Is it sweet name that I give especially for this week? Haha,
actually I and four my friends have short of breathness, tachycardi and
increasing of temperature, they are like the symptomps of the patients that we
follow up every morning. We are not sick but we are like sick! Poor! It because
of having this week, spending the times in “cemas” everyday. The peak of this
is when our big boss in the Digestive Departmen was angry two days ago and
keeping promise that wanna give us F if we get him as our examiner.
Hiks..hiks.. and just morning, again, we got some missed communication that we
didn’t enter his operation. But I am sure that it is his way to motivate us to
be smart, smart medical doctor. Alhamdulillah, this week is closed by smiling
and beautiful crying. We have been success passed it (not really) well. I and
four my friends really wanna cry and say alhamdulillah. We pray that may our
examination will be done well and this week, especially –Beautiful Week-.
Tampilkan postingan dengan label Cerita koas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita koas. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 03 Agustus 2013
Selasa, 30 Juli 2013
Sebuah Tulisan di Buku Catatan Ocin
“Lihat catatan kakak ga?”
“Yang mana?”
“Yang warna
hitam”
“Ohhh, yang ada
gambar Mickey Mouse kan?”
“Iya..”
***
Kepikukan
ruangan itu redam sejenak, ketika Ocin memilih merebahkan badan di kursi mungil
tepat di depan buku, lembaran dan catatan pasien yang berserakan. Lalu
seseorang datang dan menanyakan buku catatannya. Ocin memang tahu ciri-cirinya,
tapi Ocin tidak tahu di mana posisinya.
Setelah
dicari, buku catatan itu tidak ketemu. Namun, ketika Ocin meraih buku catatannya,
ternyata di bawah buku catatan Ocin ada sebuah buku catatan yang dari tadi
dicari. Segera Ocin menyerahkan buku catatan itu kepada pemiliknya. Lalu Ocin
membuka buku catatan miliknya.
“Oh,
jadi buku catatan itu punya kamu ya?”
Ocin
mengangguk. Seseorang itu mengucapkan kata-kata. Apakah kata-kata itu? Kurang
lebih seperti ini.
“Koas itu bisa belajar dari apa saja,
siapa saja, kapan saja dan di mana saja.”
Jumat, 26 Juli 2013
Museum Memori
It’s
time to make a story! Yeaahh, sudah lama saya nggak nulis cerita di blog. Mari,
di sela-sela ke(sok)sibukan saya, ya saya akan tetap meluangkan waktu untuk
menulis.
Dua
hari yang lalu saya jaga IGD. Ya, berhubung saya sekarang stase bedah otomatis
pasien yang saya hadapi kebanyakan pasien-pasien trauma. Sekitar pukul 22.00
kami kedatangan pasien rujukan dari sebuah Rumah Sakit Daerah yang tidak asing
bagi saya. Namun, fokus saya nggak ke rumah sakit itu dong ya, pasiennya yang
utama. Pasien itu adalah seorang remaja putri usia delapan belasan. Sekujur
tubuhnya penuh balutan perban. Bidai-bidai membungkus kedua kaki dan kedua
tangannya. Pipi kanan dan pelipis juga dibalut perban. Ketika pertama kali menghadapi
pasien itu, tentu saja yang menjadi perhatian adalah airway, breathing, dan circulation!
Well, alhamdulillah A-B-C of this patient was good. Karena pasien itu datang
dengan multiple fracture pada keempat ekstrimitasnya, so to recognize the
configuration of fracture and making plans to her therapy, we need rontgens
photo. Tapi sebelumnya kami merapikan kembali balutan bidai dan perban pada
keempat ekstrimitasnya. Ketika kami membungkus kakinya dengan perban, gadis
belia itu hendak bangun dan bertanya-tanya, “Dimana? Diamana aku sekarang?”
kondisinya persis pemain film sinetron yang pingsan terus dibawa ke RS terus
berontak sambil angkat kepalanya dengan linglung linglung dan nanya, “Diamaanaaa??
