Sabtu, 16 November 2013

Liputan Lomba mewarnai 1 Muharam 1435 Hijriyah

Hai teman-teman, kakak-kakak, adek-adek semua. Sebelumnya saya mau mengucapkan Happy New Year 1435 Hijriyah. Hhah, belum terlambat kan? Apa resolusimu tahun ini? Mungkin yang belum berhijab jadi ingin berhijab, yang single mau jadi double, yang lagi sekolah akan segera selesai, dan yang yang lainnya, hehe.  Silahkan ucapkan harapanmu dari jarak jauh, saya bantu mengaminkan ^^. Nah, sehubungan dengan tahun baru, beberapa waktu lalu saya mengajukan proposal ini di dunia maya. Alhamdulillaah, pucuk dicinta ulam pun tiba. Banyak dukungan dari berbagai kalangan. Oleh karena itu, saya merasa sebaiknya menceritakan apa yang telah dijalankan. Mungkin bukan berupa laporan formal tetapi berupa ulasan cerita dan foto-foto. Mau tahu ceritanya? Iya? Let’s cekidooott..


 Diluar perkiraan jumlah peserta mencapai angka 100an. Ramai lho.. Melihat antusias anak-anak yang begitu luar biasa, rasanya sayang kalau semangat itu tidak diapresiasi dalam bentuk hadiah. Atas masukan Dr. Mutiara Budi Azhar, M.Med.Sc bahwa semua peserta harus mendapat hadiah, ya jadilah dengan semangat, kami panitia meluncur memburu banyak hadiah. Saudara-saudara sekalian, bantuan kalian kami salurkan berupa......


Hadiahnya berupa buku cerita 





 Wah, ini kalo Kak Ocin masih kecil mau ikutan juga lah lomba, mau dapet buku cerita jugaaa, hahaha



Tolong fokuslah pada gambar buku Iqranya ya jangan orangnya, nanti mata kalian kelilipan,hehe 



Nah, buku-buku cerita tadi digulung sama Kak Sisca supaya tampilannya menarik dan anak-anak jadi sukaaaaa ^^ 


Nah, ini kerjaan Kak Ria main teropong-teropongan ajaa :P 



 Iya, ini teropongannya sama kak ocin,hihi

Selain itu, kakak panitia juga beliin puzzle islami








Hadiah untuk pemenangnya piala dong..

 Nah ini langkah awal nempelin tulisan juara-juara gitu

 Terus nempelin buat di puncak piala, apa sih tulisannya?

sisi depannya Allah

sisi belakangnya Muhammad
Subhanallah, bangga banget kan dapet piala ini  

 on progress..

Wess..!

 Ada juga hadiah yang dibungkus buat juara 1,2,3

 Ketika gulung buku ceritanya sudah hampir selesai


 Nah, alhamdulillah sudah selesai.
Langkah selanjutnya?


Foto kakak panitia, halah skip aja! 

 Skip..skip..!

Skip lagi....! 


 Dann skip lagi..!

 Mereka bahagia, makanya berpelukan :')

 Sebenernya masih ada hadiah lain berupa sikat gigi. Hadiah ini yang nyiapin Kak Vemi dan Kak Nisa yang akan dibawa esok hari, jadi tenang, aman ya, haha. Lanjut? yuk lanjut.... lokasi lombanya dimana kakak? Sebuah mushola yang kagak jauh dari kosannya Kak Ocin dan Kak Sindy yaitu mushola Darul Iqhlas. 



 Paginya beres-beres duluu..

Wah itu, Kak Ocin ngepel mushola gayanya ga nyantai >,< haha


 Lanjut ke acara inti... ENTER !


Di suatu pagi yang cerah, suara hiruk pikuk anak-anak peserta lomba mewarnai suatu kampung. Aduhai, spesial sekali pagi ini. Mengapa tidak, ada puluhan anak-anak yang akan menyambut tahun baru Islam 01 Muharam 1435 Hijriyah. Keceriaan itu akan diisi dengan lomba mewarnai, bagi-bagi buku dan periksa gigi gratis. Sungguh semangat, ada yang sudah dari pagi menunggu di teras mushola Darul Iqhlas. Ada yang datang jauh-jauh dari kampung sebelah demi meramaikan perlombaan ini. Tak ayal, hal ini membuat panitia kewalahan. Tapi tenang saja, wajah ceria anak-anak mampu membakar semangat kakak-kakak panitia. 

 Anak-anak ramai diantar oleh ibunya ^^


Rangkaian kegiatan ini diawali dengan penerimaan seluruh peserta lomba. Mereka dibagi berdasarkan kelompok usia. Kategori pertama kelompok usia 0-5 tahun. Kelompok ini paling banyak jumlah pesertanya, kurang lebih 50 anak dengan usia termuda 1 tahun 2 bulan. Anak-anak antusias sekali bukan? Bayangkan anak usia semuda itu, semoga tahun baru ini merupakan awal si adek memegang pensil warna. Kategori kedua kelompok usia 6-8 tahun. Kelompok ini berjumlah kurang lebih 20 anak. Mereka tengah duduk di kelas I hingga kelas III sekolah dasar. Lalu kategori ketiga yaitu kelompok usia 9-12 tahu, yang rata-rata duduk di kelas III hingga kelas VI sekolah dasar dengan jumlah kurang lebih 30 anak. Well, jadi jumlah anak hampir seratusan. Kebayang kan betapa riuhnya mushola Darul Iqhlas, kakak panitia sampe kewalahan *ngelap keringet*.

Haha, mereka mulai membuka meja mereka ^^
               
              Setelah dibagi menjadi tiga kelompok, acara dibuka dan perlombaan dimulai. Kelompok yang paling kecil di­-handle oleh Kak Sisca, Kak Ria, Kak Vemi, Kak Nisa dan Kak Kiki. Duh, banyak amat yaakk. Anaknya kan kecil-kecil, ada yang pake acara nangis. Ada juga yang nggak mau di dalam mushola, jadinya lalalala ke teras, gabung-gabung sama kelompok lain. Yah, nggak apa-apa yang penting si adek ini mau mewarnai. Ada juga yang anteng, sejak awal mulai lomba sampe akhir tenang aja bawaannya. Ada juga yang diteriaki si mama, “nak tiang masjid warna coklat, kubahnya biru…” ya terserah juga. Kalau usia segini kan bukan kompetisi yang kita tuntut tapi kemauan mereka memegang pensil warna. Ada juga yang dicuekin si mama, kalau si anak teriak dari dalam mushola, “Ma…warna apa?” si mama dengan santai jawab, “terseraaaaaaahhh….”. Haha, lucu dan menggemaskan.


                Untuk kelompok kedua, adek-adeknya didampingi oleh Kak Anis, Kak Feni dan Kak Desi. Kakak-kakak dari mahasiswa Akbid poltekkes tingkat pertama. Adek-adek kelompok ini pada duduk di teras mushola lho. Lumayan, ketika menggoreskan pensil warna, rambut mereka diterpa angin sepoy-sepoy.  Nah, pada kelompok ini mereka diberi gambar kaligrafi. Tingkat kesulitannya sedikit agak meningkat, namun tidak terlalu detail. Ahha, disini adek-adeknya ada yang sambil garuk-garuk kepala. Ada juga yang busana muslimnya keangkat-angkat. Saking fokusnya sama kerjaan mereka. Sip..sip…

                Nah, untuk kelompok paling besar, adek-adeknya diawasi sama Kak Renti, Kak Dita, Kak Kiko dan Kak Reni. Kakak-kakak ini merupakan mahasiswa Gizi Poltekkes tingkat pertama. Adek-adek pada kelompok ini duduknya juga di teras mushola. Tapi terpisah dari kelompok kedua tadi. Pada kelompok ini tingkat kesulitan gambarnya juga lebih meningkat. Detail-detail gambarnya banyak. Seolah semua ingin jadi pemenang, mereka mempersiapkan diri dan alat dengan maksimal.

