Minggu, 09 Maret 2014

Kita adalah Guru dan Lingkungan adalah Sekolah




Saya adalah seseorang pecinta anak-anak. Bagi saya senyum anak-anak mampu melumpuhkan dunia #eaaaaa. Mungkin agak berlebihan namun memang demikian kenyataannya. Saya tertarik sekali mengamati tingkah anak-anak. Tingkah mereka beragam, aneh dan lucu. Setiap proses tumbuh kembangnya menyimpan misteri. Ibu adalah seseorang yang paling setia menunggu dan menerka-nerka misteri itu. Tapi tahukah kalian, dibalik misteri-misteri itu ada campur tangan kita. Ada campur tangan manusia seperti kita yang mungkin tidak sengaja memberi corak pada misteri itu. Penasaran apa yang saya maksud? Mari luangkan waktu sejenak, izinkan saya mengajak kalian yang kebetulan nyasar di blog saya dan tidak sengaja baca tulisan ini untuk berimajinasi.

Masihkah kalian ingat masa-masa kecil kalian? Saya rasa masih ya, karena memang pada dasarnya kita dibekali long term memory. Lain hal jika ada diantara kita yang doyan nari-nari di atas loteng terus jatuh, terus kepalanya kejedot, terus amnesia #abaikan. Nah, sebenarnya apa yang ada pada diri kita saat ini merupakan akumulasi waktu-waktu yang kita lewati sejak lahir hingga detik ini. Selain orang tua, keluarga, sahabat, dan guru-guru di sekolah, tentu ada manusia-manusia lain yang pernah tanpa sengaja terlihat oleh kita. Mungkin sempat berinteraksi atau bahkan hanya sekedar bertemu dalam hitungan detik. Tapi siapa yang menjamin pertemuan yang hanya hitungan detik itu ternyata ada ‘sesuatu’. Ternyata Allah menitipkan ‘sesuatu’ itu yang ditransfer kepada kita, yang kita bawa hingga saat ini. Dalam hal ini ‘sesuatu’ itu memiliki banyak arti.

Baiklah, akan lebih asik kalau kita ambil contoh ya. Misalnya, seseorang anak laki-laki usia 7 tahun berdiri di depan pagar sekolah menanti bundanya menjemputnya. Sembari menunggu sang bunda yang belum datang, si anak menunggu sambil mengamati jalanan di depan pagar sekolah. Ternyata tepat di seberang pagar ada nenek yang mau menyebrang. Lalu seorang manusia entah siapa saja dari mana saja berkenan menyebrangkan nenek tersebut. Momen itu hanya terjadi lebih kurang tujuh belas detik. Ya, si anak melihat namun sebatas melihat. Beberapa tahun kemudian ketika si anak dalam kondisi yang sama dengan manusia tadi, bisa jadi si anak melakukan hal yang sama yakni menyebrangkan nenek tua. Boleh jadi hal ini tidak ia dapatkan dari orang tua, saudara, teman-teman, dan guru-guru di sekolah. Tapi ia dapatkan dari seorang manusia yang entah siapa dan darimana.

‘Sesuatu’ yang saya maksud dapat berupa banyak hal. Contoh yang paling sederhana saja, senyuman. Kalau kita membiasakan tersenyum kepada anak-anak. Entah berapa persen, namun pasti ada, saya yakin ada. Tertanam dipikiran mereka juga untuk tersenyum. Contoh lain untuk hal negatif, misalnya ada seorang pemuda merokok di depan anak-anak, aduhai saya sangat mencemaskan hal ini. Anak-anak akan melihat, mengamati dan menangkapnya sebagai suatu hal yang baik-baik saja untuk mereka lakukan. Oleh karena itu untuk seluruh kaum perokok, sah-sah saja jika kalian ingin merokok tapi mohon jangan di depan anak-anak ya. Please….

