Minggu, 08 Februari 2015

Cinta dan Persahabatan





“Iya.. karena kami pernah belajar bersama, bermain bersama, dan…. bercinta bersama”, Ucap seorang perempuan bertubuh mungil, di hadapan ribuan pasang mata. Di ujung acara dari pernikahan seorang sahabat. 

“Sahabat kami yang pertama kali memegang piala ini, kami persilahkan menyerahkan piala kepada sahabat yang hari ini berbahagia…”, tambahnya lagi. 

Salah seorang sahabat menuju kearah singgasana raja dan ratu sehari. Menyerahkan piala tanda kebahagiaan itu. Dan mataku berkaca-kaca. Aku amat bahagia. Hingga hari ini sudah dua dari sebelas keanggotaan GMC yang sudah menemukan dan menjemput janji masa depannya. Namun ada cerita spesial dibalik ini semua. Lalu bagaimana cara untuk menceritakannya? Dan kepada siapa aku ingin menceritakannya? Ah, dua tiga tahun silam boleh jadi ini kisah yang mengiris hati, tapi aku yakin. Nanti setelah kita tua, kisah ini hanya akan jadi lelucon. Dan bangganya, aku orang yang dipercaya untuk mengisahkannya. 

Teruntuk dua sahabatku. Aku senantiasa mendoakan, semoga segera, dari rahim kalian akan hadir GMC junior. Anak kalian akan aku sayangi seperti anakku sendiri. Dan izinkan aku berbagi cerita kepada mereka, tentang kisah cinta yang tidak sempurna, para ibunya, yang dulu pernah jatuh cinta namun memilih menyembunyikannya agar tidak saling menyakiti :)

Nak, sebut saja ibu kalian adalah ibu Rosa dan ibu Jasmin. Oh ya, kalian bisa memanggilku, Ibu Putri. Ada satu hal di dunia ini yang kehadirannya tidak bisa diajak kompromi, ditawar ataupun ditolak. Apa itu, nak? Itu adalah perasaan jatuh cinta. Kita tidak pernah bisa merencanakan kepada siapa kita akan jatuh cinta. Perasaan itu tumbuh dengan sendirinya tanpa kompromi. Ah, ini bukan topik terlalu berat untuk kita bincangkan bukan?. Kalian akan jadi generasi GMC yang kaya akan pemahaman, termasuk tentang cinta. Makanya kisah ini semoga menjadi salah satu yang memperkaya pemahaman kalian. Kembali lagi tentang jatuh cinta tadi. Hal yang bisa kita lakukan menanggapi perasaan itu hanyalah, menerima. Iya, menerima perasaan itu dengan tulus. 

Namun, apa jadinya jika perasaan itu harus jatuh kepada sahabat sendiri?. Apa akan tetap kuat menerima perasaan itu terus tumbuh dan menjadi-jadi. Atau akan dihujam, dipangkas tanpa bekas. Kali ini bukan sekedar perasaan, tapi jatuhnya perasaan itu kepada sahabat sendiri. Dan itu terjadi pada ibu kalian. Ibu Rosa dan Ibu Jasmin. 

Ajaibnya, Ibu Rosa dan Ibu Jasmin jatuh cinta kepada lelaki yang sama. Namun masing-masing dari mereka tidak saling mengetahui. Juga tidak berniat saling memberitahu. Karena pemahaman ibu kalian sama, walau di kepala yang berbeda. Tentang bagaimana menjaga persahabatan. Lalu bagaimana Ibu Putri tahu akan hal ini. Apakah Ibu Rosa dan Ibu Jasmin menceritakan isi hatinya secara lugas? Jawabannya, tidak.

Ibu Putri sering mendapati pandangan mata yang berbeda dari Ibu Rosa dan Ibu Jasmin kepada lelaki itu. Pernah suatu ketika tangan lelaki itu terluka, lalu tanpa disadari Ibu Rosa dan Ibu Jasmin meraih tangan lelaki itu secara bersamaan, untuk mengobati luka itu. Namun, Ibu Rosa kalah cepat. Ibu Jasmin yang lebih dahulu membersihkan luka lelaki itu dan menutupnya dengan kain kasa. Apa yang dirasa Ibu Rosa? Ternyata Ibu Rosa merasa sedih dan sempat menangis. Di lain kesempatan, Ibu Jasmin juga pernah menangis. Menangis dengan dada yang begitu sesak. Siapa bilang jatuh cinta itu indah, nyatanya Ibu Rosa dan Ibu Jasmin menangis karena jatuh cinta. Di suatu malam akhirnya Ibu Rosa mencurahkan isi hatinya, tentang perasaannya, tentang ketidakmampuannya lagi untuk menahan perasaan jatuh cinta itu. Ibu Putri hanya bisa diam. Lalu, di lain momen, juga Ibu Jasmin menangis di hadapan Ibu Putri untuk hal yang sama. Mereka jatuh cinta kepada orang yang sama. Ibu Putri lah yang mengetahui hal ini. Ibu Putri tidak bisa berbuat banyak hal. Hanya menghibur dan banyak membahas topik lain di sela sela perbincangan  untuk mengalihkan perhatian agar ibu kalian tidak fokus  dengan perasaannya. 

Bahkan mungkin hingga hari ini, lelaki itu tidak pernah tahu. Betapa dua sahabat perempuannya pernah sangat jatuh cinta dan menangisi perasaannya itu. Akhirnya, Ibu Jasmin terhitung cepat berdamai dengan perasaannya. Ibu Jasmin kembali ceria. Ia sudah bisa mengabaikan perasaannya karena frekuensi pertemuan dengan lelaki itu semakin jarang. Berbeda hal dengan Ibu Rosa, perasaannya semakin kuat. Semakin dipangkas, semakin tumbuh dengan hebatnya. Setiap hari bersama dengan lelaki itu setiap hari pula membohongi diri sendiri. Ibu Putri sering mendapati Ibu Rosa menangis. Hingga akhirnya tangisannya terhenti, sangat sesak memang, tapi itu ujung dari kesedihannya. Lelaki itu sudah memiliki tambatan hati. Ibu Rosa memilih menghindar dan membuang perasaannya.

“Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya”
REFRAIN, saat Cinta Selalu Pulang. - Winna Effendy –

Terkadang, tak bisa dipungkiri, waktulah yang paling setia untuk mengobati. Hanyalah waktu yang menjawab. Selang beberapa bulan dari itu, Ibu Rosa diperkenalkan dengan seorang lelaki yang akhirnya menjadi teman hidupnya. Lalu Ibu Jasmin juga menemukan teman hidupnya dengan cara yang tak disangka. Berselang delapan bulan, tepatnya hari ini, Ibu Jasmin memenuhi janji sucinya. 

 Ibu kalian hebat. Mereka memilih jalan terbaiknya. Dan, karena pilihan terbaiknya itulah, hingga hari ini persahabatan itu tetap terjalin dengan manis. Ibu Rosa, Ibu Jasmin, Ibu Putri, lelaki itu dan anggota GMC lainnya masih bersahabat dengan baik hingga hari ini. Saling mengisi tawa ketika dekat dan saling merindu ketika jauh. 

Hey, apa kalian tidak penasaran dengan lelaki itu? Ah, sudahlah. Tutup rasa penasaran kalian. Bab itu tidak ada dalam kisah yang ingin Ibu Putri sampaikan. Tugas Ibu Putri hanyalah mengisahkan ini dan memberi pemahaman dibaliknya.  


Prabumulih, 08 Februari 2015 22;04
Selamat berbahagia untuk dua sahabatku. Semoga cinta dan persahabatan selalu terjalin dengan manis diantara kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar