Kamis, 10 April 2014

Keajaiban Lian Puri



“Maaf, ada panggilan masuk. Sebentar ya..” Ujar suara dari seberang

Aku mengangguk. 

Perbincangan ringan yang telah beralangsung 52 menit 16 detik itu harus terhenti seketika. Nada sibuk khas sang provider terdengar sumbang dari earphone. Aku melepas salah satu earphone yang tadi menempel di liang telinga kiri ku. Sembari menunggu panggilan tadi masuk lagi, aku meraih buku bacaan yang kemarin aku pinjam dari sahabat kecil, Your Job is not Your Career. Aku melanjutkan bacaan ku. 

Nada sibuk ala sang provider cukup mengganggu konsentrasi ku. Aku melirik durasi panggilan yang tertera di layar handphone, 1 jam 4 menit 8 detik. Sempat terpikir untuk menekan tombol akhiri panggilan, namun niat itu aku urungkan. Mengapa? Ah, sebut saja ini keajaiban pertama. Aku melanjutkan bacaan ku lagi. Hingga di durasi panggilan 1 jam 28 menit 17 detik, nada sibuk ala sang provider mendadak berubah. Sempat hening sejenak, lalu terdengar suara seorang lelaki dewasa dari seberang.  Suara yang asing bagiku, namun gaya berbicara yang justru terasa tidak asing bagiku. 

Aku terdiam sejenak. Tangan ku meraih earphone yang tadi aku lepas. Sekarang kedua earphone terpasang mantap di kedua liang telinga ku. Aku mendengar kata demi kata. Lalu suara lain lagi terdengar. Suara lelaki muda yang jelas tadi berbincang denganku. Aku seolah mendengar perbincangan antara dua lelaki yang gaya berbicaranya nyaris sama. Yang membedakan hanya, suara kebijakan, dari salah satu suara itu terluncur kalimat-kalimat bijak, nasihat tanda kasih sayang. Ada apa ini? Apakah aku terjebak dalam perbincangan antara ayah dan anak? Ah, sebut saja ini keajaiban kedua. 

Tidak bisa dipungkiri, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Jelas saja, dalam perbincangan mereka, sesekali ada namaku disebut. Hipotesisku, telah terjadi kesalahan teknis atau mungkin sebuah ketidaksengajaan. Lawan bicara ku yang pertama tadi tanpa sadar menekan tombol conference. Mengapa bisa terjadi? Ah, sebut saja ini keajaiban ketiga.

“Ayah, ini sudah terhubung dengan Puri. Ayah bisa ngobrol langsung dengan dia.” Ujar Lian dari seberang.

Ups..aku mendadak panik. Benar. Ini memang keajaiban. Keajaiban yang diusahakan. Siapa yang merencanakan? Siapa lagi kalau bukan Lian, yang pandai membuat aku takjub. Aku yang tadi terdiam, sempat melamun beberapa saat terhanyut dengan perbincangan mereka tiba-tiba mendadak kikuk.

Aku berusaha menenangkan diri. Setidaknya membantuku agar tidak menjadi semakin kikuk. Aku hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit saja untuk mengatur irama nafas, termasuk detak jantung agar kembali normal. Ada apa ini? Ah, sebut saja ini keajaiban keempat.

Suara orang ketiga itu adalah suara ayah Lian. Awal perbincangan yang manis. Sederhana namun mendalam. Ayah Lian becerita sekilas tentang Lian semasa kecil. Tentang diri Lian yang sebenarnya sudah banyak diceritakannya sendiri namun kali ini Ayah yang menegaskannya. Aku senang mendengarnya.

Hal ini sungguh keajaiban. Ah, sebut saja ini keajaiban kelima. Aku dan Ayah berada di kota yang sama, namun berbincang via telepon dengan diperantarai Lian yang justru berada di seberang pulau.        

“Puri, Ayah sudah mengenalmu sejak dulu. Namamu tidak asing. Bahkan Ayah pernah melihatmu menjadi pemandu acara perpisahan angkatan I”, suara Ayah terdengar semakin tajam.

Aku tersanjung. Ternyata Ayah Lian telah mengenal ku sejak remaja. Saat ini, usiaku menginjak usia dewasa muda. Dipertemukan kembali dengan Lian dengan cerita yang berbeda. Apakah sebenarnya maksud dari semua ini? Apakah ini juga keajaiban? Ah, dengan berbesar hati aku menyebutnya ini keajaiban. Ya, keajaiban yang luar biasa. Namun, aku tidak akan memberi label angka.  Sebab pertemuan ini adalah induk dari semua keajaiban.  

Ayah Lian mengungkapkan bahwa seorang Lian membutuhkan “Panitia Pengarah”. Istilah yang sontak membuat aku dan Lian tertawa. Istilah yang sederhana namun memberi pemahaman yang lebih. Terakhir, ayah berpesan bahwa segala sesuatu itu tergantung niat awalnya. Jikalau niat kita baik, maka semua harapan-harapan baik itulah yang menjadi tujuan.

“Untuk Lian dan Puri, semakin munajatkan doa kalian, semangat untuk saling mengisi itu juga semakin diperkokoh…”

“Iya Ayah….”
***

Dalam hidup ini, ada waktu kita diberi amanah. Istilah boleh jadi kiasan, namun dibalik itu tersimpan pemahaman yang lebih. Ini tentang bagaimana senantiasa tulus mengingatkan ketika lupa, menemani ketika sepi, mengobati ketika luka, menenangkan ketika resah, dan bersinergi meraih semua mimpi.

Puri, Mengapa kau menuliskan ini?
Aku hanya takut keajaiban-keajaiban ini tersapu oleh debu, hilang diterpa angin….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar