Minggu, 05 Mei 2013

Rahasia Malam Ini

Inspirasi aku bermimpi, ya dari sini!

Malam selalu menyimpan rahasia. Rahasia keindahan. Ah, mungkin aku saja yang terlalu, tapi sungguh, malam selalu menyimpan rahasia. Rahasia itu harus aku bocorkan pada malam ini. Iya, tentu saja malam ini. Mengapa malam ini? Ssstt..  ini kabar baik untuk kamu yang tidak tidur dan tetap terjaga bersama ku, malam ini.  

Malam ini, akan ada keajaiban. Keajaiban yang luar biasa. Keajaiban ini hanya aku yang tahu. Kabar baiknya, keajaiban ini bisa aku bagikan kepada orang lain dan bersama orang lain itu, aku bisa mengatur-ngatur bagaimana jalannya keajaiban ini. Namun sayang, kabar buruknya aku hanya bisa mengajak satu orang saja. Sekarang aku tanya, apakah kamu mau menjadi orang lain itu? 

Aku melihat mu tersenyum. Bolehkah aku menyimpulkan bahwa makna senyum mu adalah sebuah kesediaan. Kesediaan untuk tetap terjaga bersama ku malam ini. Baiklah, sebaiknya sekarang juga, mana tangan mu. Hmm..maaf ya, aku akan menggenggam erat tangan mu. Mari pejamkan mata.

Seketika sepasang anak manusia ini berubah menjadi sepasang kupu-kupu. Rahasia, ini adalah keajaiban pertama.

Haa, kita sekarang sudah berubah menjadi kupu-kupu teman. Lihatlah, begitu cantik warna sayap ku, merah jambu. Kamu, juga terlihat gagah dengan sayap berwarna biru. Ini bagus sekali. Dengan begini, kita tidak akan dikenali oleh manusia, kalau sebenarnya, kita adalah dua makhluk tadi yang sedang bercengkerama.  Tidak kah kamu bertanya, ada apa dengan perubahan ini? Teman, akan aku jelaskan, malam ini kita akan pergi ke sebuah planet yang belum pernah dikunjungi manusia. Hebatnya, kita berdua akan hidup seratus tahun disana, sedangkan manusia di bumi hanya akan merasakan sekitar tujuh hingga delapan jam saja. Ups, sebenarnya ini hanya rekayasa ku. Mengapa harus tujuh hingga delapan jam? Iya, karena itu waktu manusia tidur. Tanpa mereka sadari, waktu merangkak begitu lamban. Ketika mereka tidur, kita berkelana. Mari kita terbang sekarang juga....

Sepasang kupu-kupu ini terbang menuju planet itu. Melesat, melampaui kecepatan cahaya. Rahasia, ini adalah keajaiban kedua.   

Kita sudah sampai di planet yang aku maksud, teman. Planet ini biasa saja ya teman. Tidak ada yang spesial. Apakah kamu menyesal telah pergi bersama ku kemari? Ah, sudahlah! Kita sudah terlanjur kemari. Jangan sia-siakan sepotong waktu yang luar biasa ini. Planet ini dihuni oleh kupu-kupu. Ada seribu kupu-kupu disini dengan berbagai jenis. Kedatangan kita kemari membuat jumlahnya menjadi seribu dua. Tapi kupu-kupu disini tidak akan memperhatikan kita. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Apa pekerjaan mereka?

Mari kesini! 

Nah, kita mulai perjalanan dari sudut sini. Pekerjaan kupu-kupu disini hanyalah bermetamorfosis dan terbang hilir mudik. Planet ini hanya bertahan seratus tahun. Sama dengan lama keberadaan kita disini. Ups, sebenarnya lagi-lagi ini hanya rekayasa ku. Biarkan hanya seratus tahun, agar sama abadinya seperti keberadaan kita disini.