Sayaaa ada dimanaaa?” terus saya jawab DI HONGKONG !!!!! hehe, saya boong.
Ketika pasien itu nanya ya saya jawab seadanya. Tapi saya yakinkan,
“tenanglah..kami akan melakukan pertolongan sebisa kami.”. Lalu pasiennya diam.
Menyerahkan badan, kaki, tangan, pipinya mau diapain. Pasrah.
Keesokan harinya, selepas makan
sahur ibu saya nelpon. Ibu saya mengabarkan bahwa ada tetangga nenek saya yang
mengalami kecelakaan. Kecelakaan mobil dan motor. Dia adalah seorang gadis
belia berambut keriting. Penjelasan ibu saya masih agak umum. Tapi entah kenapa
saya ingat dengan gadis belia dengan multiple fracture malam kemarin. Ahha,
ternyata memang benar pasien itulah yang dimaksud ibu saya. Iya, gadis belia
itu adalah tetangga nenek saya. Rumahnya persis di belakang rumah nenek saya.
Hari ini (tadi siang), saya mencari
gadis belia itu. Ternyata dia sudah dibawa ke ruang perawatan. Setelah diberi
tahu Ria (temen jaga saya malam itu) dimana ruang perawatannya, saya menemui
gadis belia itu. Ketika saya datang, as you know how how saya keliatan bego dan
mungkin agak linglung atau mungkin juga terkesan sombong karena sama tetangga
aja nggak tahu. Ternyata gadis belia itu mengenali saya. Begitu pula dengan
ayah ibunya yang saat saya datangi juga berada disamping gadis belia itu, juga
mengenali wajah saya. Dan ternyataaaaa setelah saya ingat-ingat, semasa kecil
sepertinya saya pernah bermain dengan gadis belia itu.
Ini bukan lelucon ya? Tapi, apakah
ini kebetulan? Ada banyak hal yang harus dikoreksi dari diri saya. Salah satunya
memori. Sesungguhnya memori itu bagaikan museum. Iya museum kenangan. Oleh
karena itulah dengan saya menulis, setidaknya bisa dijadikan salah satu usaha
untuk mengarsipkannya. Tentu, agar museum memori saya menjadi kaya. Hehe, lalu
bagaimana dengan museum memori kamu??
26 Juli 2013;
22;47
Rabu, 05 Juni 2013
KOK BISA UPIL SEGEDE BIJI MATA
Barusan
Zelfi cerita, dia empet banget sama pasien anak yang semaleman penuh dia follow-up. Bukan karena harus tiga puluh
tiga kali mendatangi pasiennya dalam waktu kurang dari 24 jam. Itu mah biasa.
Bahkan kalo pasiennya bagging-bagging-an,
ya koas bisa jadi tidur di ketek pasien. Kali ini yang jadi masalah adalah pasiennya bawel pisan. Iya,
pisan ambon, pisan kepok, pisan emas, pisan goreng, keripik pisan juga enak. Wew, itu pisang cin!
Ketika
Zelfi follow-up pasien ini, beehh... mukanya
pada masem. Terus waktu Zelfi mau masukin obat yang isinya imunoglobulin bla
bla bla itu, pasiennya malah marah. Nggak cuma itu saja, mamanya juga ikut
ngomel. Ampun dah, padahal niatnya cuma mau ngejalani tugas, eh malah kena sembur. Ngemeng-ngemeng, saya mau ngucapin
terimakasih buat pasien beserta keluarga besar pasien tipe seperti ini. Mengapa?
Jelas, besar manfaatnya. Akibat kisah ini, alhasil sobat saya yang hatinya
selembut sutera, terkoyak-koyak. Pulang-pulang langsung nyeritain tentang
pasien ini. Daaann, ketika Zelfi cerita panjang lebar, apa coba tanggapan saya?
