Jumat, 12 April 2013

Kamu tidak Sendiri, Ada aku dan si Kembang Api

Sekali lagi, aku mendapati air mata mengalir dari sudut mata mu. Tanpa kata-kata, tanpa suara. Aku mendengar dan aku merasa. Kamu begitu sedih tampaknya. Iya, tidak salah lagi kamu begitu sedih. Air mata mu sungguh mengiris hati ku.

Mari mendekatlah pada ku. Raihlah pundak ku. Aku akan memeluk mu, mendekapmu, hangat. Berikan tangan mu yang terkulai itu, biar ku genggam. Disini, kita berdua. Hening. Begitu dalam.

Mari ceritakan pada ku, apa yang menjadi gelisah mu. Aku berjanji akan mendengarkan tanpa memotong dengan satu kata pun. Tampaknya kesedihan mu begitu dalam sehingga mulut mu gemetar, tak mampu berucap. Aku memandangi mata mu lamat-lamat. Jelas sekali, mata mu tak mampu berbohong. Kesedihan mu masih tentang yang satu ini, kesendirian.

Mengapa kamu masih merasa sendiri, sedang aku masih disini, menemani mu. Terkadang kita merasa hidup seperti tidak adil memang, karena kita sedang diuji dengan sejuta kisah-Nya. Jangan takut, itulah cara Tuhan mendewasakan. Ketika seisi dunia meninggalkan mu, mengabaikan mu, melupakan mu, aku menemani mu.

Apa berdua dengan ku masih terasa sepi? Aku memiliki tiga buah kembang api. Kalau begitu mari kita bermain kembang api. Oh ya, sebelum kita mulai menyalakan kembang api, izin kan aku menghapus air mata mu terlebih dahulu. Bukan apa-apa, aku hanya takut, kalau kena tetesan air mata mu, kembang api yang kita nyalakan akan mati.


Kembang api pertama..
Cassshh..
Lihatlah percikan apinya begitu indah bukan. Hei....awaaass..percikan apinya nyaris  mengenai jemari mu.

Kembang api kedua..
Cassshh..
Hhaa..percikan kembang api yang ini, lebih ramai ya..

Kembang api ketiga..
Cassshh..
Oh..kembang api, jangan mengeluarkan percikan api yang begitu garang..

Kembang api kita sudah habis. Aku pandangi lagi wajah mu. Tidak tampak ceria. Tapi setidaknya tidak begitu sedih seperti tadi. Lalu tiba-tiba kamu tersenyum kecil. Ini persis, senyum yang ditahan-tahan. Mengapa untuk tersenyum kamu lebih memilih untuk menahannya, sedang menangis bisa sangat sejadi-jadinya. Coba jadikan senyum mu ini sebagai senyum yang lepas. Aku yang memintanya. Tapi bukan untuk ku sepenuhnya. Sebagiannya akan aku bagi untuk ketiga kembang api tadi.

Dan kali ini kamu tersenyum sumringah. Mata mu berbinar-binar. Aah..kamu keliatan lebih lucu. Coba tersenyum lagi. Kamu semakin melebarkan senyum mu. Benar,  kamu semakin lucu.

Sekarang waktunya kamu tidur. Kamu sudah terlalu lelah menangis tadi. Tidurlah, tidurlah dengan lelap. Aku tidak mengizinkan mu bermimpi, karena berjumpa dengan ku dan ketiga kembang api tadi cukup menjadi mimpi indah mu malam ini. setelah kamu terbangun nanti, aku pastikan kamu baik-baik saja. Kamu bahagia dan kamu tidak pernah merasa sendiri lagi. Namun, jikalau kamu merasa seisi dunia meninggalkan mu, mengabaikan mu dan melupakan mu, maka masih ada satu orang yang tersisa, aku yang akan menemani mu. Cepat pergi tidur dan aku akan datang lagi dalam mimpi mu esok hari, bermain kembang api lagi, jika kau merasa sendiri lagi.