Oh ya, untuk bermetamorfosis, mereka hanya butuh satu tahun. Tapi satu tahun itu mereka bekerja keras. Sungguh bekerja keras, agar metamorfosis ini menghasilkan keabadian. Iya, keabadian selama sembilan puluh sembilan tahun kedepan. Bagi kupu-kupu yang malas bermetamorfosis, maka mereka akan ditelan waktu. Ditelan begitu saja. Bahkan jejaknya tidak terlihat. Sedangkan kupu-kupu yang bekerja keras ketika bermetamorfosis, mereka akan bertahan hingga penghujung usia planet ini. Hebat. Luar biasa. Sayap mereka sungguh kokoh. Kokohnya bukan sekedar untuk terbang. Lebih dari itu, kokohnya mampu menopang kehidupan dan dikenang sepanjang masa. 

Sepasang kupu-kupu ini berjalan menelusuri planet itu. Menapaki setiap petak kehidupan. Sesekali mereka menemui kupu-kupu yang rapuh, lalu lenyap. Namun, ada juga yang terbang dengan gagahnya. Lalu bagaimana dengan sepasang kupu-kupu ini, apakah sayap mereka rapuh sebelum seratus tahun? Aduhai, sekali lagi, rahasia, ini adalah keajaiban ketiga.  

Perjalanan kita sudah sampai penghujung planet. Pun dengan usia planet ini, teman. Ternyata, hanya ada tujuh kupu-kupu saja yang abadi hingga penghujung usia palent ini. Sedih sekali. Apa yang salah dengan metamorfosis mereka? Entahlah. Mari teman, kita terbang lagi ke bumi. 

Sepasang kupu-kupu ini kembali ke bumi. Kembali dengan membawa sebuah cerita. Cerita untuk para manusia. Sesampainya di bumi, hari hampir pagi. Keduanya beubah kembali. Kembali menjadi manusia, sejati. Wajah mereka tetap muda. Tidak menua satu sel pun. Rahasia, ini adalah keajaiban keempat. 

Kita sudah kembali teman. Inilah rahasia malam ini. Planet itu spesial bukan? Spesial untuk kita pahami dengan pemahaman yang baik. Mungkin ada pelajaran yang bisa kita ceritakan kepada mereka yang pagi ini baru terbangun. Tapi, berjanjilah untuk satu hal. Berjanjilah untuk tidak menceritakan, kalau kita pernah menjadi kupu-kupu. Silahkan beristirahat. Kamu tampaknya lelah, berkelana semalaman. Selamat tinggal....

Ups, tunggu! Aku lupa mengucapkan sesuatu. Terimakasih ya, sudah menemani ku bermimpi, hahahahhahaa....

Sabtu, 04 Mei 2013

Kupu-kupu dan Sepasang Mata Itu

This picture from this!


Penghujung senja ini aku masih berdiri. Mencari sepasang mata sipit –yang telah aku kenal sejak tujuh belas tahun silam- untuk datang menghampiri ku. 

Di sini ada puluhan bahkan ratusan pasang mata. Mata yang berjuta warna. Tapi, aku tidak akan salah, bukan. Tidak akan salah mengenali sepasang mata –yang telah aku kenal sejak tujuh belas tahun silam- untuk ku tangkap lalu ku bawa pulang. 

Setelah lama, berdiri, menghitung-hitung dan tersenyum kecil. Apakah kamu berubah? Apakah aku tidak akan lagi mengenali mu? Bisa jadi, bisa juga tidak. Tapi satu hal, mata mu –yang telah aku kenal sejak tujuh belas tahun silam- tidak akan tertukar. Tetap aku kenali. 

Lalu kamu, apakah masih mengenali ku?

Dan tiba-tiba, sepasang mata itu keluar dari sebuah kerumunan. Berjalan pasti, menuju ke arah ku. Lalu aku, seketika menjadi gagap gempita. Melangkah, nanar menjadi hilang arah. Tapi maksudnya, menyambutnya menangkap sepasang mata itu. 

“Hey....”

