Kamis, 28 Juli 2011

Ayahku (Bukan) Pembohong

Judul          : Ayahku (Bukan) Pembohong
Pengarang  : Tere Liye
Jumlah hal : 304 halaman
Harga         : Rp 45.000


“Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?
Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.
Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.”

Novel ini bercerita tentang seorang ayah yang mendidik anaknya, Dam dengan berbagai cerita, hal-hal yang pernah dialami sang ayah, orang-orang yang pernah berjumpa dengan sang ayah. Tanpa disadari Dam tumbuh dewasa dan  berkarakter atas pengaruh dari cerita-cerita sang ayah.

Banyak hal yang diceritakan sang Ayah, dari mulai si Raja Tidur seorang hakim dan ahli ilmu kedokteran yang arif, Penguasa Angin yang cerdas, Kapten bintang lapangan yang masa kecilnya sangat gigih, dan banyak cerita lainnya yang menjadi sumber inspirasi Dam. Namun cerita-cerita ini membuat Dam membenci sang Ayah, terutama atas kematian ibunya. Dam berjanji tidak akan mendidik anaknya seperti ayahnya mendidik dirinya semasa kecil dengan cerita-cerita bohong.

Namun memang, kita akan merasa kehilangan seseorang dan menyesal ketika orang itu sudah tidak lagi disisi kita. Begitu pula dengan Dam, dia mengetahui bahwa ayahnya bukan pembohong setelah ayahnya meninggal dunia. Padahal setiap cerita yang disampaikan ayahnya kepada Dam adalah bentuk hiburan, hadiah, dan pendidikan yang diberikan seorang ayah untuk anaknya, karena memang sang ayah tidak membiasakan Dam dididik dengan hidup yang mewah, hadiah berlimpah, namun sebaliknya dari setiap cerita ayahnya mengajarkan kesederhanaan, perjuangan, kegigihan, dan kebaikan-kebaikan yang tanpa disadari Dam itu telah melekat erat dengan pribadinya.

Saya sebagai pembaca sekedar ingin berbagi, buku ini bagus dibaca bagi kalian calon ayah. Saya sendiri walau cewe, sempet mikir bagaimana pola saya mendidik anak-anak saya kelak. Tapi yang paling penting bagaimana menjadikan diri kita sebagai orang yang bijaksana, sederhana, gigih, dan mampu mengajarkan arti hidup. Jadi, kita yang bakal jadi orang tua, mempunyai modal yang baik untuk mendidik anak-anak kita nanti.  

Selain ceritanya yang mengharukan, bisa buat kita netesin air mata, novel ini juga memiliki keunikan tersendiri. Setiap kisah yang diceritakan antara nyata dan ga nyata, antara logis dan ga logis, antara mungkin dan ga mungkin, antara yakin dan ga yakin, bahkan saya setelah membaca novel ini antara percaya dan ga percaya apakah saya benar-benar membaca novel ini, apakah saya benar-benar telah membaca sebuah novel. Keragu-raguan ini sempet buat saya berburuk sangka kalo sang ayah memang pembohong, tapi keragu-raguan inilah yang membuat novel ini unik, dan banyak makna tersirat dibalik kisahnya.

Saya hanya ingin mengingatkan...selagi ada waktu coba luangkan waktu untuk berbicara dari hati ke hati dengan ayah..coba ringankan tangan untuk memeluk erat ayah.. seorang ayah boleh jadi tidak pernah mengungkapkan betapa beliau menyayangi kita karena lelaki diciptakan cenderung kaku dan dingin namun jauh dilubuk hatinya beliau ingin dipeluk anaknya, buah hatinya.. terkhusus anak laki-lakinya, sosok yang dibanggakannya, sosok yang akan menggantikan dirinya... ^^

Dan saya mau bilang makasih untuk sahabat saya.. novel ini KEREN !!! Makasih yaa... *__*

“Hakikat kebahagiaan itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagian sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, nasib buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan. ”