Rabu, 03 Juli 2013

Kupu-kupu, Riang Menyambut Ramadhan

 
Teman.. iman, perasaan dan termasuk semua kisah tentang kita, tak jarang mengalami pasang surut.
Pasang surut bisa seperti air laut. Ahh, kalau memang seperti air laut, semoga selalu biru dan menyejukkan mata yang memandang.
Sebentar lagi Ramadhan, semoga kita senantiasa dituntun di setiap langkah dan terjaga dalam hati pun bersikap.
Teman, Ramadhan ini, mari kita jalani dengan khidmat, walau diwarnai dengan ke(sok)sibukan kita.
Sesekali atau bahkan setiap kali menjelang berbuka, bolehlah kita mecari kelapa muda.
Setelah itu berbuka diselingi dengan tertawa.
Teman, pada tanggal yang sama dan jam yang sama tahun mendatang ceritanya akan berbeda.
Aku dimana dan kalian dimana, sebab kita sudah akan menjemput janji masa depan masing-masing.
Oleh karena itu kalau ini Ramadhan terakhir kita berstatus koas (amin) mari kita nikmati bersama.

Kupu-kupu, riang menyambut Ramadhan
03 Juli 2013, di sudut kamar!
 

Rabu, 05 Juni 2013

Bianglala


“Ayah, perasaan dan iman itu berputar dan naik turun terus ya, seperti bianglala aja?” 

“Iya, namun senantiasalah berdoa, semoga ketika turun lalu naik lalu turun lagi, perasaan dan iman itu tidak disertai kekeliruan, justru dibalut dengan pemahaman yang baik.”
***


05 Juni 2013; 22.39
Ocin,
kepingin naik bianglala

KOK BISA UPIL SEGEDE BIJI MATA

            Barusan Zelfi cerita, dia empet banget sama pasien anak yang semaleman penuh dia follow-up. Bukan karena harus tiga puluh tiga kali mendatangi pasiennya dalam waktu kurang dari 24 jam. Itu mah biasa. Bahkan kalo pasiennya bagging-bagging-an, ya koas bisa jadi tidur di ketek pasien. Kali  ini yang  jadi masalah adalah pasiennya bawel pisan. Iya, pisan ambon, pisan kepok, pisan emas, pisan goreng, keripik pisan  juga enak. Wew, itu pisang cin! 

            Ketika Zelfi follow-up pasien ini, beehh... mukanya pada masem. Terus waktu Zelfi mau masukin obat yang isinya imunoglobulin bla bla bla itu, pasiennya malah marah. Nggak cuma itu saja, mamanya juga ikut ngomel. Ampun dah, padahal niatnya cuma mau  ngejalani tugas, eh malah kena  sembur. Ngemeng-ngemeng, saya mau ngucapin terimakasih buat pasien beserta keluarga besar pasien tipe seperti ini. Mengapa? Jelas, besar manfaatnya. Akibat kisah ini, alhasil sobat saya yang hatinya selembut sutera, terkoyak-koyak. Pulang-pulang langsung nyeritain tentang pasien ini. Daaann, ketika Zelfi cerita panjang lebar, apa coba tanggapan saya? Boleh saya tarik nafas? Yap, sederhana, saya cuma ngakak, “HAHAHAHAHA”. Terus lima menit kemudian jidat saya benjol, digeplak Zelfi pake galon. Okelah, ucapan terimakasih tadi tidak lain tidak bukan karena kisah singkat ini (pasti) ada manfaatnya buat Zelfi yang merasakan, buat saya yang mendengarkan dan buat eluuuu yang nggak sengaja baca tulisan ini.    
         
