Minggu, 15 Maret 2015

Balada Tukang Ojek





“Bechyeekkk….naik ojhyeekk…”. Masih inget kalimat ini kan? Sempet ngehits banget karena menjadi ciri khas penuturan salah seorang artis blasteran, siapa lagi kalo bukan Cinta Laura. Tapi, tulisan aku kali ini sama sekali ga niat ngomongin doi, tapi tentang tukang ojek. Tareeeekkkkk mang!

Terhitung sejak terjadi perpisahan antara aku dan dia (baca: moncong putih), jadilah sekarang aku ga punya temen kalo mau berangkat ke rumah sakit. Kalo biasanya mau pagi, siang, sore atau pagi sore atau siang malam, terserah ya yang penting nasi padang! Lho….kita ga lagi ngomongin rumah makan yaa, *krik krik*. Intinya waktu moncong putih masih disini aku ga kesusahan kesana kemari, baik siang maupun malam, tapi semenjak aku ga bawa mobil lagi, aku harus mencari cara agar kegiatanku tetap lancar, ga terhalang masalah transportasi. Akhirnya aku memutuskan untuk mencari langganan ojek. 

Sebenernya aku takut naik ojek disini. Sudah terlalu banyak berita kejahatan disana sini, bahkan aku sering liat sendiri di IGD korban kejahatan tukang ojek berupa komplotan gitu untuk mengelabui penumpangnya, kerjasama dengan beberapa rekannya buat jambret barang berharga milik penumpangnya. Alhasil penumpangnya jatuh terseok-seok dipanggir kali, lalu digigitin semut merah. Enak kalo cuma digigit semut merah, tapi kadang korban sampe cidera kepala berat, luka-luka dan bahkan bisa koma. 

Pengalaman hari pertama aku naik ojek.
“Bang, ojek ke rumah sakit Cinta Kasih Hup Hup Lalalala berapa?”
“Sepuluh libuuuuuu mbak..”
“Oke Cusss….”

Jadilah aku naik ojek. Eh, tiba-tiba si tukang ojek ngajakin aku lewat jalan yang ga pernah aku lewatin dan kurang familiar. Jalanannya cuma sering dilewatin oleh para tukang ojek kece sekota ini. Ya, aku sih manut aja. Tapi sepanjang jalan, aku noleh kanan kiri, banyak hutan dan rumah penduduk hanya beberapa, kalopun ada kelang antar rumah jauuuuuuuuuhhh banget, udah bisa dibikin jalan tol 1000 km, *lebay!. Terus ngelewatin jembatan gantung. Sudah, aku makin parno aja. Aku ga tahu harus gimana kalo emang tiba-tiba, aku diturunin di tengah jembatan terus tiba-tiba dari kedua ujung jembatan sudah ada yang nyerbu. Aku bisa apa, selain terjun dari jembatan sambil teriak, “MAMAAAAAAKKKKKKKKKK……”. Tapi untungnya itu cuma imajinasi konyol aku aja. Kelang beberapa menit, si tukang ojek mengarahkan kemudinya ke jalan raya. Akhirnya liat keramaian lagi dan aku diantar ke rumah sakit tanpa cacat. Alhamdulillah. 

Atas maraknya kejahatan di kalangan tukang ojek, aku jadi curhat sama sodara yang ada di luar kota. Dia menyarankan siapin aja air keras dalam botol semprot. Kalo ada yang mau jahat, ya tinggal semprot ke mukanya. Tapi aku ga tega juga kali. Masak iya, aku nyemprot mata orang dengan air keras, terus dalam hitungan detik biji matanya melonyot. Dan naluri pertolongan pertama ku keluar, berupa irigasi pembersihan dengan trauma kimia pada mata, aku yang berbuat terus ngerasa berdosa sendiri, wkwkwkwk. Ah…jadi apa dong? Aku juga disaranin pilihan lain. Gimana kalo botol semprotnya berisi air yang dicampur tumbukan cabe atau lada, kan lumayan. Walau matanya ga melonyot, minimal pedess. Ihh..tapi aku takutnya, pas aku lagi khilaf, liat ada botol semprot dalam tas serasa bawa parfum atau spray cologne gitu, aku main semprot ajah, terus baru nyadar kok ada yang pedes pedes lengket di ketek, ngek ngokkk! Huh….akhirnya aku dapat ide, tapi belum jadi realisasi juga sih. Gimana kalo siapin aja Diazepam injeksi yang siap suntik. Kalo ada yang mau jahat, suntikin aja di lengannya, paling juga itungan detik dia tidur, weekkkkkk :P.

