Minggu, 20 April 2014

Untaian Cerita dari Remban



Selamat Pagi!

Ketika saya menulis ini, suasana begitu hening. Suara tetesan hujan dan jangkrik bercampur menjadi satu. Di luar gelap. Jikalau saya memberanikan diri turun dari rumah dan berjalan beberapa puluh meter, maka saya akan mendapatkan suara tambahan. Suara apakah itu? Adalah suara arus air yang tanpa disadari menggerus dataran daerah ini, yang boleh jadi ketika beberapa tahun lagi saya datang kemari, mungkin saya tidak bisa lagi duduk disini. Iya, duduk tepat disini di tempat yang sama, berteman dengan laptop sekedar untuk menguntai kata-kata. Jikalau ini disebut nikmat, maka saya ingin sekali mensyukuri nikmat ini dengan menuliskan bait-bait cerita. Tentang tempat di mana saya mendapatkan kenikmatan suasana desa yang begitu indah.

Nama saya Andwi Putri Lika. Saya sering mendapat pertanyaan perihal arti nama ini. Baiklah, saya tidak akan bosan menjelaskan ini, hehe. Andwi adalah tiada duanya (yang benernya anak kedua), Putri adalah anak perempuan sedangkan Lika adalah singkatan dari Linggau dan Karang Agung (asal daerah ayah dan ibu saya). Jadi dapat disimpulkan, seorang anak perempuan yang tiada duanya (anak kedua) dan berasal dari Linggau dan Karang Agung. Apakah kalian percaya? Tolong jangan percaya 100% tapiii…..hmm…percayalah 1000%! HUAHAHAHA. Sehubungan dengan arti Lika, maka dalam tulisan ini saya akan bercerita tentang sebagian dari nama ini, yaitu Linggau. Iya, tentang sebuah desa yang berada di kawasan Linggau (yang saat ini masuk kawasan Musi rawas).

Di sela-sela waktu kosong (yang saya nikmati sebagai pengangguran menjelang penempatan internship beberapa bulan mendatang). Saya berkunjung ke rumah nenek saya. Nenek yang merupakan ibunda ayah saya. Saya berkunjung ke sebuah desa yang bernama Remban, kecamatan Rawas Ulu dan termasuk kawasan kabupaten Musi Rawas. Kedatangan saya kali ini tentu bukan sekedar liburan semata, akan tetapi ada misi tertentu, yakni ingin mengajak nenek saya yang menderita katarak untuk berobat dan operasi.

Seolah tidak mau kehilangan arti dari sebuah kunjungan. Saya ingin menikmati kunjungan ini. Menikmati setiap waktu yang saya lewati. Menikmati setiap potongan tempat yang saya lihat. Menikmati setiap orang yang saya temui. Hey, untuk kalian yang banyak menghabiskan rutinitas yang mematikan, menghirup polusi yang tak bersahabat dan masih dengan nafas yang tercekat entah karena apa. Kemarilah, cerita dari Silika mungkin bisa menemani.

Desa Remban adalah sebuah desa kecil yang kawasannya dibelah oleh aliran sungai Rawas. Kehidupan masyarakatnya sangatlah bergantung dengan sungai Rawas. Termasuk pendatang yang hendak menghabiskan waktu barang sehari dua hari di desa ini. Aktivitas harian banyak dihabiskan di sungai ini. Diantaranya, mandi, mencuci baju, mencuci pakaian, buang air kecil, buang air besar, mencuci kendaraan, mandiin kerbau, menjadi kawasan tempat tinggal, hingga sarana transportasi.

Hari pertama saya tiba di desa ini. Saya beserta ibu dan ayah saya dengan semangatnya langsung turun ke sungai. Kami hendak mandi sore. Saya ter-Waw Waw Waw sambil koprol di atas air (ini boong!) mendapati sekitar jarak lima puluh meter dari kami ada orang lagi boker. Jadi jangan heran kalau kita lagi enak-enak main air atau cuci muka, eh tiba-tiba si kuning lewat #tiba-tiba #tersenyum #kecut. Namun hal ini tidak lantas membuat saya ingin cepat pergi dari sungai Rawas. Saya justru menikmati fenomena ini. Tapi tetap, buat cuci muka dan gosok gigi saya memilih untuk melakukannya di sumur dekat rumah,hehe.

Fenomena lain yang saya nikmati adalah aktivitas masyarakat desa ini yang menghabiskan hari-hari mereka dengan aktivitas bertani. Adapun hasil komoditi utama desa ini adalah karet dan kelapa sawit. Untuk mendatangi perkebunan mereka, mereka harus menyeberangi sungai Rawas. Seolah ingin berjelajah sedikit saja dari potongan sungai Rawas, maka ayah saya meminta seorang “sopir biduk” (istilah yang digunakan warga setempat) agar mengantar kami untuk menyeberangi sungai Rawas.

Sesampainya di seberang, saya mendapati rumah-rumah sederhana yang berdiri di bibir sungai. Yang tidak kalah menarik adalah berdirinya rumah-rumah panggung kecil di tengah sungai. Lalu saya merapat ke sebuah warung kecil di pinggir sungai, saya mendapati beberapa orang penduduk setempat yang berprofesi sebagai “sopir biduk”, mengisi waktu kosong mereka dengan bermain kartu sembari menunggu penumpang menyebrang sungai Rawas, memanfaatkan jasa mereka untuk menyebrang. 

Nah, selain bertani, aktivitas harian warga desa ini adalah mengolah buah pinang. Saya menyempatkan diri untuk ikut aktivitas mereka membelah buah pinang. Pinang-pingan yang dipanen akan dibelah, diambil isinya lalu dikeringkan. Selanjutnya akan dijual dengan harga tujuh ribuan perkilo gram.

Saya juga menyempatkan diri berjalan-jalan sendirian, keliling desa (setidaknya sekitaran dari rumah nenek saya menuju sungai). Saya mendapati bangunan rumah yang sangat sederhana dan tradisional. Tak lupa saya menyapa nenek-nenek dan kakek-kakek para tetua di desa ini. Mereka tidak kenal saya. Jelas saja. Selain itu, komunikasi di antara kami juga tidak berjalan mulus, sebab saya tidak bisa mengucapkan bahasa daerah ini dan juga tidak bisa mengartikan apa yang mereka ucapkan. Secara umum bahasanya berbeda dengan bahasa seperti di desa-desa daerah sumsel lainnya yang banyak modifikasi dari bahas Melayu. Namun, bukan berarti membuat saya ciut. Dengan senyum terhangat dan kemampuan berkomunikasi berbekal dari ayah saya, saya meminta izin kepada beliau-beliau untuk mengabadikan mereka lewat foto. Terimakasih ya nek..kek…silahkan eksis di blog saya,hehe. Berikut dokumentasi hasil perjalanan singkat saya.

ini adalah jalan setapak yang saya lalui untuk menuju sungai Rawas


 Saya bertemu dengan kedua nenek ini. Mereka begitu ramah dan sangat antusias ketika hendak difoto :))



Rumah tradisional yang amat sederhana :')


Seorang kakek tersenyum lembut, beliau banyak menghabiskan harinya duduk di depan pintu karena sudah lumpuh :'( 


Berjalan melewati beberapa rumah, saya berjumpa lagi dengan kakek yang lain. Si kakek memunculkan dirinya, juga tersenyum hangat :')


 Ketika mengisi waktu santai mereka...


Buah Pinang yang sudah dikupas dan akan dikeringkan dibawah terik matahari


 Aktivitas ibu-ibu, bersama-sama mengupas buah Pinang


Domba-domba yang merupakan ternak warga setempat
(FYI menurut cerita semasa kecil ayah saya juga penggembala domba ^^) 


Jalanan menuju sungai Rawas, beberapa ada pohon duku, semasa kecil saya sering diajak bapak melihat pohon duku nenek saya yang ada disini lho,hehe


Yaak, inilah pemandangan sungai Rawas. Di seberang sana ada lapangan hijau, pepohonan dan kerbau-kerbau. 


Nah, ini perkebunan kelapa sawit yang berada tepat di pinggir sungai Rawas.
Saya menyeberang ke arah sana 


 Rumah-rumah panggung kecil yang berdiri di atas sungai Rawas


 Sisi yang berlawanan dari perkebunan kelapa sawit tadi, banyak pohon-pohon kelapa, di belakangnya rumah-rumah penduduk


Sisi lain yang pinggiran sungainya bebatuan, jadi mirip pantai, sayangnya tidak ada ombak. Ya iyalah! namanya juga sungai :P


Biduk, yang setiap hari bertugas menyebrangkan penduduk yang hendak menyebrang


Nih, si biduk mendekat, saya naik ini lho..awalnya takut-takut tapi lama-lama keenakan dan tidak mau turun, haha..dasar!


Lebih dekat dengan rumah di atas sungai Rawas :)


Sedangkan ini adalah rumah sederhana yang bertengger manis di pinggiran sungai Rawas
Lucu ya, penghuninya keluarga kecil gitu (maksudnya yang baru berumah tangga,hihi) 


Kalo yang ini apa ya, hmm..saya juga tidak tahu, tapi tampaknya ini pondok yang biasa digunakan untuk istirahat para sopir biduk tapi sayangnya sudah lapuk


Selain Biduk ada juga si Ketek, ini digunakan untuk menyebrang kalau jumlah penumpangnya tidak lebih dari 3 orang


Tuh, mereka sudah hampir sampai di seberang
(FYI yang mengendalikan papan pengayuhnya itu ibu-ibu, hmm...zuperrr zekaleee..) 


 Si sopir Biduk lagi main kartu sembari nungguin saya mau nyebrang lagi, uppss..maksudnya penumpang-penumpang lain juga,hehe


Nah, ini dia calon penumpang. Penduduk yang baru pulang dari "motong" (istilah penduduk setempat yang artinya mendamar)


 Baiklah, salah satu penumpang membantu mendorong si Biduk

 
Okeh, sopir Biduk siap menarik mesinnya. TAREEEKKKK MASSSS!


Lalu saya ikut merapat ke biduk, mau nyebrang juga. Inilah para penumpang yang siap-siap mau menyebrang.


Tidak terasa, hari mulai senja. Matahari sudah mulai bersembunyi, saya pun menutup hari ini dengan alhamdulillah...