Boleh saya tarik nafas? Yap, sederhana, saya cuma ngakak, “HAHAHAHAHA”. Terus
lima menit kemudian jidat saya benjol, digeplak Zelfi pake galon. Okelah, ucapan terimakasih tadi tidak lain tidak bukan karena kisah singkat ini (pasti) ada manfaatnya buat Zelfi yang merasakan, buat saya yang mendengarkan dan buat eluuuu yang nggak sengaja baca tulisan ini.
Sebenernya saya dulu juga pernah dapat pengalaman serupa tapi
dengan modifikasi. Waktu saya mau follow-up
seorang pasien anak, terus nanyain jumlah cairan yang masuk dan keluar
(buat ngitung diuresis), tentu dengan senyum teramah tingkat dewa, saya malah
mau disiram pake air pipis pasien yang udah dikumpulin dalam botol air mineral
sama bapaknya pasien. Bapaknya pusing kali, tiap hari ngumpulin pipis anaknya
ke dalam botol. Mending kalo diusep-usep botolnya keluar jin, terus pake
permadani ngajak si bapak jalan-jalan ke Pasar Senen. Tapi itu nggak mungkin. Air pipis ya air pipis aja.
Nggak bakal berubah sampe lebaran kuda. Saya yakin 35797647783587698 %
koas-koas di seluruh dunia juga pernah mengalami pengalaman yang sama. Boleh
jadi saat mengalaminya, hati ini hancur. Yuk nyanyi bareng Olga, hancur hancur hancur hatiku, hancur
hancur hancur hatiku. STOP! Tapi setelah masa—masa itu terlewati, mengenangnya
jadi ketawa sendiri. Ngekek sendiri dan pengen lompat-lompat saking lucunya.
Well,
teruntuk koas-koas di manapun anda berada. Bertemu siapapun anda. Yah,
hadapin aja. Filosofi ini jangan kita lepas. Mari kita tanamkan lekat-lekat di
jiwa ini (duileee iye banget!). Kalo niatnya ibadah, ya jalani aja. Kalo
disemprot ibu-ibu cerewet, ya nikmatin
aja. Kalo lengan kita dibejek-bejek sama
ibu yang mau melahirkan, ya nikmatin
aja. Paling banter waktu si ibu sudah sukses lahiran, kita jingkrak-jingkrak ikut kesenengan liat bayinya mucul ke dunia. Tanpa
sadar lengan kita udah remuk patah seribu. Kalo ada pasien yang muntah dan
muncrat-muncrat tepat di depan muka kita. Ya, tetep bersyukur. Konon katanya
yang jerawatan malah jadi lebih mulusan. Kalo ada pasien yang tiba-tiba ngasih
sekotak roti, nah jangan ragu-ragu untuk tidak menolaknya,hahahahaha.
Mudah-mudahan, sampai sejauh ini kita
semua yang masih menyandang gelar koas masih semangat dan menikmati (tulisan
ini dipersembahkan dan dipersiapkan untuk koas yang bisa galau sewaktu-waktu,
karena merasa –susahnya jadi koas--).
Beruntungnya saya sudah melewati beberapa stase yang berat. Tidur beralaskan kardus,
selonjoran di bawah tempat tidur pasien, nggak mandi dua hari --sudah pernah dilewatin--.
Hasilnya, ya begini. Sekarang jadi cewek tahan banting tahan air. Jadi, kepada
pemuda-pemuda yang hendak mencari teman hidup, saya rasa koas bisa dijadikan
salah satu pilihan, sebab mereka
terbiasa susah. Loh? Loh?.
Kembali lagi ke kisah Zelfi tadi.
Saya nggak digeplak pake galon kok. Saya boong,hehe. Ternyata eh ternyata,
pasien itu emang masem sama semua tenaga medis. Nggak cuma sama Zelfi kok,
koas-koas lain juga, perawat juga, kakak residen juga (kali ya). Menurut saya, justru enak ngadepin pasien yang begituan.