AKU INGIN MENJADI GURU

Selamat Pagi!
Hai adek-adek semua yang akan menjelang Ujian Nasional dan Tes Perguruan Tinggi. Kakak ucapkan selamat pagi! Mengapa harus pagi? Padahal ketika kalian membaca ini entah sedang jam berapa, dimana dan bersama siapa. Sejatinya itu tidak terlalu penting. Yang jelas (pernah) seorang guru selalu setia mengucapkan selamat pagi. Baginya waktu selalu pagi. Tidak peduli senja kian menghampiri. Sekarang kakak paham, bahwa pagi memberi janji dan harapan. Iya janji dan harapan untuk kelangsungan satu hari ini.
Adek-adek yang semangat dan energinya begitu luar biasa. Mari rehat sejenak. Mendekat kepada kakak. Kakak ingin bercerita. Ini hanya cerita sederhana yang datang dari negeri antahbarantah.

***
Di suatu desa yang berada di pinggiran kaki gunung berdiri sebuah sekolah. Sekolah Ceria namanya. Nama yang lucu bukan? Sebenarnya sekolah ini tidak punya nama. Dulu warga desa ini malas sekali sekolah. Mereka lebih suka menghabiskan waktu di sawah. Bekerja, bermain dan aktivitas lainnya. Anak-anaknya yang lucu dan semangat namun seperti tiada arah. Hingga suatu ketika seorang pemuda bernama Arul hendak mendirikan sekolah. Syarat masuk sekolah ini mudah saja. Apa itu? Iya, semua harus ceria.
Syarat yang sederhana ini apabila dijabarkan seperti ini kira-kira, anak-anak yang bersekolah tidak diwajibkan dengan sistem yang kaku. Tentunya bersahabat dengan alam dan diisi dengan keceriaan. Anak-anak tidak wajib pakai seragam sekolah ataupun sepatu. Asal menjalani proses belajarnya ceria. Itu saja sudah cukup. Awalnya warga kampung tidak mau memasukkan anak-anaknya ke sekolah Ceria ini. Hanya ada empat siswa yang berminat. Tapi bagi Arul tidak jadi masalah. Asal keempat anak ini ceria.
Keempat siswa ini senang sekali menjalani proses belajar di sekolah Ceria. Bersama Pak guru Arul, mereka bisa belajar apa saja dan bertanya apa saja. Misalnya mengapa embun hanya ada di permukaan daun ketika pagi hari. Mengapa semut kalau bertemu satu sama lain harus berciuman. Mengapa setelah hujan akan muncul pelangi. Dan masih banyak pertanyaan mengapa mengapa lainnya. Sebenarnya Pak guru Arul juga tidak tahu pasti apa jawabannya. Tapi dengan keceriaan anak-anak ini, mereka diharapkan mencari tahu, memikirkan lalu berusaha menyimpulkan sendiri sesuai pemahaman mereka. Disinilah terciptanya proses berpikir.
Keempat siswa tadi tumbuh semakin cerdas. Banyak hal yang mereka pikirkan dan mereka perbuat. Para orang tua merasakan perubahan itu. Misalnya ketika anak-anak ini membantu orang tuanya bekerja disawah. Mereka mencari cara-cara yang efektif dalam bekerja. Misalnya memindahkan air dari satu kolam ke kolam lainnya yang lebih rendah permukannya. Bagaimana kalau kita buat kincir air sederhana. Sehingga tidak perlu bersusah payah menghabiskan tenaga dan waktu. Kincir air sederhana itu bisa memindahkan air dari kolam yang tinggi ke kolam yang lebih rendah.
Tahun ini boleh jadi ada empat siswa. Tahun berikutnya ada tujuh. Tahun berikutnya lagi ada dua puluh. Dan setiap tahunnya selalu bertambah. Pak guru Arul sempat kewalahan karena jumlah siswa bertambah namun tidak diimbangi jumlah guru. Namun baginya tak mengapa. Sebab sekolah ini tidak ada batasan kelas. Sekolah ini hanya ingin siswanya belajar dengan ceria. Belajar banyak hal. Memikirkan banyak hal yang ada disekitar mereka walau tanpa guru.
Ternyata perubahan tidak sampai disitu. Pola pikir mereka juga berubah. Apa yang mereka tanyakan dan apa yang mereka pikirkan tidak cukup sampai disitu. Mereka butuh jawaban lebih pasti lagi. Butuh pembelajaran dan pemahaman yang lebih jauh. Oleh karena itu semua anak-anak ini akhirnya mau bersekolah ke tingkat selanjutnya. Untuk melanjutkan sekolah mereka harus hijrah ke kota.
Hebat. Semua anak-anak memiliki mimpi besar. Cita-cita yang mereka lontarkan luar biasa. Kerja keras mereka menggugah para orang tua. Dari generasi ke generasi terdengar, alumni sekolah Ceria melanjutkan ke sekolah ternama. Mimpi-mimpi mereka terwujud. Ada yang menjadi pembuat kapal terbang, menteri, pengusaha besar, pemain sepak bola handal dan masih banyak yang lain yang juga luar biasa.
Suatu ketika Pak Arul jatuh sakit. Sekolah Ceria sempat terhenti. Namun Pak guru Arul berpesan,
“Duhai anak-anak ku sayang. Terus hiduplah dengan keceriaan kalian. Teruslah belajar. Sekolah ini terbiasa belajar tanpa guru.”  
Anak-anak tetap bersemangat namun tidak begitu ceria. Guru mereka tergolek lemah. Dan keceriaan itu semakin sirna ketika pak guru Arul meninggal dunia.
Sedih. Kehilangan. Iya, itu pasti. Namun anak-anak harus tetap belajar dan bertanya banyak hal. Namun bagaimana jika tidak ada guru? Ternyata mereka merasakan bahwa kehadiran seorang guru begitu berpengaruh. Walau semua proses belajar bisa dilakukan sendiri namun seorang gurulah yang akan menjadi pemberi rambu-rambu. Mengarahkan jalan permainan.
Anak-anak ini mengirim surat kepada semua alumni sekolah Ceria yang sudah tersebar di seluruh penjuru negeri. Mengabarkan bahwa Pak guru Arul telah meninggal dunia dan mereka tidak punya guru lagi. Dan satu pertanyaan sebagai penutup surat. Tidakkah satu diantara kalian yang hebat-hebat ini mau menjadi guru kami???