 ****
Seolah tak ingin terlewat begitu saja. Keesokan harinya saya ingin menambah keindahan yang saya rasakan disini diwarnai oleh tawa anak-anak. Iya, tentu saja tawa anak-anak Remban. Ketika di luar sana hangat berita tentang pelecehan seksual terhadap anak-anak yang kabarnya sekolah di sekolah bertaraf internasional. Dengan berbagai modus, kecanggihan berpikir orang-orang jahat. Mengakibatkan anak-anak yang seharusnya mengisi hari-hari mereka bermain sambil belajar, terpaksa mengemban trauma. Namun, disini , di desa Remban, saya masih bisa melihat anak-anak tertawa riang. Bermain sambil belajar dengan cara mereka. Tentu, dengan cara bersahabat dengan alam. Jadilah di hari terakhir saya berada di desa Remban, saya menculik beberapa bocah. Bukan untuk dibuat trauma ya, tapi untuk menikmati bersama betapa indahnya alam yang kami punya, desa Remban. Inilah perjalanan singkat kami, aksi kami si anak-anak Remban.

Hai, kami anak-anak Remban, siap melakukan permainan kecil, permainan di alam kami, desa Remban ^__^
(Dwi, Lia, Citra, Angel, Gesta, Delia)


Sebelum memulai aksi kami, kami rapat kecil dulu


Kami pun sepakat untuk melakukan perjalanan. Mau tahu kemana? Hayoookk ikuti kami


Dengan semangat empat lima, kami berjalan menuju sutau tempat. Semangat nih melewati hutan-hutan..


Gesta berada di depan sekali lalu disusul oleh Delia, pantang menyerah walau jalanan becek


Daaaaaan kami sempat ketakutan, kami pada nangis....kami takut melewati jalanan yang becek, nanti ada ojek. *lho? bukaaan maksudnya nanti ada babi hutan,huhuhuhu


Tapi..kami kembali bangkit setelah disemangati oleh Ayuk Putri


 SEMANGKAAAA...SEMANGAT KAKAAAAA...


Kami melanjutkan perjalanan kami..


Wah semangattt, sudah hampir sampai ke tempat tujuan ^^


Daaan tibalah kami di sungai Rawas, kami langsung turun ke air, disini kami bertemu Kak Kelvin yang lagi mandi. 
Gangguin yuuukkk...


Wah, ternyata kami diserang balik oleh Kak Kelvin. Lariiiii.....


HAHAHA, Kak Kelvin beneran mengejar kami, mana cuma pake celana dalam doang, hhiihh..pasti larinya jadi lebih kenceng. lho? apa hubungannya? :D


Kali ini kami lari terbirit-birit, hingga berderaian air mata.
Kok bisa? apa karena Kak Kelvin tadi ya?
 


Ayuk Putri berusaha mendiamkan kami. 
"Ayuk....tolong pelorotin Kak Kelvin..."
Lho, jadi yang salah celana Kak Kelvin ya? HAHAHA 


 Ternyata ini dia yang membuat anak-anak menangis. Takut dikejar sama mobil pengeruk tanah, hahaha


Kami pun bersatu kembali, merapatkan barisan. Berjanji akan jadi anak yang pemberani.
Tidak akan takut sama mobil pengeruk tanah itu!
Ciayooooo


 Sepakat untuk melanjutkan perjalanan!
Kali ini Kak Kelvin sudah pakai baju dan siap bergabung bersama kami


Mulai berjalan lagi. 
Eitss..  si Angel gaya dulu dong..


Foto dulu yukk..
Delia itu ngapain coba?? 


Horeee....!


Delia main apaaaaa?


Tiba-tiba buka celana


Terus buka baju
Mau ngapain Deliaaaaa? 


Akhirnya beberapa di antara mereka turun ke air tanpa busana. Ngapain? ya mandilah.. 


Duileeee..dua bocah ini berendem, asikk bener. Ayuk Putri mau mandi juga? Hayoo kesini...


Ketika Angel, Delia dan Gesta mandi, Citra dan Lia malah main siram-siraman.


Lalu dapat serangan balik, hahaha


Wah, asiikknyaaaa....


HAHAHAHA, itu si Delia penting banget yaakk berendem gayanya kayak gitu plus sandalnya nggak dilepas lagi


 Selfie dulu ahh...


 Daaan kami berfoto bersama, momen ini captured by Kak Kelvin lho..


Daaaan ini yang capture si Citra.
Ceritanya mereka pada rebutan mau pegang kamera 


:))))



 Smile Smile Smile :)))


Kami kompak!


Giliran Ayuk Putri yang selfie yaaaa :P


Citra dan Lia :")


HAHAHAHA, sungguh Ayuk Putri merasa bersalah atas adanya foto ini :D


Daaan kami bermain di pasir. Kami mau membuat sesuatu lho..


Tapi sebelumnya lompat lompat dulu aahh...


Hap Hap Hap
Ceritanya kami yang nggak mandi mau buat sesuatu di atas pasir 


Ngapain ya?


LIA :)


Ngapain juga nih?


KELPIN
(Pakai 'P' yaaa bukan 'V') 
 

Waduh si Citra, semangat banget yaa..