Ada banyak hal ‘sesuatu’ itu. Setelah saya gambarkan contoh sederhana di atas mungkin kalian sudah punya gambaran sesuatu-sesuatu yang lain versi kalian,hehe. Nah, oleh karena itulah tanpa kita sadari kita semua adalah guru untuk semua anak-anak yang pernah bertemu dengan kita dan lingkungan adalah sekolahnya. Mungkin kita belum jadi guru yang cukup baik namun kita selalu bisa mengusahakan untuk tidak menjadikan anak-anak di sekitar kita menjadi lebih buruk.

Adakah diantara kalian yang bertanya, mengapa saya hanya menyoroti anak-anak? Toh segala contoh kebaikan atau keburukan yang ditangkap baik oleh manusia dewasa atau manusia usia anak-anak sama saja. Sama-sama berpotensi menginspirasi mereka. Namun saya pribadi dan mungkin milyaran seisi negeri ini, berharap dari anak-anak. Iya anak-anak. Jikalau di gedung KPK orang-orang sedang memproses ratusan kasus korupsi yang diperbuat oleh manusia dewasa. Ya sudahlah, kita masih punya manusia-manusia kecil, yang isi kepalanya dan isi hatinya kita ajarkan hal-hal baik dan pemahaman baik.

Saya berharap tulisan ini tidak sengaja dibaca oleh anak-anak usia muda yang mungkin baru belajar baca. Saya sangat bahagia jikalau hari ini mereka hanya membaca namun belum paham, karena pemahaman itu tidak selalu datang pada saat itu juga. Bisa jadi duluan, bisa jadi saat itu, bisa jadi beberapa waktu kemudian, atau bisa jadi tidak akan datang sama sekali. Semua itu sudah ada pengaturannya. Allah selalu mempunyai alasan mengapa begini mengapa begitu.

Tulisan sederhana ini bertujuan membuka mata hati bukan mata kaki, bahwa ternyata kita semua adalah guru dan lingkungan kita adalah sekolah bagi anak-anak di sekitar kita.






Kamis, 30 Januari 2014

Reuni Kecil


            Beberapa hari lalu, di sebuah resepsi pernikahan temen SMA, saya dan beberapa teman seangkatan menghadiri acara tersebut. Bahagia rasanya bisa melihat wajah-wajah lama yang dulu menghiasi masa-masa SMA. Ketawa dan bercanda menjadi bumbu di hari itu. Satu sama lain saling menanyakan kabar. Ahh, ada yang banyak berubah, ada yang sedikit berubah dan ada yang tidak berubah sama sekali. Kalo dulu lucu, ternyata masih ada yang lucunya sampai sekarang, nggak nyisa-nyisa, hehe.  Nah, kira-kira temen-temen memandang saya sendiri gimana ya? Haha. 

“Hidup kita ini seperti film ya, yang kita jalani setiap hari adalah adegan-adegannya. Lalu, orang-orang di sekitar kita adalah juga pemeran filmnya. Lucunya,  kita tidak tahu yang kita mainkan hari ini masih awal cerita, tengah-tengah atau sudah di penghujung film. Yang sebaiknya kita pahami bahwa mainkan film kehidupan kita dengan sebaik-baiknya. Sehingga kita adalah aktor/aktris terbaik untuk film kehidupan kita.”