Kembali lagi ke tukang ojek, besoknya aku nunggu ojek di tempat yang sama, dan ada ojek yang menghampiri. Ya, aku naik aja. Mas ojeknya nanya, apa berangkat tiap pagi. Aku jawab aja iya, dan aku juga bilang butuh ojek langganan. Kebetulan sekali tukang ojek ini tetanggaan sama kosan ku, dan menawarkan diri buat langganan. Setelah konsultasi sama orang tua, akhirnya aku sepakat langganan dengan bayaran perbulan. Kesepakatannya aku diantar tiap pagi pukul 06.30 dan dijemput pukul 14.00, setiap hari kecuali hari Minggu dan tanggal merah. Si Mas ojek setuju. Akhirnya aku punya langganan ojek. So far, si Mas ojek bersikap so nice so good sama aku *sambil ngunyah sosis*, malah aku ngerasa Mas ojek ngasih excellent service, menuhin additional request dari aku, misal bersedia mampir kalo ada jualan buah nangka, mampir dan ngantri lamaaaaa di atm, dan juga nganter ke perpustakaan daerah yang super jauuhh, hehe. Mas ojek langganan aku emang orangnya baik, dan kadang aku kasian juga karena pernah keliling nganterin orang tersasar dan ikhlas ga dibayar, ngumpulin duit juga buat ngirimin ibunya yang lagi sakit di luar kota. Dan lusa ga terasa udah satu bulan aku langganan ojek, waktunya pay fee for service. Semoga rejekinya lancar terus ya. Aamiin.

Minggu, 08 Februari 2015

Cinta dan Persahabatan





“Iya.. karena kami pernah belajar bersama, bermain bersama, dan…. bercinta bersama”, Ucap seorang perempuan bertubuh mungil, di hadapan ribuan pasang mata. Di ujung acara dari pernikahan seorang sahabat. 

“Sahabat kami yang pertama kali memegang piala ini, kami persilahkan menyerahkan piala kepada sahabat yang hari ini berbahagia…”, tambahnya lagi. 

Salah seorang sahabat menuju kearah singgasana raja dan ratu sehari. Menyerahkan piala tanda kebahagiaan itu. Dan mataku berkaca-kaca. Aku amat bahagia. Hingga hari ini sudah dua dari sebelas keanggotaan GMC yang sudah menemukan dan menjemput janji masa depannya. Namun ada cerita spesial dibalik ini semua. Lalu bagaimana cara untuk menceritakannya? Dan kepada siapa aku ingin menceritakannya? Ah, dua tiga tahun silam boleh jadi ini kisah yang mengiris hati, tapi aku yakin. Nanti setelah kita tua, kisah ini hanya akan jadi lelucon. Dan bangganya, aku orang yang dipercaya untuk mengisahkannya. 

Teruntuk dua sahabatku. Aku senantiasa mendoakan, semoga segera, dari rahim kalian akan hadir GMC junior. Anak kalian akan aku sayangi seperti anakku sendiri. Dan izinkan aku berbagi cerita kepada mereka, tentang kisah cinta yang tidak sempurna, para ibunya, yang dulu pernah jatuh cinta namun memilih menyembunyikannya agar tidak saling menyakiti :)

Nak, sebut saja ibu kalian adalah ibu Rosa dan ibu Jasmin. Oh ya, kalian bisa memanggilku, Ibu Putri. Ada satu hal di dunia ini yang kehadirannya tidak bisa diajak kompromi, ditawar ataupun ditolak. Apa itu, nak? Itu adalah perasaan jatuh cinta. Kita tidak pernah bisa merencanakan kepada siapa kita akan jatuh cinta. Perasaan itu tumbuh dengan sendirinya tanpa kompromi. Ah, ini bukan topik terlalu berat untuk kita bincangkan bukan?. Kalian akan jadi generasi GMC yang kaya akan pemahaman, termasuk tentang cinta. Makanya kisah ini semoga menjadi salah satu yang memperkaya pemahaman kalian. Kembali lagi tentang jatuh cinta tadi. Hal yang bisa kita lakukan menanggapi perasaan itu hanyalah, menerima. Iya, menerima perasaan itu dengan tulus. 