CITRA :)



Lalu Ayuk Putri buat juga?


Ternyata Ayuk Putri banyak mendapat bala bantuan dari bocah-bocah


Buat apa sih? tuh, sampai si Delia semangat banget..


Kami semua membantu Ayuk Putri mengumpulkan batu-batu kerikil


Daaan inilah hasil karya kami bersama Ayuk Putri :)


Apa perasaan yang punya nama ya? Tulisan namanya dikelilingi gadis-gadis kecil :))


 It's about someone special, that his name always in my mind. Indeed, he never come here, but Remban and all its beauty pick him up to come here, someday!
FATHUR :)



****
Sebuah kabar baik bahwa setiap berkunjung ke desa Remban maka sempatkan diri bermain air di sungai Rawas. Tengoklah, hijaunya rumput, sepoinya angin yang berhembusan melewati sela-sela ranting pepohonan. Begitu membuat kita ingin bermanja-manja dengan keindahan alamnya. Namun kabar buruknya, seolah tak bersahabat, dataran desa Remban justru kian hari kian berkurang. Hal ini diakibatkan terkikisnya daratan pinggir sungai oleh arus air sungai Rawas. Kini, rumah nenek hanya sekitar lima rumah saja berjarak dari bibir sungai. Padahal dahulu ada puluhan rumah yang berdiri kokoh di sekitar sungai Rawas. Maka hal yang saya takutkan adalah, beberapa waktu mendatang entah cepat atau lambat, saya tidak lagi bisa duduk disini, iya disini, di tempat yang sama, di rumah nenek saya, sekedar menuangkan untaian cerita tentang desa ini, tentang apa saja yang saya dapati disini dan bisa saya bagi.


Ini bukan sekedar tempat, cerita, atau proses menghabiskan waktu. Namun ada yang lebih mendalam dari sekedar itu. Bukankah kita semua yang hadir di bumi ini mewakili tanah-tanah dari mana kita berasal. Tanah-tanah yang hasil buminya menghidupi kita, orang tua kita, nenek moyang kita. Bahagia memang bercerita tentang kota, keramaian, bangunan megah dan lain sebagainya. Tapi, sadarkah bahwa ada tanah-tanah yang tidak sekedar ingin dirindukan tapi justru senantiasa merindukan kita. Senantiasa merindukan kita. Yang ketika kita pulang akan menghadiahkan segala keindahannya. Keindahan itu akan selalu kita raih, dengan cara pulang….


Andwilika
Desa Remban, Musi Rawas, 18 April 2014

Kamis, 10 April 2014

Keajaiban Lian Puri



“Maaf, ada panggilan masuk. Sebentar ya..” Ujar suara dari seberang

Aku mengangguk. 

Perbincangan ringan yang telah beralangsung 52 menit 16 detik itu harus terhenti seketika. Nada sibuk khas sang provider terdengar sumbang dari earphone. Aku melepas salah satu earphone yang tadi menempel di liang telinga kiri ku. Sembari menunggu panggilan tadi masuk lagi, aku meraih buku bacaan yang kemarin aku pinjam dari sahabat kecil, Your Job is not Your Career. Aku melanjutkan bacaan ku. 

Nada sibuk ala sang provider cukup mengganggu konsentrasi ku. Aku melirik durasi panggilan yang tertera di layar handphone, 1 jam 4 menit 8 detik. Sempat terpikir untuk menekan tombol akhiri panggilan, namun niat itu aku urungkan. Mengapa? Ah, sebut saja ini keajaiban pertama. Aku melanjutkan bacaan ku lagi. Hingga di durasi panggilan 1 jam 28 menit 17 detik, nada sibuk ala sang provider mendadak berubah. Sempat hening sejenak, lalu terdengar suara seorang lelaki dewasa dari seberang.  Suara yang asing bagiku, namun gaya berbicara yang justru terasa tidak asing bagiku. 

Aku terdiam sejenak. Tangan ku meraih earphone yang tadi aku lepas. Sekarang kedua earphone terpasang mantap di kedua liang telinga ku. Aku mendengar kata demi kata. Lalu suara lain lagi terdengar. Suara lelaki muda yang jelas tadi berbincang denganku. Aku seolah mendengar perbincangan antara dua lelaki yang gaya berbicaranya nyaris sama. Yang membedakan hanya, suara kebijakan, dari salah satu suara itu terluncur kalimat-kalimat bijak, nasihat tanda kasih sayang. Ada apa ini? Apakah aku terjebak dalam perbincangan antara ayah dan anak? Ah, sebut saja ini keajaiban kedua. 

Tidak bisa dipungkiri, jantungku berdetak lebih kencang dari biasanya. Jelas saja, dalam perbincangan mereka, sesekali ada namaku disebut. Hipotesisku, telah terjadi kesalahan teknis atau mungkin sebuah ketidaksengajaan. Lawan bicara ku yang pertama tadi tanpa sadar menekan tombol conference. Mengapa bisa terjadi? Ah, sebut saja ini keajaiban ketiga.

“Ayah, ini sudah terhubung dengan Puri. Ayah bisa ngobrol langsung dengan dia.” Ujar Lian dari seberang.