Seolah memutar sebuah film, masa SMA bisa disebut salah satu scene cerita. Nah, pernikahan salah satu teman ini juga menjadi salah satu adegan. Saya agak merasa aneh tapi ya beginilah suasana sekarang. Perbincangan tidak seperti dulu lagi. Kalo dulu mungkin yang ditanya, “eh..gimana soal UHB kita ya?” atau “Buku kemajuan kelas kita kok nggak ada di kelas?” atau “hey, pinjem topi dong buat apel pagi, aku takut kena hukum.” Nah yang sekarang, “kerja dimana? Kapan mau nyebar undangan?”. Bahkan beberapa teman yang sudah datang bersama pasangannya. Lalu semacam nyusun waiting list, “nanti Maret dateng ya ke nikahan aku” ada juga, “aku pertengahan tahun ini ya..” dan ada juga “aku insyaAllah akhir tahun ini”. Mungkin bagi sebagian teman yang lain, ini hal yang lumrah, toh memangnya prosedurnya begitu. Selesai SMA lanjut kuliah. Selesai kuliah lanjut kerja. Setelah itu menikah dan bla bla bla. Rata-rata temen seangkatan sudah pada kerja, jadi fase yang mereka lewati sedikit lebih cepet dibanding saya, hehe. Ketika mereka lulus sarjana, saya juga lulus sarjana. Ketika mereka kerja, eh saya lanjut kepaniteraan klinik. Ketika mereka sudah pada merancang pernikahan, saya baru selesai koas. Ketika mereka sudah menikah, saya masih lanjut internship. Bisa jadi tahun depan waktu ketemu lagi, sudah rame yang panggil saya, “tanteee Andwi”, hihihi lucunyaaaa. Pastinya topik pembicaraan beda lagi. Nanti akan jadi begini nih, ”anak kamu sudah berapa usianya? Sekarang sudah bisa apa? Apa susu formulanya?” hihihi. Dan saya yang bakal sibuk berkoar-koar untuk temen-temen yang cewek, “temen-temen walau sibuk jangan lupa ASI Eksklusif ya…”. Nah kalo buat temen yang cowok saya bakal bilang, “temen-temen, kalian harus jadi Papa pendukung ASI yaa..”. Terus mereka bakal nanya balik, ”gimana caranya Andwi?” nah untuk yang ini saya agak harus lebih cerdas sekarang menjelaskan karena temen-temen cowok angkatan 3 pasti semakin kreatif.  

Lalu sepulang dari acara tersebut saya pulang bersama Cecep dan Puja. Sempet mampir ke rumah Cecep dan ngobrol-ngobrol. Mengingat Puja harus cepet pulang jadilah kami pamit pulang.  (FYI sebenernya Cecep dan saya masih pengen ngobrol panjang, berhubung saya kan nebeng sama Puja jadi manut aja, haha).

Dasar memang berjodoh, obrolan kami berlanjut lagi malam harinya. Saya mau balik ke Palembang dan Cecep juga mau ke Palembang. Berhubung saya dianter oleh bapak, jadi Cecep bisa ikut. Hey, jadilah kami punya waktu panjang buat ngobrol sepanjang perjalanan.  

Uhuk..Uhuk..ini obrolan dua perempuan dewasa muda ya. Dulu terakhir ketemu dan bisa cerita panjang lebar dari AAA sampai ZZEETT tahun 2009. Lalu kini ada kesempatan lagi 2014. Waw..Waw..Waw..ada selang lima tahun yaa. Ceritanya kita ngobrolin apa saja, dari yang ‘nggak penting-penting amat’ sampai yang ‘amat-amat penting’. Lumayan mengisi waktu tiga jam perjalanan. Saya selalu tertarik mendengarkan pengalaman seseorang, nah dengan ketemu begini kan setidaknya saya mendapat cerita dan seolah masuk di hidup seseorang. Begitu juga sebaliknya saya cerita banyak hal. Yang paling menarik adalah ketika kita sharing. Untuk kapasitas saya yang banyak menghabiskan waktu di rumah sakit, merawat orang sakit dan berkumpul dengan teman-teman seprofesi. Tentu, dunia yang saya hadapi itu-itu saja. Nah dengan ngobrol sama temen seperti ini yang punya dunia di luar dunia saya, tentu menjadi hal yang sangat menarik, seperti angin segar buat saya, hehe *lebay!.

Cecep yang merupakan lulusan Teknik Industri  salah satu perguruan tinggi di Bandung bercerita banyak hal. Saya sangat tertarik, saya mengatakan kepada Cecep, ada satu ilmu yang sangat saya suka di Teknik Industri yaitu Ergonomi. Well, ketika stase IKM-IKK saya dan teman-teman kunjungan ke suatu perusahaan beras. Topik yang kita pelajari adalah keselamatan kerja. Disinilah saya mengenal ilmu Ergonomi. Segitunya saya tertarik sampai-sampai saya browsing di internet dari mata kuliah anak TI, lalu memahami ilmu ini. Ternyata kalo saya sudah tertarik sebegituya yaa, hehe.  Begitu juga sebaliknya, Cecep juga harus banyak baca untuk masalah penyakit dan kesehatan. Jadi kalo berobat sama dokter, ada banyak hal yang bisa dikritisi. Kan sebagai dokter jadi lebih enak. Komunikasi dokter-pasien lebih santai, pasiennya pinter-pinter, tidak perlu banyak menjelaskan tapi hanya meluruskan, hehe.

“Belajar itu bukan hanya tentang apa keilmuan yang tengah kita geluti, tetapi tentang apasaja yang ingin kita pahami, sehingga membuat kita berusaha mencari tahu dan mau mempelajari. Itulah belajar, makna yang paling hakiki”

Menjelang tengah malam, kami tiba di Palembang. Cecep langsung diantar ke kosannya. Perpisahan kami ditutup dengan aksi buka pager yang nggak kebuka-buka padahal jelas-jelas emang nggak dikunci, haha. Tepat pukul enol enol saya sampai di kosan saya. Ahh, capeeeekk. Tapi senangnya, hari ini akan saya namai dengan “Reuni Kecil”.

***
Mengapa saya namai tulisan ini “Reuni Kecil” ? emang begitu, reuni dalam skala kecil-kecilan, hehe. Apapun bentuknya, meski cuma sekedar duduk bersampingan di angkot, ketemu nggak sengaja sama temen lama dan cuma berdurasi lima menit. Tapi dalam lima menit itu, kita bisa dapet satu-dua-tiga hal, lebih untung kalo banyak hal. Hebatnya, hal-hal ini akan memberi  energi baru. Sungguh merugi jika setiap momen yang kita lewati, kita lupa menelaahnya dan menjadikannya energi baru.

Terkadang kita terkungkung dengan kondisi. Lebih memilih bersembunyi. Hanya karena kondisi kita sedang ‘tidak benar-benar baik’ berdasarkan definisi kita sendiri, kita jadi memilih berdiam dan menjauh. Hey, seorang teman tidak menjadikan ukuran kondisi atas definisi perorangan. Seorang teman (sejati) selalu ingin memastikan bahwa temannya  ada.

”You don’t lose friends, because real friends can never be lost. You lose people masquerading as friends, and you are better for it.”
-Mandy Hale-





***

Dalam tulisan ini ada dua nama teman yang saya tulis: Cecep dan Puja. Sekilas kalian (yang bukan anak SMA saya) pasti mikirnya Cecep itu cowok dan Puja itu cewek, hehe. Siapa yang mikirnya gitu angkat kaki hayooo...haha. Salah! yang bener itu kebalikannya, Cecep adalah Septiyah Giyanti, yang namanya saya abadikan di seorang bayi yang proses kelahirannya saya bantu waktu stase Obgyn, hehe. Dulu waktu saya ke Bandung thn 2010, pernah saya dimarah oom saya, karena bilang mau diajak Cecep jalan. Dikira cowok padahal cewek, haha. Nah, kalo Puja lengkapnya Alfindra Purja. Saya juga aneh kok dipanggil Puja, hehe. 

Senin, 27 Januari 2014

Filosofi Kantong di Luar dan Kantong di Dalam


Sebagai manusia kita selalu mempunyai dua kantong. Kantong di luar dan kantong di dalam. Kantong ini berisikan kebahagiaan-kebahagiaan. Hey, hidup ini memang selalu menarik. Setiap hari kita selalu membawa kantong-kantong kebahagiaan ini.  Namun, pernahkah kita memahami bahwa dari kedua kantong tersebut, manakah kantong kita yang terisi lebih penuh?

Saya hanya mengira-ngira, kantong di luar adalah kantong yang menyimpan kebahagiaan-kebahagiaan yang datangnya dari luar. Misalnya, mendapat hadiah, mendapat apresiasi atas suatu hasil yang kita kerjakan, memiliki harta berlimpah, termasuk di golongan kelas sosial yang tinggi dan lain sebagainya. Sedangkan kantong di dalam adalah kantong-kantong yang menyimpan kebahagiaan-kebahagiaan dari dalam. Saya bingung kebahagiaan di kantong ini bersumber dari mana.