                Durasi mewarnai diberikan selama 50 menit tapi adek-adek kelompok pertama banyak yang sudah ngumpul pada waktu 10 menit pertama. Keren kan! Ya iyalah, habis dicorat-coret doang terus ngumpul, terus si adek jalanlah keliling-keliling mushola, haha. Tapi beberapa diantara mereka ada juga yang segitunya serius.  Sedangkan dua kelompok lain mengerjakan lembar mewarnai mereka dengan waktu yang cukup panjang.

                Setelah waktu mewarnai selesai, acara dilanjutkan dengan pemeriksaan gigi oleh Kak Vemi dan Kak Nisa. Kedua kakak adalah calon dokter gigi, nah…mereka membawa peralatan buat periksa gigi adek-adek. Ada yang takut buat diperiksa tapi ada juga yang semangat. Ada juga yang sengaja datang buat periksa gigi diantar sama neneknya. Coba deh, liat pada foto, wajah mereka lucu-ucu ketika diperiksa dan ngantri buat diperiksa.

                Setelah semua selesai, dilanjutkan dengan pengumuman pemenang. Ini adalah momen yang paling dag dig duwerrrr. Apalagi ketika Kak Dimon, Kak Ratih dan Kak Rahman selaku tim juri, membacakan sang juara dimulai dari juara III. Seluruh pasang mata adek-adek tertuju satu arah, menanti siapa yang menjadi pemenang. Ketika diumumkan, tepuk tangan dari adek-adek yang lain meramaikan mushola. Mereka sportif kok. Walau nggak menang mereka tetap bahagiaaaa, apalagi di akhir acara ada pembagian buku-buku cerita, puzzle dan sikat gigi. Jadi mereka pulang tetap bawa hadiah. Yuk lihat dokumentasinya di bawah ini..


"Duh, pusing mau pakai pensil warna apa yaa?"


"Kakaaaakk... aku bingung nih...dicorat-coret aja ndak apa-apa yaa :P"


Ada lho yang baru setengah jalan udah nyerah dan minta digendong sama mamanya, haha

Nah, coba lihat yang satu ini..dengan kucirnya yang lucu, si adek tampak serius amat :)


Ada yang dibantu mamanya juga, Hahaha ketahuaan!!!

Ada yg fokus banget sampe rambutnya keluar-keluar dari jilbab.


Lucu ya, ketika anaknya sibuk mewarnai bapaknya sibuk ambil foto anaknya..^^


Waduh dek, mungkenye jangan deket amat sama kertas mewarnai ntar hidungnya nempel lho... :P


Daann. ini dia si adek kecil yang berhasil ngumpul pertama kali..


Ahha, ada yang sempet ngegodain temen sebelahnya. Hey!!!! ketangkep CCTV dek,wkwk


"Kakaaaaakk...kepala ku pusing, garuk-garuk dulu boleh?"
waduh dek, pusing kok digaruk? haha


Yaakk, keromantisan selalu ada..dua bocah ini semeja berdua..
*INDAHNYA BERBAGI*
ahhaayy..


Nyookk...ini si adek ga nyantai, persiapannya mantep pisan euy, noh liat pensil warnanya banyak amat,haha


Jiaahh, ada yang sepinjeman pensil warna
*INDAHNYA BERBAGI PART 2*


Ini di sisi luar mushola, yang kelompok usia 6-8 tahun.


ini kakak-kakak dari ilmu gizi, cantik-cantik ya ^^


Nah, kalo yang ini kakak-kakak dari Ilmu kebidanan, cantik juga kan ^^


Yaakk...dapet lagi, si bocah stres mewarnai langsung mencari sesuap es tong tong, haha


Ya ampun dek, ga tega kakak liat fose mu. Lomba mewarnai ternyata segitunya..mewarnai di kertas dek, jangan di kepala, hahaha


Let see, ini bocah peserta termuda 1 tahun 2 bulan. Liat muka kamu yang lucu, Kak Ocin bisa apaaaaaahhh...