Ups..aku mendadak panik. Benar. Ini memang keajaiban. Keajaiban yang diusahakan. Siapa yang merencanakan? Siapa lagi kalau bukan Lian, yang pandai membuat aku takjub. Aku yang tadi terdiam, sempat melamun beberapa saat terhanyut dengan perbincangan mereka tiba-tiba mendadak kikuk.

Aku berusaha menenangkan diri. Setidaknya membantuku agar tidak menjadi semakin kikuk. Aku hanya membutuhkan waktu kurang dari satu menit saja untuk mengatur irama nafas, termasuk detak jantung agar kembali normal. Ada apa ini? Ah, sebut saja ini keajaiban keempat.

Suara orang ketiga itu adalah suara ayah Lian. Awal perbincangan yang manis. Sederhana namun mendalam. Ayah Lian becerita sekilas tentang Lian semasa kecil. Tentang diri Lian yang sebenarnya sudah banyak diceritakannya sendiri namun kali ini Ayah yang menegaskannya. Aku senang mendengarnya.

Hal ini sungguh keajaiban. Ah, sebut saja ini keajaiban kelima. Aku dan Ayah berada di kota yang sama, namun berbincang via telepon dengan diperantarai Lian yang justru berada di seberang pulau.        

“Puri, Ayah sudah mengenalmu sejak dulu. Namamu tidak asing. Bahkan Ayah pernah melihatmu menjadi pemandu acara perpisahan angkatan I”, suara Ayah terdengar semakin tajam.

Aku tersanjung. Ternyata Ayah Lian telah mengenal ku sejak remaja. Saat ini, usiaku menginjak usia dewasa muda. Dipertemukan kembali dengan Lian dengan cerita yang berbeda. Apakah sebenarnya maksud dari semua ini? Apakah ini juga keajaiban? Ah, dengan berbesar hati aku menyebutnya ini keajaiban. Ya, keajaiban yang luar biasa. Namun, aku tidak akan memberi label angka.  Sebab pertemuan ini adalah induk dari semua keajaiban.  

Ayah Lian mengungkapkan bahwa seorang Lian membutuhkan “Panitia Pengarah”. Istilah yang sontak membuat aku dan Lian tertawa. Istilah yang sederhana namun memberi pemahaman yang lebih. Terakhir, ayah berpesan bahwa segala sesuatu itu tergantung niat awalnya. Jikalau niat kita baik, maka semua harapan-harapan baik itulah yang menjadi tujuan.

“Untuk Lian dan Puri, semakin munajatkan doa kalian, semangat untuk saling mengisi itu juga semakin diperkokoh…”

“Iya Ayah….”
***

Dalam hidup ini, ada waktu kita diberi amanah. Istilah boleh jadi kiasan, namun dibalik itu tersimpan pemahaman yang lebih. Ini tentang bagaimana senantiasa tulus mengingatkan ketika lupa, menemani ketika sepi, mengobati ketika luka, menenangkan ketika resah, dan bersinergi meraih semua mimpi.

Puri, Mengapa kau menuliskan ini?
Aku hanya takut keajaiban-keajaiban ini tersapu oleh debu, hilang diterpa angin….

Selasa, 18 Maret 2014

Berburu Anak-anak

Selamat Pagi!
Apakabar kalian hari ini? Semoga senantiasa baik dan diisi dengan rasa bersyukur. Bukankah dengan kita bersyukur, Sang Pemilik Bumi dan Langit akan menambahkan nikmatNya lagi dan lagi di esok hari. Sekedar ingin menumpahkan cerita satu hari ini. Boleh jadi cerita saya tentang hari ini tidak begitu bermakna. Tapi siapa yang menjamin kalau ternyata ada insan-insan yang merasa ditemani dengan adanya tulisan ini. Insan-insan yang menghabiskan waktunya seharian penuh di balik tumpukan kertas, di gedung pencakar langit, atau yang menghabiskan harinya di tengah pekatnya polusi ibukota, atau yang tengah menghadapi peliknya masalah kehidupan sehingga untuk bernafas terasa begitu sesak, atau juga yang berada di sudut pulau ditemani oleh sekelompok nyamuk-nyamuk nakal. Ketika menutup satu hari ini,  menyempatkan mengintip blog ini guna mencari tahu apakah ada tulisan terbaru. Haha, saya ke-PD-an ya. Bukan, sungguh bukan saya ke-PD-an. Saya berpikir demikian karena menurut saya setiap orang berpeluang untuk terdampar disini. Siapapun, dari suku manapun dan kapanpun. Oleh karena itu, jika ada yang bisa dipetik dari setiap tulisan di blog ini alhamdulillaah, jika tidak pun tidak mengapa. Saya selalu yakin bahwa selalu ada alasan mengapa Allah membuat jemari kalian untuk membuka laman ini baik sengaja maupun tidak sengaja. Walau tidak cukup menginspirasi minimal bisa menemani. Iya, menemani.

‘’Menulislah jika tulisanmu mampu mengubah. Menulislah jika tulisanmu mampu memberi. Jika tidak keduanya, maka tetap menulislah, karena boleh jadi tulisanmu dapat menemani.’’