Mari kita berandai-andai, bukankah hidup ini masalah pilihan. Cita-cita, impian dan harapan, selalu saja menjadi pilihan. Kantong di luar akan terisi jika semua pilihan tadi kita dapatkan. Lalu bagaimana dengan kantong di dalam? Ya, berdasarkan tebakan saya, juga akan terisi. Namun, pernahkah terpikirkan jika kita jatuh pada kondisi, --tidak selalu mendapatkan apa yang kita pilih--. Harapan kita dapat meraih pendidikan di universitas ternama, harapan kita dapat bekerja di perusahaan multinasional terhebat dan harapan-harapan lainnya.  Namun, jika kita tidak selalu mendapat pilihan pertama, jatuh pada pilihan kedua, ketiga, keempat, kelima dan seterusnya, atau bahkan bukan menjadi pilihan sama sekali. Kantong di luar bisa jadi hanya terisi sedikit. Lalu bagaimana dengan kantong di dalam? Ahay, ajaibnya kantong di dalam sepenuhnya intervensi kita. Kantong di dalam hanya diri kita sendiri yang berhak mengisinya. Dan keajaiaban satu lagi, kantong di dalam adalah katong yang tiada batas. Kau bahkan bisa mengisinya tanpa tahu kapan menjadi penuh. Mengisinya terus menerus.

Jika kita terbiasa mengisi kantong di dalam tanpa tergantung pada kantong di luar, kita akan menjadi paham bahwa kebahagiaan sesungguhnya berasal dari hati. Inilah kebahagiaan yang hakiki. Kita akan selalu bahagia meskipun apa yang menjadi pilihan tidak selalu kita dapatkan. Tidak selalu kita dapatkan.

Dengan begini, kita dapat menjaga pemahaman yang paling mendasar.

Ketika kita bermimpi menuntut ilmu setinggi langit, bukan semata ijazah yang kita kejar. Tapi keilmuan dan proses belajarnya. Jadi, bagaimanapun hasil akhirnya, kita akan selalu bahagia.

Ketika kita bermimpi bekerja di tempat-tempat terhebat, bukan semata ‘nama’ yang kita kejar. Tapi manfaat dari diri kita. Jadi, menjadi apapun kita dan dimanapun kita ditempatkan yang terpenting adalah kita selalu bisa bermanfaat, kita akan selalu bahagia.

Ketika kita telah melakukan suatu hal, bukan semata apresiasi dari orang yang kita kejar. Tapi, proses melakukan suatu hal  itu. Jadi, bagaimanapun tanggapan orang terhadap apa yang sudah kita lakukan, kita akan selalu bahagia.


“Kantong kebahagiaan ini ajaib sekali. Semakin terisi bukan semakin berat, tetapi justru semakin ringan”





Jumat, 22 November 2013

Hakikat Mencintai


Aku pernah bertanya, apa spesialnya rasa yang disebut ‘cinta’? Apa sama spesialnya dengan rasa lapar, haus, bosan dan jenis-jenis rasa lainnya. Mengapa seringkali manusia amat mengagungkan jenis rasa yang satu ini. Porsinya dilebihkan dari jenis rasa yang lain. Lalu aku bertanya pada diri sendiri. Apakah aku juga termasuk orang yang mengagungkan jenis rasa yang satu ini? Yang menganggap jenis rasa ini mempengaruhi lebih dari tujuh puluh persen kehidupan sehari-hari? Jikalau memang amat spesial, jikalau keberadaannya mempengaruhi aspek kehidupan yang lain-lain, maka aku takut sekali kalau pemahamanku tentang rasa cinta, dangkal. Aku tidak mau jika suatu hari nanti aku jatuh cinta (lagi), aku hanya mencintai sebatas superfisial. 

            Maka, aku memutuskan untuk memahami hakikat mencintai....

            Kebingungan menyeruak lagi. Berbagai pertanyaan muncul lagi di kepalaku. Dari mana aku memulai memahami ini? Bagaimana cara ku memahami ini? Pemahaman yang seperti apa yang aku butuhkan? Aku berhenti bertanya. Sejenak, Aku ingin berdiskusi. Berdiskusi dengan diri sendiri. Baiklah, aku akan mulai mempelajari ini dengan cara ku sendiri. Aku memulainya dari dasar. Dasar penciptaanku dihadirkan di bumi ini.

