Palembang. Cecep langsung diantar ke kosannya. Perpisahan kami ditutup dengan aksi buka pager yang nggak kebuka-buka padahal jelas-jelas emang nggak dikunci, haha. Tepat pukul enol enol saya sampai di kosan saya. Ahh, capeeeekk. Tapi senangnya, hari ini akan saya namai dengan “Reuni Kecil”.

***
Mengapa saya namai tulisan ini “Reuni Kecil” ? emang begitu, reuni dalam skala kecil-kecilan, hehe. Apapun bentuknya, meski cuma sekedar duduk bersampingan di angkot, ketemu nggak sengaja sama temen lama dan cuma berdurasi lima menit. Tapi dalam lima menit itu, kita bisa dapet satu-dua-tiga hal, lebih untung kalo banyak hal. Hebatnya, hal-hal ini akan memberi  energi baru. Sungguh merugi jika setiap momen yang kita lewati, kita lupa menelaahnya dan menjadikannya energi baru.

Terkadang kita terkungkung dengan kondisi. Lebih memilih bersembunyi. Hanya karena kondisi kita sedang ‘tidak benar-benar baik’ berdasarkan definisi kita sendiri, kita jadi memilih berdiam dan menjauh. Hey, seorang teman tidak menjadikan ukuran kondisi atas definisi perorangan. Seorang teman (sejati) selalu ingin memastikan bahwa temannya  ada.

”You don’t lose friends, because real friends can never be lost. You lose people masquerading as friends, and you are better for it.”
-Mandy Hale-





***

Dalam tulisan ini ada dua nama teman yang saya tulis: Cecep dan Puja. Sekilas kalian (yang bukan anak SMA saya) pasti mikirnya Cecep itu cowok dan Puja itu cewek, hehe. Siapa yang mikirnya gitu angkat kaki hayooo...haha. Salah! yang bener itu kebalikannya, Cecep adalah Septiyah Giyanti, yang namanya saya abadikan di seorang bayi yang proses kelahirannya saya bantu waktu stase Obgyn, hehe. Dulu waktu saya ke Bandung thn 2010, pernah saya dimarah oom saya, karena bilang mau diajak Cecep jalan. Dikira cowok padahal cewek, haha. Nah, kalo Puja lengkapnya Alfindra Purja. Saya juga aneh kok dipanggil Puja, hehe.