                Hey, hari ini seolah membayar janji yang telah lama menggantung, janji yang ditunggu guna membantu teman sejawat. Iya, hutang janji itu adalah menemani teman saya yang bernama Rivemi Gusyanti (Koas Gigi paling kece) mencari pasien gigi. Kali ini edisi pasien anak-anak. Mungkin muka saya lebih mirip pawang anak-anak, jadilah siang tadi kami isi dengan berburu anak-anak di kawasan kosan saya.

                Kami awali dengan makan siang bersama. Selain guna mengisi energi, momen makan siang juga diisi dengan cerita hana hene. Memang dasarnya tukang cerita dan masing-masing kami tempat menumpahkan cerita satu sama lain. Jadi kalau sudah lama tak jumpa, entah ada berapa chapter yang rasanya sudah ketinggalan cerita,haha. Selesai makan siang kami langsung bergegas beranjak menuju lapangan hijau kecil tepat di samping kosan saya. Ahhaa, mata kami berbinar-binar. Kami mendapati beberapa anak yang tengah asik bermain. Kami akan mengusik permainan mereka. Kami ganti dengan pemeriksaan gigi sederhana oleh Vemi. Kedatangan kami mengejutkan mereka. Beberapa ada yang tampak semangat namun beberapa lainnya malah takut dan menolak untuk diperiksa.

                Tingkah anak-anak selalu dan selalu menarik. Ada yang sudah menyatakan takut dan tidak mau diperiksa namun sekejap keputusannya berubah melihat ada temannya yang berani diperiksa. Iyaa..bisa dibilang mereka tidak mau kalah. Dengan gesit Vemi mencatat nama, usia dan temuan pemeriksaan. Setelah semua anak sudah diperiksa, kami melanjutkan aksi berikutnya. Apakah itu? Tentunya menemui orang tua mereka untuk minta izin apakah boleh dilakukan pengobatan. Alhamdulillaah semua orang tua yang kami temui selalu bersedia memberikan izin anaknya untuk diberi perawatan. Si Vemi melakukan aksi negosiasi jadwal. Ada anak yang tidak bisa memenuhi jadwal yang Vemi tawarkan karena bertabrakan dengan jadwal sekolah si anak. Apa boleh buat, tidak jodoh namanya.

                Perburuan anak-anak ini kami lanjutkan lagi dengan dipandu oleh seorang gadis kecil dan pemuda kecil. Mereka adalah Cinta dan Ridho. Lucu sekali, dipandu mereka kami mengunjungi dari rumah ke rumah. Menanyakan apakah ada anak kecil usia TK atau SD. Khususnya yang ada keluhan sakit gigi. Ajaibnya Cinta dan Ridho hafal semua rumah yang isinya ada anak-anak dan memaksa kami mengunjungi setiap rumah itu walaupun kondisi rumah tertutup. Satu hal yang kami (saya dan Vemi) pahami bahwa energi anak-anak itu jauh lebih besar daripada kami. Buktinya kami ngos-ngosan ngikutin setiap langkah Cinta dan Ridho. Memasuki setiap lorong-lorong dan mengetuk pintu-pintu. Haha, kalau kalian mendapati dua orang gadis yang keliling kampung. Mohon buka pintunya. Jangan takut, dua gadis itu bukan mau minta sumbangan kok. Hanya ingin menanyakan apakah ada anak kecil yang punya keluhan sakit gigi,hahaha.

                Mengingat hari semakin sore. Matahari juga sudah mau undur diri. Kamipun memutuskan untuk mengakhiri perburuan kami. Padahal si dua bocah masih semangat mengajak kami keliling-keliling. Masih banyak rumah yang belum dikunjungin katanya.Haha, semoga lain waktu kita bisa melanjutkan pencarian ya. Alhamdulillaah, Vemi sudah mengantongi beberapa nama. Esok hari jika jadwalnya cocok, anak-anak itu sudah bisa dibawa ke Rumah sakit Khusus Gigi dan Mulut yang letaknya tidak jauh dari kosan saya.

Ayuk Vemi lagi periksa gigi ^^


Hai..nama saya Kiki, sekolah TK, berani sama dokter gigi!


Saya Ridho, bocah paling ganteng sejagat rayaaaa

Hiks..Saya Cinta, saya takut periksa gigi. Gimanaaa dong T_______T

lalalalalala....kami mau mengaji ayukkk.... ^^



Ciyeeeee....berangkat ngaji bareng euy...wkwk


HUAHAHAHAHA...itu si Kiki sampe ngepor!


Hayoooo...semua unjuk gigi!


                Pesan konyol dari tulisan ini adalah tolong amankan anak anda. Jangan biarkan mereka main sendirian di lapangan terbuka. Anak-anak tersebut berpotensi terjaring dalam perburuan kami,hihihihi.

                Pesan moral dari tulisan ini adalah aksi kecil-kecilan ini semoga bermanfaat buat si anak dan si Vemi. Buat anak-anak, ya giginya bisa lebih sehat terus belajarnya produktif terus prestasinya bagus terus proses pendidikannya lancar dan bisa mencapai cita-cita sesuai harapan. Buat si Vemi, ya semoga jadi dokter gigi yang bermanfaat. Selalu inget ya Vem, bahwa kamu akan jadi dokter gigi yang hebat nanti. Ajaibnya ilmu itu bersumber dari gigi manusia-manusia kecil yang kita temuin hari ini.



