Selasa, 23 April 2013

Antara Cinta-Sayang-Kasih diukur dari Kaos Kaki Bolong


Apakah wujud benda yang bernama perasaan itu? Yang mampu membuat malam-malam mu terasa panjang. Mampu membuat jantung berdetak begitu hebatnya. Mampu membuat tiap hembusan nafas begitu menyesakkan dada. Mampu mengubah tawa menjadi tangis dan tangis menjadi tawa. Mampu mengubah gado-gado berasa spagheti.  Mampu mengubah bau kentut menjadi wangi. Baiklah, yang pasti Ocin tidak tahu pasti. Pernah seorang guru menjelaskan ini kepada Ocin.
“Kamu punya kaos kaki di rumah?” Tanya beliau
“Tentu” Jawab Ocin lugas.
Ya iya dong, yang namanya kaos kaki mah udah temenan sama Ocin sejak lahir. Pas bayi pasti kita semua dipasangin kaos kaki kan? Mama kita takut banget kalo kita kedinginan. Takut juga kalo kuku kaki kita panjang dan nyakar-nyakar. Sudah pernah denger ada kaki bayi yang bisa nyakar? Belum. Sama Ocin juga belum. Okeh, ga penting, lupakan!
 “Ketika kamu lihat ada jualan kaos kaki yang lucu dan sepertinya enak dipakai lalu kamu beli.....” Terputus seketika, beliau memandang sudut ruangan dan keliatannya mikir.
“Kenapa pak? Mau beli ga ada duit?” tanya Ocin sotoy.
“serius dong ah..” tegur beliau.
“Iya pak ampun-ampun” sujud sujud di kaki beliau. LE to the BAY, LEBAY!
“Ketika kamu anggap kaos kaki itu lucu dan sepertinya nyaman dipakai lalu kamu beli. Sampai disini definisinya CINTA.” Jelas beliau. Agaknya semakin serius. Pun Ocin juga menatap beliau dengan serius.
“Ketika kamu sudah beli dan sering kamu pakai. Suatu saat ada kaos kaki lain yang sepertinya lebih bagus. Tapi kamu masih bertahan pakai kaos kaki yang tadi hingga bolong. Selalu kamu pakai walau bolong. Keterangannya ‘sayang dibuang’ . Ya kalau sudah tidak bisa dipakai baru dibuang karna sudah habis fungsinya. Sampai disini definisinya SAYANG.” Jelas beliau lagi. Ocin manggut-manggut.
“Kakinya tajem ya sampai segitu bolongnya?” tanya Ocin penasaran. Ngacau.
“Iya kakinya bergerigi.” Jawab beliau makin ngacau.
            “Kalau kaos kaki itu bolong dan kamu masih memakainya. Lalu kaos kaki itu benar-benar tidak bisa dipakai. Kaos kaki itu tidak kamu buang tapi justru kamu simpan. Sampai disini definisinya KASIH.” Jelas beliau membuat mata Ocin berkaca-kaca.
            “Begitulah gambaran tingkatan perasaan orang yang menua bersama-sama. Awal-awal kehidupan bisa jadi cuma cinta. Seiring waktu naik levelnya menjadi sayang. Ketika tua, praktis perasaan itu menjadi kasih. Tapi sayangnya ada orang hingga usia tua tidak pernah mengecap memiliki perasaan kasih tersebut, itu kabar buruk. Namun kabar baiknya, ada juga orang yang terlahir memang diliputi perasaan kasih. Kasih terhadap siapapun.” Beliau menutup penjelasannya dengan senyum hangatnya.
***
            Setelah Ocin pikir-pikir kalau ada yang bilang, “Sumpah mati aku cinta kamu!” level jawabannya “Preett”. Kalau ada yang bilang, ”Gue sayang elo!” level jawabannya #hmm #apa #yaaa. Tapi kayaknya lebih tepatnya diem terus meleleh. Oh No, tergantung siapa dulu yang bilang sayang. Tapi kalau ada yang bilang, “Aku... aku...” ini maksudnya mau bilang kasih ya. Hmm.. sayangnya belum pernah ada orang bilang kasih karena perasaan kasih tidak pernah diucapkan namun dibuktikan dan dirasakan lewat tindakan.
            Ngemeng-ngemeng kenapa mesti kaos kaki bolong sih. Apa kata emak gue, kaos kaki bolong masih disimpen. Menuh-menuhin lemari ajee.  Ya ampun Cin ini kan cuma ilustrasi. Gue geplak juga nih hidung pesek lo. #PLAAAKKK.