            Sebenernya saya dulu  juga pernah dapat pengalaman serupa tapi dengan modifikasi. Waktu saya mau follow-up seorang pasien anak, terus  nanyain jumlah cairan yang masuk dan keluar (buat ngitung diuresis), tentu dengan senyum teramah tingkat dewa, saya malah mau disiram pake air pipis pasien yang udah dikumpulin dalam botol air mineral sama bapaknya pasien. Bapaknya pusing kali, tiap hari ngumpulin pipis anaknya ke dalam botol. Mending kalo diusep-usep botolnya keluar jin, terus pake permadani ngajak si bapak jalan-jalan ke Pasar Senen. Tapi  itu nggak mungkin. Air pipis ya air pipis aja. Nggak bakal berubah sampe lebaran kuda. Saya yakin 35797647783587698 % koas-koas di seluruh dunia juga pernah mengalami pengalaman yang sama. Boleh jadi saat mengalaminya, hati ini hancur. Yuk nyanyi bareng  Olga, hancur hancur hancur hatiku, hancur hancur hancur hatiku. STOP! Tapi setelah masa—masa itu terlewati, mengenangnya jadi ketawa sendiri. Ngekek sendiri dan pengen lompat-lompat saking lucunya.
           
          Well, teruntuk koas-koas di manapun anda berada. Bertemu siapapun anda. Yah, hadapin aja. Filosofi ini jangan kita lepas. Mari kita tanamkan lekat-lekat di jiwa ini (duileee iye banget!). Kalo niatnya ibadah, ya jalani aja. Kalo disemprot ibu-ibu cerewet, ya  nikmatin aja. Kalo  lengan kita dibejek-bejek sama ibu yang mau melahirkan, ya  nikmatin aja. Paling banter waktu si ibu sudah sukses lahiran, kita jingkrak-jingkrak  ikut kesenengan liat bayinya mucul ke dunia. Tanpa sadar lengan kita udah remuk patah seribu. Kalo ada pasien yang muntah dan muncrat-muncrat tepat di depan muka kita. Ya, tetep bersyukur. Konon katanya yang jerawatan malah jadi lebih mulusan. Kalo ada pasien yang tiba-tiba ngasih sekotak roti, nah jangan ragu-ragu untuk tidak menolaknya,hahahahaha. 

            Mudah-mudahan, sampai sejauh ini kita semua yang masih menyandang gelar koas masih semangat dan menikmati (tulisan ini dipersembahkan dan dipersiapkan untuk koas yang bisa galau sewaktu-waktu, karena merasa –susahnya jadi  koas--). Beruntungnya saya sudah melewati beberapa stase yang berat. Tidur beralaskan kardus, selonjoran di bawah tempat tidur pasien, nggak mandi dua hari --sudah pernah dilewatin--. Hasilnya, ya begini. Sekarang jadi cewek tahan banting tahan air. Jadi, kepada pemuda-pemuda yang hendak mencari teman hidup, saya rasa koas bisa dijadikan salah satu pilihan, sebab  mereka terbiasa susah. Loh? Loh?. 

            Kembali lagi ke kisah Zelfi tadi. Saya nggak digeplak pake galon kok. Saya boong,hehe. Ternyata eh ternyata, pasien itu emang masem sama semua tenaga medis. Nggak cuma sama Zelfi kok, koas-koas lain juga, perawat juga, kakak residen juga (kali ya). Menurut saya,  justru enak ngadepin pasien yang begituan. Mungkin mereka terlampau stres menghadapi penyakitnya yang demikian. Oleh karena itu, mereka besikap seperti itu. Kita sebagai koas harus tetap profesional, senantiasa menenangkan dan lebih bagus mengobati. Dulu, boleh jadi waktu pertama kali mengalaminya saya shock, sampe takut mengunjungi pasiennya dan lari tunggang lnggang menuju wc karena kena serangan mau beol akut #ga #nyambung. Tapi yakin deh, kalo sekali lagi saya berada pada kondisi demikian atau kalian juga menghadapi, pakai aja jurus ini. 

            “adek, obatnya jangan lupa dimakan ya” menyarankan sembari mengelus hidung pasien.      
“Wey, bodo amaaatt, obatnya nggak mau saya makan!” ujar si pasien sambil lompat-lompat di tempat tidur dengan mata melotot.
            “Hha, eh itu dek, bersiin dulu, KOK BISA UPIL SEGEDE  BIJI  MATA
!!!!!” lalu kabuuuurrrrrr.