Namun, apa jadinya jika perasaan itu harus jatuh kepada sahabat sendiri?. Apa akan tetap kuat menerima perasaan itu terus tumbuh dan menjadi-jadi. Atau akan dihujam, dipangkas tanpa bekas. Kali ini bukan sekedar perasaan, tapi jatuhnya perasaan itu kepada sahabat sendiri. Dan itu terjadi pada ibu kalian. Ibu Rosa dan Ibu Jasmin. 

Ajaibnya, Ibu Rosa dan Ibu Jasmin jatuh cinta kepada lelaki yang sama. Namun masing-masing dari mereka tidak saling mengetahui. Juga tidak berniat saling memberitahu. Karena pemahaman ibu kalian sama, walau di kepala yang berbeda. Tentang bagaimana menjaga persahabatan. Lalu bagaimana Ibu Putri tahu akan hal ini. Apakah Ibu Rosa dan Ibu Jasmin menceritakan isi hatinya secara lugas? Jawabannya, tidak.

Ibu Putri sering mendapati pandangan mata yang berbeda dari Ibu Rosa dan Ibu Jasmin kepada lelaki itu. Pernah suatu ketika tangan lelaki itu terluka, lalu tanpa disadari Ibu Rosa dan Ibu Jasmin meraih tangan lelaki itu secara bersamaan, untuk mengobati luka itu. Namun, Ibu Rosa kalah cepat. Ibu Jasmin yang lebih dahulu membersihkan luka lelaki itu dan menutupnya dengan kain kasa. Apa yang dirasa Ibu Rosa? Ternyata Ibu Rosa merasa sedih dan sempat menangis. Di lain kesempatan, Ibu Jasmin juga pernah menangis. Menangis dengan dada yang begitu sesak. Siapa bilang jatuh cinta itu indah, nyatanya Ibu Rosa dan Ibu Jasmin menangis karena jatuh cinta. Di suatu malam akhirnya Ibu Rosa mencurahkan isi hatinya, tentang perasaannya, tentang ketidakmampuannya lagi untuk menahan perasaan jatuh cinta itu. Ibu Putri hanya bisa diam. Lalu, di lain momen, juga Ibu Jasmin menangis di hadapan Ibu Putri untuk hal yang sama. Mereka jatuh cinta kepada orang yang sama. Ibu Putri lah yang mengetahui hal ini. Ibu Putri tidak bisa berbuat banyak hal. Hanya menghibur dan banyak membahas topik lain di sela sela perbincangan  untuk mengalihkan perhatian agar ibu kalian tidak fokus  dengan perasaannya. 

Bahkan mungkin hingga hari ini, lelaki itu tidak pernah tahu. Betapa dua sahabat perempuannya pernah sangat jatuh cinta dan menangisi perasaannya itu. Akhirnya, Ibu Jasmin terhitung cepat berdamai dengan perasaannya. Ibu Jasmin kembali ceria. Ia sudah bisa mengabaikan perasaannya karena frekuensi pertemuan dengan lelaki itu semakin jarang. Berbeda hal dengan Ibu Rosa, perasaannya semakin kuat. Semakin dipangkas, semakin tumbuh dengan hebatnya. Setiap hari bersama dengan lelaki itu setiap hari pula membohongi diri sendiri. Ibu Putri sering mendapati Ibu Rosa menangis. Hingga akhirnya tangisannya terhenti, sangat sesak memang, tapi itu ujung dari kesedihannya. Lelaki itu sudah memiliki tambatan hati. Ibu Rosa memilih menghindar dan membuang perasaannya.

“Tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini. Yang ada hanya orang-orang yang berusaha sebisa mungkin untuk mempertahankannya”
REFRAIN, saat Cinta Selalu Pulang. - Winna Effendy –

Terkadang, tak bisa dipungkiri, waktulah yang paling setia untuk mengobati. Hanyalah waktu yang menjawab. Selang beberapa bulan dari itu, Ibu Rosa diperkenalkan dengan seorang lelaki yang akhirnya menjadi teman hidupnya. Lalu Ibu Jasmin juga menemukan teman hidupnya dengan cara yang tak disangka. Berselang delapan bulan, tepatnya hari ini, Ibu Jasmin memenuhi janji sucinya. 

 Ibu kalian hebat. Mereka memilih jalan terbaiknya. Dan, karena pilihan terbaiknya itulah, hingga hari ini persahabatan itu tetap terjalin dengan manis. Ibu Rosa, Ibu Jasmin, Ibu Putri, lelaki itu dan anggota GMC lainnya masih bersahabat dengan baik hingga hari ini. Saling mengisi tawa ketika dekat dan saling merindu ketika jauh. 