Aku terkejut. Sorot matanya, aku kenal. Iya, aku kenal. Sepasang mata –yang telah aku kenal sejak tujuh belas tahun silam- masih sama.

Aku tersenyum kecil. Menahan-nahan laju pernafasan.

Aku dan sepasang mata itu berjalan. Sesekali Ia menggoda, sambil menarik puncak tas ransel kecil ku.

“Kamu tidak berubah, masih saja begini.” 

Aku terunduk. Malu menatap sepasang mata itu –yang telah aku kenal sejak tujuh belas tahun silam- walau sedetik. 

Dan memang, aku tidak berubah. Sama sekali tidak berubah. Aku masih suka ketawa cengengesan dan cerita belepotan. Oh ya, satu hal, aku masih tidak suka minum susu (walau sudah usaha).



03 Mei 2013; 17.51
Kupu-kupu kecil,
Hinggap di bandara


Repost from unspoken blog!

Kupu-kupu dalam Fragmen Waktu


This picture from this!


Sore ini ketika langit merangkak, temaram, mulai diserbu malam, aku masih berdiri. Menanti..

Aku telah berdiri dua jam atau seratus dua puluh menit atau tujuh ribu dua ratus detik. Coba tanyakan apakah ini masalah?

Ah, ini bukan masalah, bahkan jauh dari masalah. Kamu tahu? Aku pernah merasakan kehilangan. Kehilangan sepotong waktu. Tapi tidak diikuti kehilangan sepotong memori pun.  

Jika harus bermain dengan waktu, itu terlalu sederhana. Kamu dan dunia akan ku ajak menari diatas hebatnya semesta dengan “ke-konsistenan-nya”.  

Hari ini, lima tahun lebih enam hari ketika sebuah kenekatan menjadi cerita. 

Hari ini, enam tahun lebih satu hari dimana semesta pernah menyandingkan sepasang anak manusia, di sebuah lapangan hijau, berselempang kemenangan.  

Dan sebenarnya bukan itu saja..

Hari ini, entah-lebih-entah-kurang-sedikit dari tujuh belas tahun ketika aku berdiri, memandang sepasang mata sipit, dari sudut jendela.



03 Mei 2013; 17.50
Kupu-kupu kecil,
Hinggap di bandara.

Repost from unspoken blog!

Senin, 29 April 2013

Negeri KakaKatepe

Ini adalah negeri Kakakatepe. Wah nama yang hebat! Apa penghuninya doyan makan tempe? Hmm..Ocin tidak tahu pasti. Namun dapat dipastikan tempe selalu menemani. Bisa jadi beberapa kali dalam satu minggu. Itu berarti dalam perut warga Kakakatepe sudah penuh kacang kedele. Ya sudahlah, kita biarkan kacang kedele berwujud tempe bersemayam di perut warga Kakakatepe. 

            Suatu hari Ocin menemani seorang mahasiswa kebidanan yang bernama Amoy. Ocin dan Amoy melakukan kunjungan rumah untuk memenuhi sebuah tugas. Ocin dan Amoy mengunjungi sebuah rumah sederhana. Rumah sederhana yang dihuni empat kepala. Ketika Ocin dan Amoy datangi, si ibu, hmm..sebut saja Ibu Cinta Kasih menyambut Ocin dan Amoy dengan hangat. Tujuan kunjungan ini hendak ngobrol-ngobrol dengan Ibu Cinta Kasih dan tentu obrolan ini akan berujung edukasi lah ya. 



            Baiklah, singkat cerita inilah kisah seorang Ibu Cinta Kasih hasil obrolan kami.

Ibu Cinta Kasih berusia empat puluh dua tahun tengah hamil delapan bulan. Selama masa kehamilannya baru satu kali periksa kehamilan di Puskesmas. Dari hasil pemeriksaan Ibu Cinta Kasih ternyata hipertensi. Ibu Cinta Kasih memiliki dua anak. Anak pertama seorang remaja puteri berusia empat belas dan yang kedua seorang pemuda kecil berusia dua belas. Ibu Cinta Kasih tidak berniat hamil lagi. Dengan konsumsi pil KB –yang tidak teratur—ternyata Ibu Cinta Kasih masih kebobolan. 