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”
(QS. Adz-Dzariyat: 56) 

            Aku dihadirkan di bumi ini adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Sampai disini aku seperti menemukan titik terang. Setidaknya aku tahu kemana aku akan melangkah. Dalam proses menjalani kehidupan di dunia ini, tentu aku akan berinteraksi dengan berpegang pada garis horizontal dan vertikal. Habluminannas dan Habluminallah. Barulah pertanyaan tentang rasa cinta tadi datang lagi, karena disinilah inti dari yang harus aku pahami. 

Ada satu hal yang selalu muncul dari hati kecil, bahwa aku ingin terlebih dahulu merasakan cinta yang sebenar-benarnya cinta kepada Sang Pencipta ku. Barulah aku mengizinkan hatiku mencintai selain-Nya dengan pemahaman cinta itu ada atas dasar cintaku terhadap Sang Pencipta ku. Namun, aku tidak tahu. Mata hati terasa beku. Bagaimana merasakan cinta yang sebenar-benarnya cinta kepada Sang Pencipta itu? Jujur, aku tidak tahu. Tolong ajarkan aku. Tolong tanamkan rasa cinta itu. Entah lewat apa dan bagaimana caranya. Aku menangis...

“Ya Allah..hamba-Mu yang lemah ini sangat ingin merasakan cinta yang sebenar-benarnya cinta kepada-Mu. Hamba ingin...namun hamba tidak paham..tidak tahu...tolong tunjukkan ya Allah...Walau dengan jalan apapun, tunjukkan ya Allah..”

Aku ingin langkahku terasa ringan. Langkah yang selalu dituntun-Nya di jalan yang selalu dalam penjagaan-Nya. Aku jalani irama hidupku. Lewat apapun skenario yang diberikan-Nya untuk ku. Aku ingin menerima, dengan penerimaan yang tulus. Aku pernah jatuh, tapi aku diberi kekuatan untuk bangun. Aku pernah sakit, tapi aku diberi kenikmatan untuk sembuh. Aku pernah menjadi sangat hitam, tapi aku diberi corak untuk menjadi putih. Aku bertanya mengapa ini terjadi. Aku bertanya lagi. Bertanya lagi. Lagi. 

“Inilah cara Allah menjagaku, cara Allah menyayangiku, cara Allah mencintaiku”

Aku bisa merasakan betapa Allah mencintaiku. Rasa cinta itu melampaui batas pengetahuanku. Dengan inilah aku paham bagaimana aku memulai mencintai-Nya. Aku menerima dengan cara apapun pemahaman itu hadir, maka aku mempersilahkan diriku untuk mencintai-Nya dengan cara ku, dengan pemahamanku. Amat sederhana, dengan mensyukuri semua yang telah aku punya dan menyerahkan sepenuhnya diriku kepada-Nya. Sungguh, Aku bukan apa-apa.

--Maka suatu hari nanti, jika aku jatuh cinta (lagi) itu karena Allah telah mengizinkan aku untuk mencintai, yang bersama orang itu aku bisa menambah kecintaanku kepada-Nya. Lagi dan lagi.--

Kamis, 21 November 2013

Air Surga


Tik tok tik tok..jam dinding berbunyi. Saya hanya terdiam. Tiba-tiba teringat akan nasihat wanita kecil yang usianya jauh di bawah kami. Namanya adalah Atiyah. Haha, mohon maaf ya dek kalo penulisan namamu salah. Sebab ketika menulis ini, kakak sedang tidak berada di samping kakakmu untuk menanyakan yang benarnya. 

Atiyah adalah adik dari teman saya. Ia mengenyam pendidikan di sebuah pesantren. Badannya gede banget. Pernah si Atiyah ini berkunjung ke kosan kami, nyaris ga ada baju yang muat buat dipinjemin untuk dia. Beruntung kak Andwi juga punya adek yang badannya lebih gede dari kak Andwi, jadilah Atiyah pakai baju si Sindy. Suatu hal di luar perkiraan, kamu suka banget ya dek baca novel. Semangat ngubek-ngubek rak buku kakak. Apa itu, hmm.. Remember When ya yang kamu baca diem-diem waktu itu, haha. Maklum mama kamu ga izinin kamu baca kayak begituan ya. Kakak kamu juga ga suka baca dek, dia mah doyannya baca text book kedokteran dek :P.