Hey, apa kalian tidak penasaran dengan lelaki itu? Ah, sudahlah. Tutup rasa penasaran kalian. Bab itu tidak ada dalam kisah yang ingin Ibu Putri sampaikan. Tugas Ibu Putri hanyalah mengisahkan ini dan memberi pemahaman dibaliknya.  


Prabumulih, 08 Februari 2015 22;04
Selamat berbahagia untuk dua sahabatku. Semoga cinta dan persahabatan selalu terjalin dengan manis diantara kita.


Kamis, 22 Januari 2015

Kopi Impian

Aku selalu tertarik berdiskusi tentang impian. Lewat impian, seseorang akan merasa hidupnya butuh diperjuangkan. Lewat impian, seseorang akan merasa hidupnya akan lebih hidup.


Bagi ku ada banyak cara menanamkan impian-impian. Impian itu bisa kau pegang erat-erat. Bisa kau tulis di setiap lembar kertas kehidupan. Bisa kau utarakan kepada orang-orang tersayang. 


Aku akan merasa sedih jika seseorang telah meletakkan impiannya di garis tertinggi. Namun seseorang itu hanya berjalan di bawah garis-garis impiannya itu. 


Jika kau adalah seseorang yang memiliki impian dan aku termasuk orang tersayang, mari kesini duduk berdua dengan ku. Membincangkan impian sambil minum kopi. Aku rasa, ini lebih dari sekedar hal menarik.


Ajaibnya, kopi yang menemani kita ini mampu memberikan energi yang luar biasa. Kau akan menjadi lebih kuat. Garis impian itu tidak terlalu jauh, sayang. Tidak terlalu jauh. 


Tiga puluh tahun lagi, ketika kita duduk berdua lagi, berdiksusi lagi, sambil minum kopi lagi, kita akan tertawa. Iya, tertawa. Mimpi yang pernah kau utarakan sudah kau raih. Lalu, aku? Siapa aku? Aku hanyalah seseorang yang menjadi saksi hidup atas keberhasilanmu. 


Someday, you can go somewhere and get something that you really want, with someone you love the most :”)


Andwilika, 23 Januari 2014

Januari

Aku berjalan menyusuri lorong-lorong kecil. Lorong yang biasa aku lewati tak kurang dari delapan belas tahun silam. Perjalanan ku kali ini bukan tidak ada tujuan. Aku ingin bermain dengan memori. Memori masa kecil. 


Di lorong ini, dulu aku sering melihat seorang anak perempuan menggendong adiknya. Sesakali aku juga sering melihat dia memetik bunga di pekarangan rumahnya. Lucunya, untuk menuju ke sekolah ku, aku bisa menempuh jalan lain. Tapi, lorong ini selalu menjadi jalan pilihan ku. 


Ketika aku tidak mendapati anak perempuan itu, tanpa aku sadari aku tertegun sejenak di depan rumahnya. Lalu, ketika suara halusnya terdengar, aku berlari. Ini berlangsung bertahun-tahun hingga aku tidak punya alasan lagi melewati lorong ini. 


Suatu hari aku melewati lorong ini lagi. Aku melihat bangunan rumahnya sudah berubah. Aku menanyakan kepada tetangganya. Ternyata anak perempuan itu tidak lagi disini. Seolah semakin lengkap, aku benar-benar tidak punya alasan lagi untuk melewati lorong ini lagi.


Ah, kau tahu, anak perempuan itu kurang lebih seusia ku. Aku hanya membayangkan wajahnya kini pasti sudah menjelma menjadi perempuan dewasa muda. Jika saja aku punya kesempatan, aku ingin menyapanya. Sungguh ingin menyapanya.


Bodohnya, sebenarnya aku punya banyak kesempatan. Ternyata beberapa kesempatan, aku berada di tempat yang sama dengannya. Akhirnya aku tahu namanya. Perempuan itu bernama Januari. Beberapa kali aku bersanding dengannya. Aku pernah duduk berhadapan dengannya. Aku pernah melihatnya menangis. Aku juga pernah melihat pipinya belepotan sehabis makan es krim. Tapi, aku tidak pernah bisa menyapanya. Bibirku keluh.


Sekarang aku dengar, anak perempuan itu akan segera menikah. Tentu, aku tidak akan bisa bersahabat dengannya seperti yang aku impikan. Bersahabat sepanjang hidup dan mati.


Hari ini, aku melewati lorong ini lagi. Andai aku mendapati seorang anak perempuan itu, aku akan menyapanya. 