Aha, ini dia duo bubo, eg hidungnya sama-sama *tuuutttt* hihi


"aseekk...mewarnai udah, waktunya beres-beres.."


"hai kaka...namaku Kiran, lihatlah gayaku, enak aja kalo kaki selonjoran gini, ada angin cepoy-cepoy" hahahha


*INDAHNYA BERBAGI*
tertangkap lagi

Kiran semakin fokus!


"Tolonglah fotoin kami ayuk Ocin..."


Wess, sudah ngumpul dong..


Iya ini anak yang baik, sudah selesai salaman..


Ah, si Kiran udah selesai waktunya fotooo


Kak Ocin-Kiran-Kak Sindy


Kak Dimon dan Kak Rahman ga mau kalah..


Selesainya mewarnai Kiran langsung memeluk sang bunda, huhu Kak Ocin yang lihat jadi terharu
Hiks..hiks... nangis bombay..


Ada yang suap-suapan jugaa
*INDAHNYA BERBAGI PART 3*



ini adalah seorang lelaki kecil yg menderita keganasan darah (leukimia), tetep semangat walau kondisi ga fit...
huhu..terharu..Kak Ocin nangis bombay lagi..



Manteeepppp!
(apanya? itu kotak pensil warnanya maksudnya,haha)


"mewarnai itu emang enaknya sambil gaya kayak gini, lebih asoy aja rasanya"


nah, ketemu lagi yang gayanya ga nyantai, deekkk...itu roknya ditutup dikit dek, haha


"Halah..aku mah stres stres mewarnai mending makan aja...iya makan ajaa.."
wkwkwk


Kak Kiko-Kak Renti-Kak Ria


haha, Kak Ocin ngakak liat yang ini, itu temennya mewarnai dia malah mandorin sambil makan es krim...


Kak Ocin bersama Rani (juara lho si Rani ini ^^)


Kak Dimon bersama adek kecil berkucir banyak ^^



Kak Ratih ngajarin si adek mainan gedget ^^


Hasil mewarnai sang juara, dipisahkan dari yang lain.


Kak Vemi periksa gigi ^^


Hayooo ketahuan, tangan siapa ini yang erat tangan bapaknya waktu ngantri periksa
 gigi,hihihi

si adek pasrah,haha


Cinta-Kiran-Kak Renti


Kiki sedang diperiksa giginya..


HAHAHAHAHA, si Cinta sembunyi di balik tiang mushola, takut periksa gigi. Mukanya itu lho, kayak ketakutan banget...gemessss..


Dek, ga sambil manyun dong..semangat semangat..


eaaa..Kak Nisa sedang periksa gigi 


itu ibunya peserta interest amat sama Kak Nisa ^^


Wah, kakak cantik-cantik ^^


Wey, Kak Vemi dikelilingi bocah-bocah. 
awas dek, kalo lagi kumat suka ngamuk kakak ini,hahah
*ampun memiiii*



Gilaaaa, ini sodaraan ikutan semua lho..

Daann difoto sama bapaknya,^^


"kakaaaakk....mau snack dong.."


Semua bakal dapat, tenaaaanngg....


Calon dokter gigi, entah gigi apa itu yang dibawa. Bukan gigi kuda kan kak? :P


Narsis dulu aahhh...


Kakak panitia mulai menempel hasil mewarnai..


Emak-emaknya ikutan semangat cuyy...


Rameee..


Ibu pejabat bagi-bagi snack..
^^

Vem, Nisa..kalian beres-beres apa bagi harta gono-gini,wkwk


Hasil karya merekaaa....


numpang foto dengan background hasil mewarnai anak-anak...^^


Ketika Kak Tari memberi pertanyaan untuk kuis...


Halah, rambut si adek ^^


Kiran mendapat hadiah karena hafal Al-fatihah ^^


Hasil karya merekaaa...
*terharu*


ini juga...
*terharu lagi*


Lalu pengumuman sang juara..


Selamat yaaa...


Hadiah diserahkan oleh Kak Rahman..


Hayookk...fofo dulu..


Dag dig dueerrr,,,,menanti pengumuman selanjutnya..