Sukabangun, 18 Maret 2014
Di sudut kamar Kosan Cinta 
               

                 

Senin, 10 Maret 2014

Sore Bersama Jasmine



Ketika matahari sudah mulai meredupkan cahayanya, aku teringat tentang sebuah janji. Iya, aku memiliki janji untuk mengunjungi seorang sahabat. Sahabat lama ketika masih duduk di bangku SMA. Sebut saja si Jasmine. Lalu bersama Mela aku membeli sebuah kado dan diantar menuju ke rumah Jasmine. Setibanya di depan rumah Jasmine, aku mendapati sebuah tenda sudah terpasang. Dari bibir pintu aku lihat dekorasi rumah tengah dipasang. Lalu wajah Jasmine tampak bersinar dari kejauhan. Assalamualaikum….. ucapku. Waalaikum salam… Jasmine menjawab dengan senyum sumringah, ditambah ekspresi wajah terkejut, melihat aku sudah di depan rumahnya.

Jasmine mempersilahkan aku masuk. Aku sangat terkesima melihat pelaminan sederhana di dalam rumahnya. Akupun dipersilahkan duduk di ruang tengah. Kurang dari sepuluh menit aku duduk, Jasmine memanggilku. Aku diajak masuk ke kamarnya. Subhanallah, ini sebuah kamar sederhana namun istimewa. Betapa tidak, aku menikmati kesederhanaan dalam kamar Jasmine. Dengan nuansa abu-abu lembut diselingi kuning keemasan. Iya, inilah surga dunia bagi Jasmine. Hadiah terindah bagi yang berbuka puasa. Aku benar-benar jatuh hati….

Aku dan Jasmine saling bertatap muka. Saling menunjukkan wajah bahagia. Setidaknya hari ini, Allah memberikan kami kesempatan untuk bersua, berbagi cerita dan tertawa bersama. Sore yang mengesankan, aku mendengar kisah pertemuan Jasmine dengan calon suaminya. Hanya bertemu satu kali, dilanjutkan dengan lamaran dan hingga hari pernikahan barulah Jasmine berjumpa lagi dengan suaminya. Subhanallah, aku selalu percaya bahwa Allah memiliki cara terbaik bagi dua insan yang berniat baik menyempurnakan separuh agamanya.

Tiba-tiba di sudut kamar aku mendapati sebuah papan yang bertuliskan sebuah doa. Aku penasaran, lalu aku bertanya untuk apa papan itu. Jasmine menjelaskan bahwa papan itu tertulis doa untuk pengantin, yang nanti akan di letakkan tepat di muka rumah. Setiap tamu yang datang, ketika membaca papan itu maka terucap doa untuk Jasmine dan suaminya. Sungguh, yang menjadi harapan dari kedatangan para tamu tidak lain tidak bukan, lantunan doa yang tulus. Tanpa aku sadari mataku berkaca-kaca.

Hari semakin sore, bahkan matahari sudah hendak bersembunyi di balik kaki langit. Dipenghujung perjumpaan kami, Jasmine mengatakan bahwa Ia sangat bahagia atas kedatanganku sore  itu, lalu bertanya mengapa aku segitunya ingin berjumpa dengannya. Dengan senyum termanis tingkat dewa, aku menjawab pertanyaannya, tentu karena aku  tahu setelah menikah Jasmine pasti akan turut suami dan entah kapan kami punya kesempatan untuk berjumpa.  Lalu aku izin pulang. Perjumpaan sore itu ditutup dengan pelukan hangat antara dua sahabat.

Allah selalu punya penjelasan mengapa menggerakkan aku untuk mengunjungi Jasmine sore itu. Sepulang dari rumah Jasmine, seolah mendapatkan materi pelajaran baru dan aku mencoba untuk merangkai intisari dari materi pelajaran itu.

“Bahwa Allah maha baik, yang senantiasa menjawab permintaan hambaNya dengan cara terbaikNya. Bahwa tentang sebuah pernikahan adalah bersatunya dua insan yang didekatkan karena Allah. Bahwa tentang sebuah perayaan pernikahan adalah ketika orang-orang dengan tulus mendoakan, tulus mendoakan, dan tulus mendoakan. Bahwa kesederhanaan yang ditujukan hanya karena Allah, membuat kita paham semua yang bergeser dari psrinsip dasar dapat melenakan, lupa bahwa itu hanya keindahan dunia dan penilaian manusia semata.”

Minggu, 09 Maret 2014

Kita adalah Guru dan Lingkungan adalah Sekolah




Saya adalah seseorang pecinta anak-anak. Bagi saya senyum anak-anak mampu melumpuhkan dunia #eaaaaa. Mungkin agak berlebihan namun memang demikian kenyataannya. Saya tertarik sekali mengamati tingkah anak-anak. Tingkah mereka beragam, aneh dan lucu. Setiap proses tumbuh kembangnya menyimpan misteri. Ibu adalah seseorang yang paling setia menunggu dan menerka-nerka misteri itu. Tapi tahukah kalian, dibalik misteri-misteri itu ada campur tangan kita. Ada campur tangan manusia seperti kita yang mungkin tidak sengaja memberi corak pada misteri itu. Penasaran apa yang saya maksud? Mari luangkan waktu sejenak, izinkan saya mengajak kalian yang kebetulan nyasar di blog saya dan tidak sengaja baca tulisan ini untuk berimajinasi.