            Sampai disini Ocin dan Amoy menyimpulkan kalau Ibu Cinta Kasih memiliki risiko tinggi pada kehamilan. Oke, tidak cukup sampai disini, yuk dengerin ceritanya.

Terakhir ke Puskesmas Ibu Cinta Kasih disarankan untuk periksa rutin sesuai jadwal dan rajin mengikuti Kelas Ibu Hamil. Selain itu Ibu Cinta Kasih juga disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit. Lalu Ibu Cinta Kasih dibekali semua surat menyurat (Kaka-Katepe-dll) sebagai administrasi menuju rumah sakit rujukan. Ibu Cinta Kasih harus mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut yaitu pemeriksaan ultrasonografi. Selain itu, surat menyurat tersebut juga dipersiapkan untuk kelahiran si cabang bayi. Seorang ibu hamil dengan risiko tinggi seperti Ibu Cinta Kasih harus melahirkan di rumah sakit. Jika ada komplikasi obstetri tentu akan ditangani oleh tenaga medis yang berkompetensi secara cepat. 

            Wuih, sekilas amanlah ya. Surat rujukan sudah diberi. Semua urusan gratis. Ibu Cinta Kasih tinggal datang saja ke rumah sakit rujukan tersebut. Di rumah sakit rujukan juga gratis. Hanya menunjukkan surat-surat administrasi tersebut akan langsung diperiksa tanpa dimintai sepeserpun. Namun nyatanya...

Ibu Cinta Kasih tidak memeriksakan kandungannya ke rumah sakit rujukan. Surat menyurat urusan administrasi itu tersimpan manis di lemarinya. Mengapa Ibu Cinta Kasih tidak tergerak untuk ke rumah sakit? Ternyata oh ternyata. Inilah mengapa Ocin dan Amoy datang ke rumah Ibu Cinta Kasih. Ibu Cinta Kasih berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Sehari-hari membantu suaminya berjualan makanan keliling. Penghasilan sehari tidak lebih dari lima puluh ribu. Itu kalau lagi beruntung. Suaminya memiliki sebuah sepeda motor namun sejak dua bulan lalu disita karena tidak bisa membayar angsuran. Untuk menuju ke Puskesmas cukup jau. Ibu Cinta Kasihharus naik ojek dengan ongkos sekitar sepuluh ribuan. Pun menuju rumah sakit rujukan lebih jauh lagi juga harus naik ojek dengan ongkos sekitar sepuluh sampai lima belas ribuan. Jadi kalau pulang pergi naik ojek berapa? Ahh, hitung sendiri ya. Oleh karena itu Ibu Cinta Kasih memilih tidak memeriksakan kandungannya. 

Amoy dan Ocin terdiam. Mau kasih Ibu Cinta Kasih sebuah motor tidak mungkin. Atau mau bawa alat yang namanya ultrasonografi beserta dokter yang berkompetensi ke rumah Ibu Cinta Kasih. Itu lebih tidak mungkin lagi. 

Ternyata pengobatan gratis tidak lantas menyelesaikan masalah ya. Masih ada sekelumit permasalahan lain yang menghambat warga negeri Kakakatepe untuk mendapat layanan kesehatan. Susahnya menggapai akses layanan kesehatan dengan cerita diatas hanya salah satu contoh saja. Ocin dan Amoy yakin masih banyak bentuk permasalahan lain di luar sana yang menghambat warga negeri Kakakatepe mendapat layanan kesehatan.   

Sejatinya warga negeri Kakakatepe memiliki kesadaran penuh untuk peduli terhadap kesehatan mereka sendiri. Berjuang untuk meraih apa yang mereka butuhkan. Jangan menunggu disuapi. Ocin dan Amoy begitu sedih melihat Ibu Cinta Kasih tidak ada perjuangan terhadap kehamilannya sendiri. Tapi lebih sedih lagi mengetahui kalau sampai disinilah batas kemampuan Ibu Cinta Kasih.