***
            Adek-adek, ceritanya krik..krik.. ya? Hmm..kita ambil pesan moralnya saja ya. Mohon maaf kakak tidak bermaksud menyalahkan siapa-siapa. Sekarang susah sekali menemukan siswa yang kalau ditanya apa cita-citanya? SUWER SERIUS BENER-BENER PENGEN JADI GURU!! Kabar baiknya, kebanyakan siswa-siswa akan melambungkan cita-citanya setinggi langit dengan memilih program studi yang bukan kependidikan. Kabar buruknya, Mohon maaf sekali, kakak mohon maaf banget banget banget program studi keguruan dijadikan pilihan alternatif. Sungguh, kalau adek-adek bercita-cita menjadi seorang guru. Ini cita-cita yang mulia dek. Bahkan Bapak B.J. Habibie yang kecerdasannya luar biasa dulu bersekolah juga dididik oleh guru. Oleh karena itu jangan pernah ragu-ragu menjadikan program studi keguruan pilihan utama.
            Kakak menulis ini dan ngarang cerita diatas tidak disponsori oleh pihak manapun. Kakak juga tidak kuliah di program studi keguruan. Ini hanya buah pemikiran atas fenomena -sedikit sekali siswa yang benar-benar bercita-cita menjadi guru-. Kakak juga tidak berniat mengerucutkan pikiran adek-adek. Selamat belajar! Pesan Pak guru Arul tadi, Terus hiduplah dengan keceriaan kalian. Teruslah belajar.

***
Oh ya, teruntuk guruku sayang yang dulu mengajarkan saya dari A sampai Z. Mengajarkan membaca dan menulis. Iya, ini hasil kerja kerasmu. Anak muridmu (alhamdulillah) sudah bisa merangkai kata-kata.

Selasa, 09 April 2013

Tentang Pesta Pernikahan

Nak, mari kesini sebentar emak mau bercerita sesuatu.

 Julia, gadis belia mendekati emak, lantas berbaring disamping emak. Seperti biasa di penghujung malam sebagai penghantar tidur, emak akan bercerita tentang sesuatu. Kali ini tidak lain tidak bukan yaitu tentang pesta pernikahan. Yuk sama-sama dengerin. Cekidooott !!!!

***
Julia, mumpung kamu belum terlanjur terbuai akan keindahan dunia. Ada banyak dalam kehidupan ini yang bergeser dari konsep dasarnya. Nah termasuk yang satu ini, makanya emak mau cerita, ini cerita tentang pesta pernikahan emak dulu. Ada banyak urusan untuk mengadakan pesta pernikahan Julia. Berat badan emak dari 55 kg drastis turun menjadi 45 kg. Apa saja yang membuat emak menjadi kurus? Yaa..ini dia.