Mungkin mereka terlampau stres menghadapi penyakitnya yang demikian. Oleh
karena itu, mereka besikap seperti itu. Kita sebagai koas harus tetap
profesional, senantiasa menenangkan dan lebih bagus mengobati. Dulu, boleh jadi
waktu pertama kali mengalaminya saya shock,
sampe takut mengunjungi pasiennya dan lari tunggang lnggang menuju wc
karena kena serangan mau beol akut #ga #nyambung. Tapi yakin deh, kalo sekali
lagi saya berada pada kondisi demikian atau kalian juga menghadapi, pakai aja
jurus ini.
“adek, obatnya jangan lupa dimakan
ya” menyarankan sembari mengelus hidung pasien.
“Wey, bodo amaaatt, obatnya nggak mau
saya makan!” ujar si pasien sambil lompat-lompat di tempat tidur dengan mata melotot.
“Hha, eh itu dek, bersiin dulu, KOK
BISA UPIL SEGEDE BIJI MATA
!!!!!” lalu
kabuuuurrrrrr.
***
Jreng.. Jreng..
Jreng..
“Mereka memberi pelajaran untuk banyak
hal. Mereka tidak hanya memperkaya isi otak kita, tetapi juga memperkaya isi
hati kita. Sungguh merugi, sudah lusuh menjalani masa-masa kepaniteraan namun
tidak bertambah --kaya—“
31
Mei 2013; 17;01
Ocin
yang masih bau keringat,
Pulang
dari rumah sakit
Senin, 29 April 2013
Negeri KakaKatepe
Ini
adalah negeri Kakakatepe. Wah nama yang hebat! Apa penghuninya doyan makan
tempe? Hmm..Ocin tidak tahu pasti. Namun dapat dipastikan tempe selalu
menemani. Bisa jadi beberapa kali dalam satu minggu. Itu berarti dalam perut
warga Kakakatepe sudah penuh kacang kedele. Ya sudahlah, kita biarkan kacang
kedele berwujud tempe bersemayam di perut warga Kakakatepe.
Suatu hari Ocin menemani seorang
mahasiswa kebidanan yang bernama Amoy. Ocin dan Amoy melakukan kunjungan rumah
untuk memenuhi sebuah tugas. Ocin dan Amoy mengunjungi sebuah rumah sederhana.
Rumah sederhana yang dihuni empat kepala. Ketika Ocin dan Amoy datangi, si ibu,
hmm..sebut saja Ibu Cinta Kasih menyambut Ocin dan Amoy dengan hangat. Tujuan kunjungan
ini hendak ngobrol-ngobrol dengan Ibu Cinta Kasih dan tentu obrolan ini akan
berujung edukasi lah ya.
Baiklah, singkat cerita inilah kisah
seorang Ibu Cinta Kasih hasil obrolan kami.
Ibu Cinta Kasih berusia
empat puluh dua tahun tengah hamil delapan bulan. Selama masa kehamilannya baru
satu kali periksa kehamilan di Puskesmas. Dari hasil pemeriksaan Ibu Cinta
Kasih ternyata hipertensi. Ibu Cinta Kasih memiliki dua anak. Anak pertama
seorang remaja puteri berusia empat belas dan yang kedua seorang pemuda kecil
berusia dua belas. Ibu Cinta Kasih tidak berniat hamil lagi. Dengan konsumsi
pil KB –yang tidak teratur—ternyata Ibu Cinta Kasih masih kebobolan.
Sampai disini Ocin dan Amoy
menyimpulkan kalau Ibu Cinta Kasih memiliki risiko tinggi pada kehamilan. Oke,
tidak cukup sampai disini, yuk dengerin ceritanya.