Semua mata tertuju pada sang juara...


Daann mereka yang tidak mennag juga dapet hadiah...senangnyaaa...


"asiik....dapet sikat gigi sama buku cerita.."



Cantik: kamu dapet buku cerita apa??
Tampan: Iya nih buku cerita tentang Nabi Sulaiman...
Cantik: Ihh, sama..kok bisa ya..
Tampan: Jodoh lai ya kita...
Wuekekekek


"Ahh, gerah..pake ginian aja enak lhoo.."


Horeee...


"balik ini pokoknya mau langsung main puzzle...!"


Jiaaahh..ini bocah, yang menang kakaknya yang mau foto sama piala ya dia..padahal tadi sembunyi karena takut giginya diperiksa,,,haha



"Kak, nomor pesertanya ditempel dijidat boleh ya..buat kenang-kenangan.."


Horeeee....


"Kamilah sang juara.."


Daaann...tiba-tiba datanglah seorang ibu menemui Kak Ocin, spesial minta difotoin sama anaknya yang menjadi juara. Bahagianyaaa..alhamdulillaah, 


Kak Riaaaa...


di akhir acara.. ^^

Subhanallah, muslimah calon penghuni surga...(Amin)

Iya..iya..silahkan deh..kalo mau foto..


Kak Vemi merangkul Kak Ocin, kenapa sayang ya? hehe.. I love you too :*


Ayuk dan adek ipar, wuakakakak
(Sisca kesenengan ini)


Pulang..angkut barang....





          Alhamdulillah acara ini berjalan dengan lancar. Ini semua tak luput dari doa-doa kalian yang jauh disana diiringi atas izin Allah. Hari ini, terhitung ada 100 anak yang mengawali hari mereka di tahun 1435 Hijriyah dengan mewarnai. Mengawali hari mereka dengan membaca dan gosok gigi yang benar. Mereka bahagia teman-teman, mereka bahagia. Apa kalian disana juga bahagia? Untuk kalian semua yang telah membantu dan amat mengapresiasi acara ini, dengan kerendahan hati kami ucapkan terimakasih. Tangan kami tak mampu membalas kebaikan kalian, biarlah Allah yang menghadiahkan balasannya kepada kalian. Jika Allah mengizinkan, di lain waktu kami akan mengadakan acara-acara lain. Dukungan dan doa-doa dari kalian sangat kami harapkan. Semoga silaturahmi kita tetap terjalin dan rantai kebaikan tetap ada dan selalu ada. Sekian terimakasih... 


"Kau tahu, ada bagian yang tidak kasat mata dalam acara ini. Tak tertangkap oleh mata manusia, tak tertangkap oleh kamera terhebat sekalipun. Apa itu? itulah rantai kebaikan, rantai yang tersambung oleh kalian disana dan kami disini. Bahwa kebaikan yang sambung menyambung pasti dicatat oleh malaikat, dan hebatnya rantai ini tak akan putus sampai seratus bahkan seribu tahun kedepan, mengapa? karena semua hal kebaikan yang kita lakukan hari ini, sekecil apapun insyaAllah membuahkan kebaikan kebaikan di masa depan. Mari, terus jaga rantai itu, jangan sampai putus di kita..^^"

Jumat, 15 November 2013

Surat dari Bulan


Assalamualaikum,

Dear Mela, lagi apa disana? Dalam keadaan senang dan tenang kan? Disini aku sendirian berteman dengan rinai hujan. Mel, maukah menyisihkan waktu sebentar saja, mendengarkan sebuah cerita singkat. Baiklah, agar tidak terlalu kaku, bayangkan saja, kita berdua sedang duduk santai di teras rumah nenek, memandangi pohon jambu yang buahnya tengah merah merekah, memandangi jalanan yang diwarnai kendaraan lalu lalang. Masing-masing kita ditemani secangkir teh hangat.