Undangan Pernikahan
Undangan pernikahan emak sama abah bukan main hebohnya. Warnanya merah menyala. Disudut-sudutnya terdapat ukiran emas. Sekilas dilihat, rasanya nggak tega untuk dibuka. Takut lecet. Bahan undangan dari kertas terbaik. Kertas terbaik tentu dari pohon terbaik kali ya. Harganya barang tentu sangat muahaaal. Kalau dihargakan sekarang mungkin Rp. 100.000 sebijinya. Setiap orang menerima undangan itu, pasti memuji. Wah, emak sama abah bukan main bangganya. Maklum urusan sekali seumur hidup. Tapi apa Julia, tepat setelah seminggu dari pesta pernikahan emak dan abah. Waktu emak mau buang sampah di TPS ujung kampung. Emak menemukan undangan itu terkulai dengan manisnya diantara tumpukan sampah. Hhuuuhh.., emak jengkel setengah mati. Orang nggak tahu apa ini harganya mahal. Jangan bilang yang buang ini dulu cuma ngasih amplop 10.000 perak. Cobalah dalam undangan emak buat tulisan, “MAAF INI UNDANGAN MAHAL, HARGA CETAK SERATUS RIBU, MOHON NGAMPLOP MINIMAL SEPULUH KALI LIPATNYA.”. Lumayan kan satu orang bisa ngasih satu juta. Tapi setelah emak pikir-pikir, orang tidak salah membuangnya. Toh sudah habis fungsinya. Cuma sebatas undangan yang isinya informasi kapan mau nikah dan dimana. Jadi apa gunanya undangan bagus-bagus kalau ujung-ujungnya masuk kotak sampah juga. Yang sederhana sajalah. Kan yang penting isinya. Uang percetakan bisa digunakan untuk yang lain yang lebih penting.

Foto Pre-Wedding
Nah, yang satu ini. Beeehhh... jaman emak baru happening banget dah. Kalo di pintu masuk gedung ada foto macam beginian berasa pesta emak paling keren sedunia. Tak lupa pula gaya yang kami pakai buat berfoto, abah memeluk emak dari belakang. Jadilah tangan abah semacam safetybelt yang melilit badan emak. Dan yang nggak kalah penting lokasi pemotretan di Dubai. Biar mirip-mirip artis gitu. Tapi setelah emak pikir-pikir emak malu sesudahnya. Kemesraan yang jelas-jelas waktu itu emak belum di-ijab-qabul sama abah udah dipertontonkan. Pas malam pertama, waktu abah meluk emak dari belakang. Emak nggak merinding lagi (lah kalo merinding emang kenapa yaakk). Terus duit abis dipake pemotretan jauh-jauh ke Dubai. Mending emak kumpulin buat naik haji. Jadi menurut emak foto yang begituan nggak begitu penting. Nggak jamin rumah tangga bisa semesra di foto itu. Malah emak mikirnya kenapa foto pre-wedding emak dulu nggak gabungin foto abah sama emak waktu masih SD. Terus ingus meleleh-leleh di atas mulut. Pasti lebih unyu.

Orgen Tunggal Lengkap Beserta Biduan Seksi
Nah yang satu ini, jaman dulu mesti kudu wajib ada. Nenek sama kakek kan orang kaya dijamannya. Nggak keren aja kalo nggak ada musik beserta biduan seksi yang menghibur. Masak iya sih, katanya pesta pernikahan tapi sepi nggak ada musik. Terus pas acaranya sepi. Krik..Krik.. Jadilah musiknya dangdutan dan biduannya goyang yang indehoy. Warga kampung asik mendekat ke panggung. Buat apa? Abis biduannya pakai rok mini sih. Tak lupa pula warga kampung (khususnya bapak-bapak) nyiapin duit buat saweran, ngasih biduannya. Waduh, nggak tahu apa istri dan anak-anak di rumah udah makan apa belom. Beras di dapur masih ada apa nggak. Nah, jaman berganti jaman. Sekarang giliran emak yang kondangan. Pas liat ada biduannya pakai baju seksi. Kok emak jadi malu sendiri. Apalagi emak ini perempuan juga. Terus pas tahu abah mau ikutan joget sama biduan. Beeehh..emak naik pitam. Asap ngepul keluar dari kuping emak. Terus emak tarik lagi abah kebelakang. Emak gaplok pantatnya pake teplon (ceritanya emak kebetulan lagi bawa teplon). Jadi kalau mau pakai hiburan, ya hiburan yang sewajarnya sajalah. Hiburan yang buat sama-sama seneng. Pengantin riang Bapak-bapak senang dan ibu-ibu tenang (nggak bakal lakinya ngedektin biduan).