***
Jreng.. Jreng.. Jreng..

“Mereka memberi pelajaran untuk banyak hal. Mereka tidak hanya memperkaya isi otak kita, tetapi juga memperkaya isi hati kita. Sungguh merugi, sudah lusuh menjalani masa-masa kepaniteraan namun tidak bertambah --kaya—“




31 Mei 2013; 17;01
Ocin yang masih bau keringat,
Pulang dari rumah sakit

Sabtu, 18 Mei 2013

Kompas Kebijakan


Terkadang kita memang harus disuruh berjalan lebih jauh, berputar-putar, kebingungan, lalu tersadarkan, bahwa “kompas kebijakan” akan membawa kita pulang, pulang ke asal, ah..bukan asal, tapi lebih seperti titik dimana kita memulai perjalanan...

Teman, ini bukan cerita serius. Mohon tidak perlu ditanggapi dengan isi kepala yang berlebihan, helaan nafas yang panjang, dan tetesan peluh yang ribuan. Cukup duduk manis, selipkan senyum simpul. Sudah itu saja. Terimakasih sebelumnya.

***

“Sudah, dimana Put posisi mu?”
“Sudah di tempat Nanan instruksikan tadi”
“Toilet umum yang bersebelahan dengan mushola?”
“Hha, iya Nan..”

***

Sore tadi, Putri menerima kiriman sebuah kain songket. Kain songket kesayangan ibu yang akan Ia kenakan di sebuah acara hari Minggu nanti. Kain songket yang sudah dititipkan ibu lewat Nanan dan Neno. Siapa Nanan dan Neno? Please, mereka bukan teman yang datang dari negeri Sakura. Kedua itu hanya panggilan sayang. Nanan artinya wak lanang dan Neno artinya wak betino

Putri, Nanan dan Neno sepakat untuk bertemu di taman kota, di dekat sebuah pasar kecil di muka kota. Setibanya di taman kota, Putri mulai menelusuri jalanan dari sebatang pohon yang daunnya begitu rindang. Sekali lagi, sebatang pohon yang daunnya begitu rindang.

Putri berjalan, menyusuri taman kota, menuju sebuah pasar kecil. Siapa tahu Nanan dan Neno ada disitu. Belum tahu, Nanan dan Neno ada dimana tepatnya. Tapi Putri tetap melangkah pasti, melanjutkan langkah kakinya, entah kemana. 

Sebuah keramaian. Senang sekali menyaksikan beragam wajah disini. Tidak perlu jauh-jauh pergi ke bioskop untuk menonton film. Cukup disini saja. Disini ada sebuah film kehidupan, yang nyata, bukan fiktif belaka. Mungkin sebagian orang tidak akan tertarik. Tapi disini, menyimpan banyak cerita. Jelas saja, disini, sebuah taman yang dipenuhi oleh ratusan pasang mata. Sebuah aktivitas rutin di pasar kecil ini. Ada yang berjualan dan ada juga yang membeli. Apa hanya diramaikan dua komponen ini? Iya sebuah pasar kecil di muka kota, sejatinya ada yang menjual dan ada yang membeli. Tapi masih ada komponen lain yang ikut nimbrung. Turut meramaikan cerita pasar kecil ini. Komponen ketiga adalah mafia-mafia terdidik oleh kerasnya kehidupan. Apalagi kalau bukan para pencopet.

Satu, dua, tiga orang sibuk menjajakan jualannya. Beberapa yang lain sibuk juga memilih barang apa yang hendak dibeli. Dan tak ketinggalan, komponen ketiga tadi, dengan tangan-tangan terlatih, merogoh kantong-kantong yang pemiliknya lengah. Putri sebagai penonton, malah ketakutan. Putri disini memang hanya jadi penonton. Penonton film kehidupan.

Tiba-tiba tersadar, bahwa kedatangannya kemari adalah untuk menemui Nanan dan Neno. Putri mengambil handphone dari sakunya, segera mencari kontak yang Ia namai “Nanaaaaaaaaan” dan segera menekan tombol call.