Belasan tahun silam, ada dua gadis kecil yang memulai kedekatannya di usia lima tahun. Mereka sama besarnya, sama lucunya, sama ceriwisnya. Dua gadis ini bahkan sering mengenakan baju yang sama. Memang mereka selalu sama. Sebut saja Bulan dan Bintang. Awal kesamaan itu ketika Bulan dan Bintang sekolah di taman kanak-kanak yang sama. Lalu lanjut ke sekolah dasar yang juga sama. Aha, bahkan selama enam tahun mereka duduk di bangku yang berdekatan. Lucu sekali bukan, kadang diantara kedua gadis kecil ini memiliki kecemburuan-kecemburuan kecil. Kamu tahu Mel, pernah suatu ketika Bulan dan Bintang belajar bersama. Bulan menjadi guru (alias sok sok ngajarin) dan Bintang jadi muridnya. Gara-gara yang Bintang nggak bisa jawab pertanyaan, jadilah si Bulan marah, eh si Bintang malah balik marah dan pergi ninggalin Bulan, haha. Pernah juga ketika mereka les di suatu bimbingan belajar, ada seorang anak laki-laki yang suka sama Bintang, mau mengungkapkan perasaan ala-ala anak SD, yaahh sebut saja cinta monyet. Anak laki-laki itu mau ngasih duit lima ratus yang ada gambar monyetnya sama shampo dee-dee. Karena ketakutan mau “ditembak” cowok, jadilah Bulan dan Bintang cemas dan ngibrit pulang ke rumah selepas bimbingan belajar.

Bulan dan Bintang melanjutkan ke sekolah menengah pertama, juga di sekolah yang sama. Mereka punya kesukaan yang sama, yaitu menari. Mereka mengikuti kegiatan menari di sekolah. Oh ya, yang paling menarik  di masa sekolah menengah pertama ini adalah ketika mereka belajar mengendarai sepeda motor. Bintang bisa menguasai teknik mengendarai sepeda motor dengan cepat dan dipercaya pergi kemana-mana bawa motor, sedangkan Bulan kakinya belum sampai, kasian ya Bulan tingginya belum memenuhi kualifikasi versi Nanan, haha. Jadilah kalau Bulan pergi kemana-mana yang nganterin ya Bintang. Ada kenangan lucu perihal antar mengantar ini, ketika Bulan mau pergi les yang nganter kan Bintang. Nah, ketika melewati gorong-gorong kereta api (Ahhh, Mel kamu pasti tahu di mana tempat ini) motornya tiba-tiba mogok sedangkan kondisi jalanan agak menanjak. Bintang nggak bisa mengendalikan keadaan, jadilah motornya mundur dan di belakang ada kali yang lumayan deres. Daaaaannnn mereka berdua nyaris nyebur ke kali itu, hahaha.

Lalu mereka melanjutkan ke sekolah menengah atas. Kesamaan tidak lagi menyelimuti mereka. Bulan dan Bintang masuk di kelas berbeda. Bulan masuk kelas ilmu alam sedangkan Bintang masuk kelas ilmu sosial. Mereka nggak lagi ngerjain PR bareng lagi. Mereka sudah punya kesibukan masing-masing. Tapi pulang pergi tetep bareng. Lalu, ketika lulus sekolah menengah atas mereka melanjutkan pendidikan di tempat berbeda. Hingga hari ini ketika sosok gadis kecil yang aku samarkan menjadi Bintang berulang tahun, Bulan sedang nggak bersama dia. Dimana Bulan? Bulan ada disini Mel, mencuri-curi waktu, menulis surat ini dari sudut rumah sakit.

Baik, akan aku lanjutkan cerita tentang si Bintang.

Juli 2008, ketika kedua gadis itu hendak memulai kehidupan menjadi anak kuliahan, Bintang kehilangan ayahnya. Aku sangat paham Mel, betapa sedihnya Bintang. Bintang berusaha mencari beberapa kantong darah untuk ayahnya, di detik-detik penghujung nafas ayahnya. Namun, darah yang dibawa Bintang tidak lagi diberi kesempatan menyusup ke tubuh ayahnya. Allah telah memanggil ayahnya...