Akhir cerita, Ocin dan Amoy minta no hp Ibu Cinta Kasih. Selain bersilaturahmi, harapannya kalau memang Ibu Cinta Kasih mau ke rumah sakit dan tidak ada kendaraan Amoy dan kawan-kawan yang akan mengantar (mudah-mudahan bisa). Setelah itu Ocin tidak tahu lagi kisahnya sebab Ocin telah usai bertugas di Puskesmas. Terimakasih.

Minggu, 28 April 2013

Raja Pulang

           “Raja pulang.. Raja pulang..”
            “Mana?”
            “Disana.. Raja sudah pulang..”
            Kakek dan nenek bergegas menyambut Raja. 


***
            Raja melangkahkan kakinya menuju sebuah rumah kecil. Rumah yang sederhana dan dipenuhi tanaman disana sini. Tepat di belakang rumah terdapat dua pohon rambutan. Di sebelah kanan rumah, tepat di muka teras berdiri kokoh pohon jambu air. Dipinggiran pagar rumah yang membungkus halaman ramai ditanami Kembang Nusa Indah. Ahh.. tidak ada yang berubah bukan. Rumah nenek masih sama dan selalu sama. Tidak ada yang berubah.
          
            Jelas saja, memori akan masa kecil Raja terekam hebat dalam ingatannya di rumah ini. Walau tidak tinggal di kota kecil ini, namun setiap menjelang hari raya Raja selalu pulang. Iya memang Raja selalu pulang

            Dibawah rindang pohon jambu air ini, ketika Raja berusia belum genap satu tahun, tangan Raja digenggam erat oleh kakek. Kakinya mulai belajar menapaki permukaan bumi. Berjalan masih tertatih. Seolah tempat favorit karena selalu ingin belajar berjalan dibawah rindangnya pohon jambu air. Lalu bagaimana dengan nenek. Nenek juga punya cara yang manis. Mengajak Raja bermain. Dimana? Tentu ditempat yang sama. Masih di halaman rumah yang sederhana ini. Manisnya ketika nenek memetik Kembang Nusa Indah untuk Raja. 

            Waktu kecil boleh jadi sebatas belajar berjalan. Seiring bertambahnya usia Raja sudah berlarian mengelilingi pohon jambu air. Celakanya ketika berusia tujuh tahun Raja sudah bisa manjat pohon ini hingga cabang tertinggi. Kabar baiknya, kakek selalu tersenyum melihat Raja. Sesekali mengingatkan, “Manjatnya pakai teknik yang kakek ajarkan ya..”. Kabar buruknya, nenek akan menjadi sangat cerewet dan siap berdiri di bawah pohon dengan bibir komat kamit, “Waduh..cucu nenek kalau jatuh bagaimana. Yuk Raja turun yuk..”. Apa reaksi Raja? Haha, tentu cuek saja. Sesekali melirik ke arah kakek yang duduk santai di teras sambil baca koran pura-pura tidak mendengar padahal memberi kode, “lanjutkan Raja..lanjutkan!”.

            Ketika pohon jambu air ini berbuah, tetangga akan berbondong-bondong membawa keranjang. Untuk apa? Tentu sebagai wadah jambu air yang sudah merah merekah. Kakek suka sekali membagikan jambu air ini kepada para tetangga. Kata kakek semakin banyak dibagikan semakin lebat pula buahnya. Tapi satu pesan nenek yang agak kontradiktif dengan kakek. Jangan sampai habis untuk tetangga. Sisakan untuk Raja. Persiapan untuk Raja pulang.