Pembacaan CV Pengantin
Julia, kamu tahu kan waktu masih muda emak banyak prestasi. Iya, berbagai lomba antar kampung emak jabanin. Lomba yang pernah emak ikutin diantaranya lomba lompat karung, lomba masak biji nangka sampe lomba menanak nasi sambil kayang. Rata-rata emak juara. Otomatis waktu nikah disebutin dong ya satu-satu. Selain itu gelar emak panjang lebar. Kalo jaman sekarang gelar cuma ada di depan sama belakang, emak di tengah nama juga ada. Lho kok bisa mak? Terserah emak dong yang punya nama dan gelar juga emak. Emak bangga dong dibacain CV emak. Saking banyaknya yang disebutin makan waktu lamaaaaa banget. Para undangan gerah, nggak sabaran pengen cepet makan siang. Tuh kan orang bukannya simpati yang ada malah enek. Tapi setelah emak pikir-pikir kenapa emak nggak nampilin video lucu waktu emak ngucapin selamat ultah buat abah jaman pacaran yaak. Saking terhiburnya para undangan bakal teriak LAGEE LAGEE LAGEE dengan kompaknya.

Pawang Hujan
Yang satu ini semacam ritual sakral. Ada banyak cara yang dipakai warga. Tapi emak pakai cara yang paling mujarab. Apa itu? Ssttt..diem-diem aja ya. Jangan bilang sama abah. Kata Mr. Konon, kalau di pesta pernikahannya mau terhindar dari hujan, ya celana dalem pengantin prianya harus dicolong terus ditarok di atas loteng. Emak ngambil celana dalem abah diem-diem. Kata Mr.Konon lagi, kalau ada celana dalem pengantin pria nancep di loteng sudah pasti hujannya nggak berani dateng. Hujannya takut liat ada celana dalem nangkring di area sekitar yang mau dihujani. Tapi apa mau dikata, mungkin celana dalem abah kurang sakti, alhasil hari pesta pernikahan emak masih hujan juga. Padahal seperti yang kita tahu, hujan itu anugerah, rezeki dari Sang Pencipta. Langkah yang emak ambil itu adalah perbuatan syirik. Selain itu emak kapok dah pegang celana dalem abah. Emang kenapa mak? Aromanya aduhai, mirip-mirip terasi Bangka.

Bermewah-mewah
Dan akumulasi dari semua yang diatas adalah bermewah-mewah. Nggak bisa dipungkiri. Emak anak semata wayang. Abah anak semata kaki. Jadi nggak keren kan kalo pesta pernikahannya nggak mewah. Mana abah itu kan anak pejabat kampung. Rasanya seisi negeri harus tahu kalau yang nikah ini anak pejabat kampung. Bisa jadi ambisi dari orang tua pengantin. Kalaulah dari dulu emak sadar, emak akan menahan ambisi nenek sama kakek untuk berlebay-lebay ria. Sesungguhnya yang berlebay-lebay itu temannya setan.


Begitulah Julia cerita pesta pernikahan emak. Pada dasarnya perayaan pernikahan itu, dengan mengundang kerabat, sanak keluarga dan seisi negeri, tujuannya adalah ingin mengumumkan bahwa ada dua insan yang telah dinikahkan dan memohon doa agar yang dinikahkan ini menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan warrahmah. Sudah itu saja cukup. Jadi kalau ditengok mereka jalan berduaan, tentu saja tidak ada fitnah. Nah yang lain-lain itu adalah aksesorisnya saja. Ya, beginilah dunia banyak yang terlalu indah. Sehingga keindahannya mampu membuai penghuninya.  

***
Tulisan ini terinspirasi dari tulisan lama Tere Liye yang saya coba daur ulang,hehe. Semoga yang menulis (saya sendiri) dan yang membaca (siapa saja) sama-sama disadarkan.

Dari Nadia untuk Teman

Teman, sedang apa kamu disana? Ahh, tentu sedang tertawa sambil menyisir boneka atau mungkin kamu sedang mengerjakan PR kita yang diberikan oleh Ibu Adin minggu lalu.