Suatu malam, beberapa hari usai pemakaman ayahnya. Bulan dan Bintang duduk berdua di teras rumah nenek. Iya, duduk disini Mel, tempat kita menyeduh teh hangat ini. Bintang bercerita tentang isi hatinya. Bulan mendengar, merasa, menjadi satu dengan lirih suara Bintang. Aku, aku sangat paham Mel, wajah yang ditampakkan Bintang begitu pilu. Sejak malam itu, Bulan menjadi paham apa artinya kehilangan, lewat seorang Bintang. Sejak saat itu juga Bulan dan Bintang jarang bertemu, sebab keduanya kuliah di tempat yang berbeda. Sesekali mereka saling mengunjungi dan menceritakan tempat kuliah masing-masing. Mel, kamu tahu. Sejak saat itu, Bulan merasakan banyak perubahan pada sosok Bintang.

“Kehilangan memberikan rasa sakit yang begitu mendalam, namun jika disikapi dengan bijak, rasa sakit itu hanya bersemayam sebentar, menumpang ruang di hati kita, ketika ia pergi, selebihnya pemahaman yang baik akan menetap di hati kita untuk selamanya.”

Mel, kamu masih mendengar ceritaku kan?

Sekarang Bintang berada jauh di seberang pulau. Ia tumbuh menjadi anak perempuan yang kuat. Anak perempuan yang diandalkan di rumah, anak perempuan yang dibanggakan. Kamu tahu Mel, kepulangannya ditunggu-tunggu. Kehadirannya mewarnai rumah.

Mel, jika di seberang sana kamu mendapati seorang Bintang, tolong sampaikan jika Bulan sangat merindukannya. Bintang yang selalu menemani Bulan, Bintang yang pandai sekali berubah wujud, kapan harus menjadi saudara kapan harus menjadi teman untuk Bulan. Bulan dan Bintang selalu bersama kan Mel? Mereka selalu berada di satu langit yang sama. Mengisi malam.

Pernah Bulan dan Bintang berniat untuk jalan-jalan bersama. Mungkin ke suatu tempat yang indah. Pernah juga mereka berencana untuk ke tanah suci bersama. Tapi Mel, kalau perjalanan sejauh itu, jika si Bulan sudah hidup bersama mahramnya, bye-bye..dia pasti akan memilih pergi bersama mahramnya, haha.

Ada hal penting lagi yang harus kamu sampaikan kepada Bintang. Tahun lalu, ketika Bintang mengujungi Bulan. Bulan selalu sedih. Bahkan Bintang melihat Bulan menangis, matanya menjadi kecil, air matanya tak putus membasahi pipi. Kabar baik Mel, Bulan tidak lagi sedih, sebab jika ia sedih itu hanya akan menebarkan energi negatif ke orang-orang di sekitarnya (ceritanya si Bulan sok penting,wkwk). Bulan selalu tersenyum dan menanti kepulangan Bintang. Rindu, kembali duduk disini, iya disini di teras rumah nenek sambil menyeduh secangkir teh hangat seperti kita sekarang ini.

Sampaikan juga terimakasih Bulan untuk Bintang karena Bintang selalu setia mendengarkan cerita Bulan. Bintang selalu bilang, “Aku selalu ingin menelponmu, mananyakan kabarmu, mengikuti setiap ceritamu. Aku tidak akan bosan, anggap saja aku sedang mengikuti cerita sebuah film atau novel.” Kalau sudah begitu, Bulan akan bercerita apa saja. Terimakasih ya Bintang.

Waw, teh kita sudah hampir habis Mel? Apa ceritaku juga hampir habis?

Satu lagi Mel, tolong lihatlah perjuangan Bulan membuat ucapan selamat ulang tahun untuk Bintang di bawah ini. Kasian banget dia Mel, dari sudut kamar jaga koas, haha. Untuk memecahkan teka-teki cerita tadi, silahkan cerna Andwi=Mela, Putri=Nia, Bulan=Bintang.


















Yaaakk, sekian dulu persembahan dari Ocin. Semoga kamu bahagia Mel :)))))