"Januari, bersahabatlah. Januari bersahabatlah dengan ku…."


Andwilika, 23 Januari 2014

Misteri Bapak Tukang Jahit




 Kisah ini bermula dari kebingungan saya yang mencari penjahit, yang murah, handal dan bisa selesai cepat. Saya hanya punya waktu kurang lebih satu minggu lagi menjelang pernikahan salah seorang sahabat saya. Akhirnya saya berkeliling kota dengan naik kuda sambil bernyanyi-nyanyi, *ngayal*. Beberapa penjahit yang terkenal dan posisinya mudah dikunjungin pada rame dan antrian pesanan banyak. Saya ga ngerti deh, segitu ramenya ya orang mau nikah, makanya yang jahit kebaya juga rame, loh emangnya urusan kita cin? Wkwk.

Kurang lebih sudah enam penjahit yang saya datangi, akhirnya saya setengah putus asa, maka saya putuskan untuk…… Pulang? Hah, bukan…saya putuskan untuk makan sate. Loh kok makan sate, iyah..abisnya saya kelaperan, hehe. Selesai makan sate, saya menghampiri seorang ibu penjual buah. Saya menanyakan dimana ada penjahit terdekat, dan ibu itu menunjukkan pohon pinang, “nah..di bawah pohon pinang itu ada penjahit..”. Hey, alangkah riangnya langkah saya menuju pohon pinang itu. Sesampainya disana ada dua bapak tua yang menawari jasa jahit. Saya bingung, tapi akhirnya saya memilih bapak tua yang posisinya sebelah kanan biar saya masuk surga. Haha, apa maksudnya? Iya, bukannya kalo yang baik-baik itu sebelah kanan yaakk, hehe. Dan bener, bapaknya baik. Menyambut saya dengan senyum hangatnya. Dan yang paling penting, bisa selesai dalam waktu satu minggu dan harganya murah meriah. Yippy….bahagia tingkat dewa ^^.

Di ujung transaksi ini, ada hal mengejutkan.

“Mba bukan orang sini kan, mba ini kalo bukan orang Palembang, orang Prabumulih..”
“Mba seorang dokter umum yang kerja di rumah sakit kan….”
“Mba pernah naik kereta sendirian kan, dengan memakai masker.”
“Mba duduk di antara anak-anak kecil….”
“Mba mengeluarkan cemilan..”
“Walau saat itu mba pakai masker, tapi detail wajah mba, bapak ingat lho…”

Saya terhenyak…segitu detailnya bapak penjahit ini mengingat saya. Saya membuka lembaran file di memori saya. Ya, memang ada, saya pernah naik kereta pagi sendirian, kereta ekonomi yang duduknya berhadap-hadapan dari Lubuk Linggau menuju Prabumulih. Ya, memang benar ada saya pakai masker dan membawa cemilan. Ya, memang benar ada saya duduk diantara anak-anak kecil yang waktu itu dibawa neneknya untuk liburan. Tapi seingat saya, tidak ada seorang bapak tua yang duduk di dekat saya saat itu. Dan tidak ada saya memperkenalkan diri kepada siapapun, apalagi menyebutkan profesi dan tempat saya bekerja. Tapi si bapak menegaskan, saat itu beliau ada duduk tak jauh dari saya. Dan saya hanya  bisa tersenyum dalam rangka bingung, mikir dan mikir lagi.

Dari kisah ini ada beberapa hal yang kegaringannya bisa jadi catatan dan pelajaran, hehe: (1) Itulah pengaturan Allah, ternyata saya harus berkeliling dan melewati enam penjahit terlebih dahulu baru dipertemukan dengan bapak penjahit ini yang tempatnya tidak terpikirkan, dan ternyata telah mengenal saya sebelumnya. Alhasil, si bapak terlihat segitunya ingin membantu saya. (2) Usia kadang-kadang bikin malu ya, kok si bapak yang jelas jauh lebih tua bisa segitu detailnya mengingat saya, sedangkan saya, hehe. (3) Ini saran sih, kalo cari penjahit ya, kadang kita ikutan yang rame kemana, kita ga pernah tahu kan terkadang ada penjahit lain di pinggiran tapi bagus kerjanya, jadi lebih telaten kerjanya karena orderan ga terlalu banyak dan selesai lebih cepat. Bagi-bagi rezeki lah ya, hehe. (4) Jadi sebenernya bapak ini beneran ada ga sih di kereta waktu itu…… ????