Teman, padahal baru tadi pagi ya kita berjalan berdua menyusuri jalan setapak di dekat rumah menuju gedung sekolah.

Teman, kamu ingat pagi tadi tali sepatu ku lepas. Waktu kita hendak berlari menuju sekolah, aku nyaris terjatuh. Tangan mu menggapai tangan ku. Menjaga ku agar tidak lebih jatuh.

Teman, sesampainya kita di sekolah, seperti biasa kita menduduki kursi kesayangan kita di sudut kelas. Aah..aku takut kalau besok-besok kursi itu diambil orang lain. Jagain kursi ku ya teman.

Teman, ketika bel berbunyi kita berlarian menuju lapangan upacara. Aku lupa memakai topi. Lalu kamu meminjamkan topi mu untuk ku. Kamu bilang aku tidak boleh kena sinar matahari secara langsung.

Teman, selama upacara berlangsung aku lihat mata mu selalu melirik ke arah ku. Aku baik-baik saja teman. Buktinya aku bisa ikut upacara hingga selesai.

Teman, setelah upacara selesai kamu langsung mengajak ku  secepatnya menuju kelas. Iya, aku akan segera menuju kelas mengikuti langkah mu.

Teman, ketika pelajaran Matematika berlangsung kamu selalu menanyakan, apakah aku baik-baik saja. Tentu teman, aku baik-baik saja.

Teman, ketika jam istirahat aku lebih memilih duduk di dalam kelas dan kamu orang yang paling setia menemani ku.

Teman, ketika Juno, Radit dan Gilang memanggilku buncit dan hitam, kamu selalu membela ku dan mengajak ku menjauh dari mereka.

Teman, semua orang tahu dan pasti kamu lebih tahu bukan? Coba lagi pandangi aku. Perut ku kian hari kian membuncit. Kulit ku begitu hitam. Pipi ku menonjol. Aku tampak pucat. Ahh.. tapi kamu satu-satunya orang yang tidak pernah membahas itu.

Teman, tepat ketika bel istirahat selesai, pandangan mata ku gelap. Tubuh ku sempoyongan. Aku tidak bisa bangun lagi. Bahkan aku tidak ingat lagi kejadian terakhir. Satu hal yang aku ingat, wajah kamu begitu mencemaskan ku.

Teman, sekejap aku sudah berada di tempat berbeda. Iya ini tempat biasa aku dibawa kalau aku jatuh dalam kondisi seperti ini.

Teman, kata ibu hemoglobin ku turun lagi. Ahh, apapula itu hemoglobin. Hemoglobin yang turun itulah penyebab aku jatuh pingsan tadi. Jadi aku harus ditambah darah.

Teman, sekarang aku sedang terbaring lemas. Tetes tiap tetes darah masuk ke dalam tubuh ku lewat selang infus. Aku tidak sabar ingin cepat pulang agar bisa berjumpa dengan mu lagi.

Terimakasih ya sudah menjadi teman terbaik ku.

Aku Nadia, si gadis Thalasemia.

***
Nadia adalah salah satu pasien Thalasemia yang kami rawat di RSUD Ibnu Sutowo Baturaja. Enam bulan kemudian, di pelataran parkir halaman Palang Merah Indonesia saya dan Sisca berjumpa lagi sama Nadia. Sisca masih ingat dan menyapanya terlebih dahulu.

“Nadia ngapain disini?” Tanya Sisca
“Mengantri untuk mengambil darah kak.” Jawabnya dengan nada sendu.

***
Thalasemia adalah jenis penyakit keturunan yang ditandai dengan kelainan rantai hemoglobin yang dimiliki oleh pengidapnya. Hemoglobin adalah salah satu komponen yang terikat dalam sel darah merah yang berfungsi untuk mengikat oksigen. Jika usia sel darah merah rata-rata seratus dua puluh hari. Pada pasien thalasemia usia sel darah merah jauh lebih pendek dari jangka waktu tersebut. Sehingga Hemoglobin mudah turun dan membutuhkan transfusi darah secara berkala. Oleh karena itu jika kita mendonorkan darah kita ke PMI, setidaknya tiap tetes darah itu mampu menyambung nyawa mereka.

***
Tulisan sederhana ini dipersembahkan untuk Nadia dan keluarga besar Thalasemia lainnya.