Dulu saya hanya kenal si Atiyah ini dari foto. Teman saya sering memperlihatkan foto adiknya. Ketika adiknya berkesempatan datang, tepat ketika dia duduk di kelas 2 SMP. Dia sudah tumbuh jadi seorang remaja, jauh sekali dari gambaran foto yang pernah saya lihat. Teman saya ini beruntung, sebab sering mendapat nasihat dari adiknya. Jadilah saya tersadar...

“Ini bukan tentang siapa lebih tua, bukan tentang siapa yang duluan lahir, tapi tentang siapa lebih diberi kesempatan belajar, memahami dan menyampaikan dengan bijak”

Pernah suatu ketika, Atiyah menasihati kakaknya, “Kakak..berbusanalah yang syar’i, sebab kalau tidak, kakak akan berbuat dosa. Ketika kakak melangkah ke luar rumah, setiap langkah kakak akan mengajak papa ke neraka. Kasihan papa kak..”. Saat itu saya hanya senyum mendengar teman saya bercerita tentang ini. Namun, sekarang seiring berjalannya waktu saya jadi berpikir,

“Terkadang rezeki tidak selalu berupa materi, datang nasihat baik juga rezeki.”

Wah, rezeki teman saya bisa diingatkan oleh adiknya. Tapi bukankah saya yang kecipratan cerita dari teman saya juga rezeki buat saya. Apakah rezeki itu berlalu begitu saja? Apa sempat mampir di pemikiran saya?. Rezeki itu kini beranak pinak hingga saya berniat menuliskannya di blog, haha. 

Well, teman saya hanya dua bersaudara dan semuanya perempuan. Jadi laki-laki yang paling cakep di rumahnya ya ayahnya. Lalu saya? Saya punya ayah, satu kakak laki-laki dan satu adik laki-laki. Jadi kalau saya tidak sesuai nasihat adiknya temen saya tadi, bakal ada tiga orang dong ya yang saya ajak ke neraka. Sebab seorang perempuan adalah tanggung jawab ayahnya, saudara laki-lakinya dan suaminya (kalo sudah bersuami). Astaghfirullah, semoga dijauhkan. Berarti tanggung jawab saya untuk menjaga diri jauh lebih besar dibanding teman saya. 

Sungguh beruntung apabila kita berada di dekat orang-orang yang senantiasa mengingatkan dan menasihati. Namun diri sendiri pun bisa menjadi pengingat dan penasihat untuk diri sendiri. Inilah mengapa saya ingin menulis disini, suatu saat ketika saya dibuat lupa, mungkin tulisan inilah yang megingatkan. Lupa lagi baca lagi, diingetin lagi. Lupa lagi baca lagi. Lupa lagi baca lagi. Haha, dan seterusnyaaaaaa hingga suatu saat siapa tahu anak saya yang baca, yah...supaya nanti anak (perempuan) saya diingatkan bahwa setiap langkahnya membawa tanggung jawab ayahnya, iya ayahnya, ya berarti suami saya dong, wekekekekekekekek... 

***

Buat Atiyah di manapun kamu berada, nasihat kamu sederhana dek. Niatnya cuma buat kakak kamu. Terus kakak kamu cerita sama kak Andwi. Terus kakak menuliskannya disini. Disini berharap ada yang nyasar, haha. Lalu mengambil manfaat dari tulisan ini. Terus pengunjung yang nyasar tersebut entah menulis lagi atau menyampaikan lagi ke orang lain. Terus orang lain itu menyambung nasihat itu ke orang lain lagi. Terus terus dan seterusnyaaa.. jadi apa namanya ini dek? Inilah yang disebut rantai kebaikan, semoga pahalamu mengalir. Mengalir seperti air surga. Amin