“Halo..halo..” terdengar suara dari seberang. Riuh. Suara yang tidak terdengar jelas ditutupi oleh suara bisingnya keramaian.
“Halo, Naaannn...”
“Iya..iya..dimana Put?”
“Sudah di pasar kecil dekat taman kota.”
“Iya, Nanan tidak jauh dari situ. Coba berjalan ke arah pinggir, cari pohon-pohon, Nanan ada dibawah pohon”
“Iya Nan, disana ada pohon. Apa Nanan disitu?”
“Iya.”
“Pohon kamboja ya.”
“Tutt.. Tutt” panggilan berakhir. Putus begitu saja.

Putri berjalan menuju barisan pohon Kamboja di pinggiran pasar. Mencoba menerobos keramaian pasar kecil. Setibanya di barisan pohon Kamboja, Nanan dan Neno tidak ada. Ah, mungkin bukan di barisan ini. Putri memutar tubuhnya melangkah ke arah berlawanan. Menuju barisan pohon Kamboja yang ada di seberang. Ternyata, disini Nanan dan neno tidak ada juga. Putri menghapus peluh di dahinya.

Putri mencoba menelpon ulang Nanan, tapi sayangnya nomor telepon yang dituju tidak bisa dihubungi. Putri seperti ayam kehilangan induk. Di tengah keramaian kota, Putri harus berputar-putar mengelilingi setiap sudut pasar kecil ini. Pasar kecil yang dipenuhi oleh ratusan pasang mata. 

Putri mencoba menelpon ulang. Beruntungnya kali ini Putri bisa mendengar suara Nanan diseberang, walau sayu-sayu.

“Putri sudah menelusuri semua barisan pohon Kamboja. Nanan dimana?”
“Nanan bukan di bawah pohon Kamboja Put, tapi dibawah pohon besar yang daunnya rindang.”

Putri melanjutkan langkahnya. Mencari pohon besar yang daunnya rindang. Tibalah disebuah pohon. Tapi sepertinya bukan, mana mungkin Nanan berteduh di bawah pohon yang disekelilingnya ditutupi pagar. Menandakan tidak boleh ada yang duduk dibawahnya apalagi berjualan. Putri memutar arah lagi. Berjalan. Langkahnya mulai gontai. 

Putri mencoba menelpon lagi.

“Kalau terlalu sulit mencari pohon besar yang daunnya rindang. Putri ke mushola dekat toilet umum saja, Nanan jemput disana.”
“Iya Nan.”

Seperti ada pencerahan, Putri bergegas mencari mushola/toilet yang dimaksud. Setibanya disana.

“Sudah, dimana Put posisi mu?”
“Sudah di tempat Nanan instruksikan tadi”
“Toilet umum yang bersebelahan dengan mushola?”
“Hha, iya Nan..”

Nyatanya, seorang wak dan kemenakan ini tidak saling berdekatan, tidak saling berpunggungan, apalagi saling pandang. Sebenarnya, keduanya memang berjanjiam untuk saling menemukan di depan toilet umum yang bersebelahan dengan mushola, tetapi nyatanya mereka berada di tempat yang berbeda. 

Putri menelpon Nanan lagi.

“Nan, Putri sudah berdiri dibawah tulisan TOILET/MUSHOLA”
“Nanan sudah berdiri tepat di depan mushola juga Put.”

Putri celingak-celinguk. Menoleh kanan kiri. Aduhai, hatinya semakin cemas. Ia tidak mendapati seorang lelaki paruh baya --yang Ia kenal sejak kecil-- di tempat yang sama. Lalu diamana?.
“Putri, coba jalan ke arah mushola.”
“Iya Nan, ini sudah tepat di depan mushola.”
Putri mulai bingung. Mulai merasakan bahwa sebenarnya mereka berada di tempat berbeda.
“Nan, Putri berdiri di depan mushola sebelah utara taman kota. Nanan dimana?”
“Ah, pantas saja. Nanan di depan mushola sebelah selatan taman kota.”