            Raja selalu mengatakan bahwa jambu air kakek tidak ada yang bisa menandinginya. Walau Bunda sering membelikan jambu air dari supermarket dan kata Bunda itu adalah jambu air yang diimpor dari luar negeri tapi tetap saja, bagi Raja jambu air kakek yang paling manis. Paling cocok untuk lidah Raja. Oleh karena itulah setiap dapat kabar dari kakek pohon jambu berbuah lebat Raja selalu ingin pulang

Selain karena jambu air kakek yang ajaib ini, membius Raja selalu ingin pulang. Ayah dan Bunda juga mengajarkan dan membiasakan untuk pulang. Kata Bunda sejauh kita melangkah, seberapa banyak orang yang kita temui, seberapa hebat yang sudah kita raih jangan lupakan satu hal. Jangan pernah lupa untuk pulang

Raja masuk ke rumah melalui pintu samping. Pintu masuk dari teras sebelah kanan. Kursi kecil terbuat dari rotan masih bertengger manis di sudut teras ini. Keren, kursi kecil ini hadiah ulang tahun Raja dari kakek ketika berusia empat tahun. Maklum, Raja kecil yang bermuka imut kalau duduk di teras ingin duduk kayak kakek juga. Duduk gaya orang dewasa. Jadilah kakek membelikan kursi rotan teras namun berukuran kecil. 

            “Assalamualaikum...”
            Hening. Tidak ada jawaban.
            “Assalamualaikum...”
            Tetap hening.
      Raja diam sejenak lalu menuju kursi kecil kesayangannya. Lagi, mengenang masa kecilnya....

***
            Sembari menunggu dibukakan pintu, kita biarkan Raja bernostalgia dengan kursi kecilnya. Mengenang masa kecilnya. Saya akan membocorkan satu hal. Hmm.. Kalian tahu, Raja adalah pemuda hebat. Usianya boleh jadi belum genap seperempat abad, tapi prestasi yang Ia torehkan melampaui kemampuan batas usianya. Terakhir pulang dan bercanda bersama kakek dan nenek ketika usianya tujuh belas. Kala itu baru lulus SMA dan hendak melanjutkan pendidikannya ke Amerika. Hari ini Raja pulang. Raja sudah tampak dewasa dan pulang tanpa ditemani Ayah dan Bunda. Raja rindu bermain bersama kakek dan nenek. Raja rindu jambu air ajaib kakek. 

***
Untuk kamu yang tengah diperantauan. Hingar bingar di negeri orang. Penat di ibukota. Beban memenuhi pundak. Helaan nafas terasa berat. Segera cari obatnya. Bisa jadi semua itu akan sirna hanya dengan pulang. Pulanglah, rumah mu menanti mu. Ingat rumah disini bukan sebatas bangunan ya. Ini bisa jadi orang tua, saudara, paman, bibi, nenek, kakek, teman kecil, lingkungan rumah, kebiasaan lama yang selalu menanti mu untuk pulang.  

Kata Silika,
“Apa yang membuat hati terasa gersang? Tiga hal, ketika jauh dari agama, keluarga dan kampung halaman.”


***
Catatan hati seorang wanita kecil. Dalam hatinya telah tertulis sebuah harapan bahwa kelak dimanapun Ia berada. Bersama siapapun Ia hidup. Ketika berbadan dua dan telah mencapai penghujung waktunya. Sang buah hati akan dilahirkan di kota kecilnya. Kota Prabumulih. Berharap sejauh apapun Ia melangkah, seberapa banyak orang yang Ia temui, seberapa hebat yang telah Ia raih. Ia akan selalu ingat kota kecil kelahirannya. Prabumulih, Prabu artinya Raja dan Mulih artinya Pulang. Agar kelak, ketika Ia telah menjadi orang sukses entah di belahan negeri mana, orang-orang akan bertanya, 

“Anda lahir dimana?”
“Prabumulih”
“Apa itu Prabumulih, I never heard it before
“Tempat dimana saya selalu ingin pulang.
***



28 April 2013, 23:40
Ingin pulang,
dan selalu menanti Raja pulang.