Masihkah kalian ingat masa-masa kecil kalian? Saya rasa masih ya, karena memang pada dasarnya kita dibekali long term memory. Lain hal jika ada diantara kita yang doyan nari-nari di atas loteng terus jatuh, terus kepalanya kejedot, terus amnesia #abaikan. Nah, sebenarnya apa yang ada pada diri kita saat ini merupakan akumulasi waktu-waktu yang kita lewati sejak lahir hingga detik ini. Selain orang tua, keluarga, sahabat, dan guru-guru di sekolah, tentu ada manusia-manusia lain yang pernah tanpa sengaja terlihat oleh kita. Mungkin sempat berinteraksi atau bahkan hanya sekedar bertemu dalam hitungan detik. Tapi siapa yang menjamin pertemuan yang hanya hitungan detik itu ternyata ada ‘sesuatu’. Ternyata Allah menitipkan ‘sesuatu’ itu yang ditransfer kepada kita, yang kita bawa hingga saat ini. Dalam hal ini ‘sesuatu’ itu memiliki banyak arti.

Baiklah, akan lebih asik kalau kita ambil contoh ya. Misalnya, seseorang anak laki-laki usia 7 tahun berdiri di depan pagar sekolah menanti bundanya menjemputnya. Sembari menunggu sang bunda yang belum datang, si anak menunggu sambil mengamati jalanan di depan pagar sekolah. Ternyata tepat di seberang pagar ada nenek yang mau menyebrang. Lalu seorang manusia entah siapa saja dari mana saja berkenan menyebrangkan nenek tersebut. Momen itu hanya terjadi lebih kurang tujuh belas detik. Ya, si anak melihat namun sebatas melihat. Beberapa tahun kemudian ketika si anak dalam kondisi yang sama dengan manusia tadi, bisa jadi si anak melakukan hal yang sama yakni menyebrangkan nenek tua. Boleh jadi hal ini tidak ia dapatkan dari orang tua, saudara, teman-teman, dan guru-guru di sekolah. Tapi ia dapatkan dari seorang manusia yang entah siapa dan darimana.

‘Sesuatu’ yang saya maksud dapat berupa banyak hal. Contoh yang paling sederhana saja, senyuman. Kalau kita membiasakan tersenyum kepada anak-anak. Entah berapa persen, namun pasti ada, saya yakin ada. Tertanam dipikiran mereka juga untuk tersenyum. Contoh lain untuk hal negatif, misalnya ada seorang pemuda merokok di depan anak-anak, aduhai saya sangat mencemaskan hal ini. Anak-anak akan melihat, mengamati dan menangkapnya sebagai suatu hal yang baik-baik saja untuk mereka lakukan. Oleh karena itu untuk seluruh kaum perokok, sah-sah saja jika kalian ingin merokok tapi mohon jangan di depan anak-anak ya. Please….

Ada banyak hal ‘sesuatu’ itu. Setelah saya gambarkan contoh sederhana di atas mungkin kalian sudah punya gambaran sesuatu-sesuatu yang lain versi kalian,hehe. Nah, oleh karena itulah tanpa kita sadari kita semua adalah guru untuk semua anak-anak yang pernah bertemu dengan kita dan lingkungan adalah sekolahnya. Mungkin kita belum jadi guru yang cukup baik namun kita selalu bisa mengusahakan untuk tidak menjadikan anak-anak di sekitar kita menjadi lebih buruk.

Adakah diantara kalian yang bertanya, mengapa saya hanya menyoroti anak-anak? Toh segala contoh kebaikan atau keburukan yang ditangkap baik oleh manusia dewasa atau manusia usia anak-anak sama saja. Sama-sama berpotensi menginspirasi mereka. Namun saya pribadi dan mungkin milyaran seisi negeri ini, berharap dari anak-anak. Iya anak-anak. Jikalau di gedung KPK orang-orang sedang memproses ratusan kasus korupsi yang diperbuat oleh manusia dewasa. Ya sudahlah, kita masih punya manusia-manusia kecil, yang isi kepalanya dan isi hatinya kita ajarkan hal-hal baik dan pemahaman baik.

Saya berharap tulisan ini tidak sengaja dibaca oleh anak-anak usia muda yang mungkin baru belajar baca. Saya sangat bahagia jikalau hari ini mereka hanya membaca namun belum paham, karena pemahaman itu tidak selalu datang pada saat itu juga. Bisa jadi duluan, bisa jadi saat itu, bisa jadi beberapa waktu kemudian, atau bisa jadi tidak akan datang sama sekali. Semua itu sudah ada pengaturannya. Allah selalu mempunyai alasan mengapa begini mengapa begitu.

Tulisan sederhana ini bertujuan membuka mata hati bukan mata kaki, bahwa ternyata kita semua adalah guru dan lingkungan kita adalah sekolah bagi anak-anak di sekitar kita.