Putri bergegas berlari menuju mushola sebelah selatan taman kota. Dari jarak kejauhan, matanya sudah menangkap seorang lelaki paruh baya berdiri tepat di depan mushola dengan wajah cemas. Haha, seolah melihat setitik cahaya, Putri langsung tersenyum sumringah.

“Kamu tidak apa-apa?” tanya Nanan mencemaskan.
“Haha, santai Nan..lumayan jalan-jalan (alias melanglang buana) di sore hari.”
“Mari, kita ke pohon itu, Neno sudah dari tadi menunggu disitu.” Nanan menunjuk sebuah pohon besar yang daunnya rindang. Sekali lagi, pohon besar yang daunnya rindang.
“Hha..pohon itu, tadi Putri mulai berjalan dari bawah pohon itu Nan.” Putri menjelaskan begitu semangat dan Nanan hanya bisa ketawa.
“Jadi, tadi itu bisa jadi kita sudah saling membelakangi ya Nan, tapi memang Putri disuruh keliling dulu,hehe” Celoteh Putri sambil ketawa cengengesan.

***

Seperti sinetron ya. Entahlah. Saya beri judul tulisan ini “Kompas Kebijakan”, saya sendiri bingung apa maksudnya. Tapi yang jelas, kompas kebijakan selalu pandai menjawab. Iya, pandai sekali menjelaskan mengapa begini dan mengapa begitu.



18 Mei 2013; 02:04
Putri,
Yang tadi sore kebingungan.

Minggu, 05 Mei 2013

Ga ada judul!

"sedang apa kau Putri?"

"menulis.."

"berhentilah, hari sudah malam.."

"sebentar lagi, setelah menulis yang satu ini"

***

   Saya sudah mengantuk sebenarnya, tapi ada satu hal yang menunda saya tidur. Apa? apa? apa? tentang cerita ini. Jikalau saya terlelap dan bangun esok hari, siapa tahu saya tidur ngulet-ngulet hingga kepala saya membentur dinding lalu bangun dengan lupa ingatan. Lalu cerita ini hilang begitu saja. Sayang sekali. Saya sudah izin kepada mata saya untuk sabar sebentar,hehe

   Tadi sore, sepulang dari menjenguk adek saya, di dalam angkot saya bertemu dengan seorang perempuan paruh baya. Tidak ada yang spesial. Kami saling pandang dengan cara biasa saja. Namun, ketika saya lihat tangannya. Iya, tangannya tidak mampu menahan saya untuk tidak bertanya. Kalian tahu, tangan ibu itu melepuh. Kulitnya, mengelupas di semua sela-sela jari. Ada bagian luka terbuka dan kelihatan lembab. Jangankan ibu itu, saya yang melihat merasa ngilu. Oh, entahlah apa mungkin saya yang lebay.

   Saya berpikir, apalah pekerjaan ibu ini hingga tangannya begitu. Saya pikir ini pasti "Penyakit akibat kerja" hehe maklum abis lewat IKM. Waktu saya tanya benar! ibu ini adalah buruh cuci pakaian. Jadi melepuh dengan hebatnya kulit ini bisa jadi akibat deterjen. Akibat terpapar zat iritan berkali-kali, jadilah begini. Ternyata oh ternyata ibu ini merasa kalau dirinya kena penyakit diguna-guna. Dia juga merasa sedih karena anaknya kurang memperhatikannya. 

   Karena saya juga sering nyuci baju, dan pernah juga seperti itu, tapi cepat tertanggulangi karena saya mengenali agen iritannya. Lalu ibu ini tidak paham sama kulitnya. Jadi saya sarankan untuk mengenali deterjen mana yang tidak cocok terus cepat ganti.

   Sudah, ini saja. Pesan cerita ini adalah kalau punya bibi cuci di rumah coba liat tangannya siapa tahu mengelupas kayak gitu juga. Nah, apalagi kalau ternyata yang mencuci ibu sendiri. Termasuk saya sendiri, nanti kalau pulang mau liat telapak tangan ibu saya. Baiklah, semakin malam saya semakin ngeracau. Selamat malam!



HOAAAMMMM....NGANTUUKK...