Terakhir ke Puskesmas Ibu
Cinta Kasih disarankan untuk periksa rutin sesuai jadwal dan rajin mengikuti
Kelas Ibu Hamil. Selain itu Ibu Cinta Kasih juga disarankan untuk dirujuk ke
rumah sakit. Lalu Ibu Cinta Kasih dibekali semua surat menyurat
(Kaka-Katepe-dll) sebagai administrasi menuju rumah sakit rujukan. Ibu Cinta
Kasih harus mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut yaitu pemeriksaan
ultrasonografi. Selain itu, surat menyurat tersebut juga dipersiapkan untuk
kelahiran si cabang bayi. Seorang ibu hamil dengan risiko tinggi seperti Ibu
Cinta Kasih harus melahirkan di rumah sakit. Jika ada komplikasi obstetri tentu
akan ditangani oleh tenaga medis yang berkompetensi secara cepat.
Wuih, sekilas amanlah ya. Surat
rujukan sudah diberi. Semua urusan gratis.
Ibu Cinta Kasih tinggal datang saja ke rumah sakit rujukan tersebut. Di rumah
sakit rujukan juga gratis. Hanya
menunjukkan surat-surat administrasi tersebut akan langsung diperiksa tanpa
dimintai sepeserpun. Namun nyatanya...
Ibu Cinta Kasih tidak
memeriksakan kandungannya ke rumah sakit rujukan. Surat menyurat urusan
administrasi itu tersimpan manis di lemarinya. Mengapa Ibu Cinta Kasih tidak
tergerak untuk ke rumah sakit? Ternyata oh ternyata. Inilah mengapa Ocin dan Amoy
datang ke rumah Ibu Cinta Kasih. Ibu Cinta Kasih berprofesi sebagai ibu rumah
tangga. Sehari-hari membantu suaminya berjualan makanan keliling. Penghasilan
sehari tidak lebih dari lima puluh ribu. Itu kalau lagi beruntung. Suaminya
memiliki sebuah sepeda motor namun sejak dua bulan lalu disita karena tidak
bisa membayar angsuran. Untuk menuju ke Puskesmas cukup jau. Ibu Cinta Kasihharus
naik ojek dengan ongkos sekitar sepuluh ribuan. Pun menuju rumah sakit rujukan
lebih jauh lagi juga harus naik ojek dengan ongkos sekitar sepuluh sampai lima
belas ribuan. Jadi kalau pulang pergi naik ojek berapa? Ahh, hitung sendiri ya.
Oleh karena itu Ibu Cinta Kasih memilih tidak memeriksakan kandungannya.
Amoy
dan Ocin terdiam. Mau kasih Ibu Cinta Kasih sebuah motor tidak mungkin. Atau
mau bawa alat yang namanya ultrasonografi beserta dokter yang berkompetensi ke
rumah Ibu Cinta Kasih. Itu lebih tidak mungkin lagi.
Ternyata
pengobatan gratis tidak lantas menyelesaikan masalah ya. Masih ada sekelumit
permasalahan lain yang menghambat warga negeri Kakakatepe untuk mendapat
layanan kesehatan. Susahnya menggapai akses layanan kesehatan dengan cerita
diatas hanya salah satu contoh saja. Ocin dan Amoy yakin masih banyak bentuk
permasalahan lain di luar sana yang menghambat warga negeri Kakakatepe mendapat
layanan kesehatan.
Sejatinya
warga negeri Kakakatepe memiliki kesadaran penuh untuk peduli terhadap
kesehatan mereka sendiri. Berjuang untuk meraih apa yang mereka butuhkan.
Jangan menunggu disuapi. Ocin dan Amoy begitu sedih melihat Ibu Cinta Kasih
tidak ada perjuangan terhadap kehamilannya sendiri. Tapi lebih sedih lagi
mengetahui kalau sampai disinilah batas kemampuan Ibu Cinta Kasih.
Akhir
cerita, Ocin dan Amoy minta no hp Ibu Cinta Kasih. Selain bersilaturahmi,
harapannya kalau memang Ibu Cinta Kasih mau ke rumah sakit dan tidak ada
kendaraan Amoy dan kawan-kawan yang akan mengantar (mudah-mudahan bisa).
Setelah itu Ocin tidak tahu lagi kisahnya sebab Ocin telah usai bertugas di
Puskesmas. Terimakasih.
Langganan:
Postingan (Atom)