Rahasia dibalik Busana Ocin di Malam Temu Beroyot

Selamat Pagi,

Hei, izinkan Ocin bercerita. Cerita tentang apa? Sebenernya Ocin malu karena ini bisa disebut sebuah aib. Apaaahh aib? Iya, aib! Hha.. aib-aib cabang bayi lah pokoknya. Ya sudahlah, langsung aja. Be-be-be-be-gi-ni ceritanya..
Suatu ketika Ocin dan teman-teman akan menghadiri acara ulang tahun fakultas di sebuah hotel. Ocin niatnya cuma mau casual aja. Cukup pake jeans atasannya kaos lalu dibalut jaket apa blazer sarang-sarang-heo gitu dan sepatu crocs. Terus petantang petenteng bawa kamera. Niatnya jadi tukang foto aja. Tapi Zelfi yang bilang, “Dandannya yang serius dong ahh..”. Oke, liat temen-temen yang sudah pada cantik dengan balutan busana elegan dan wajah tersapu make-up jadilah Ocin panik. Mau dandan juga dan bingung pake baju apa.
Nah, waktu bongkar bongkar isi kamar Tika, Ocin menemukan sebuah kain tebel berwarna coklat dengan motif yang sangat tradisionil. Iya, semacam kain dari Kalimantan apa Sulawesi gitu. Lalu dengan berbagai ide dan kreatifitas. Ocin lilit di badan dan akhirnya jadi sebuah busana yang lucu. Untuk sepatunya, Tika-Zelfi-Sisca kompak pakai High Heels dan wedges yang sembilan sentimeter-an dan Ocin pake apa? Ocin pinjem High Heels Zelfi yang tiga sentimeter-an. Lebih aman buat Ocin yang jalannya kayak preman.
Ketika mau berangkat ke hotel si Haris sempet komentar atas busana yang dikenakan Ocin malam itu, “Duileee...Ethnic Runaway nih ceritanya.”
Haha, kain yang Ocin kenakan ini kata Tika adalah kain Rizky yang dititipin sudah lamaaaa banget. Agak bau apek sih. Tapi sebelum berangkat Ocin semprot semprot dengan minyak nyong-nyong terlebih dahulu. Dan ceritanya Rizky nggak nyadar kalo yang Ocin pake ini adalah kain dia.
Acara berlangsung. Ramai dipenuhi alumnus fakultas. Dari yang sudah menjadi guru besar, profesor, dokter spesialis ternama dan juga yang masih embrio kayak kita-kita. Berikut dokumentasinya..

 
Franz-Bang Mike-Sisca-Dokter Budi-Ocin-Ririn-Tika-Intan-Zelfi

Kak Surya-Opit-Zelfi-Sisca-Nandi-Okta(yang nunduk)-Anci-Kak Yusardi-Ocin-Rizky-Ririn

Anci-Haris-Sisca-Maryam-Ocin-Tika-Zelfi-Nandi-Opit-Kak Surya

Maryam-Ocin. Terus ini ceritanya mata kita kemana-mana. Iya, maklum kebanyakan yang mau motoin kita :D

Didi-Kak Surya-Sisca-Zelfi-Tika-Ocin-Ririn-Nandi


Zelfi-Ocin-Tika-Anci


Naahh..ini dia kain Rizky yang Ocin lilit jadi busana pesta. Lucu kan? Iya, lucu tapi ini sebenernyaa......
Percaya diri sekali ya Ocin berada di antara teman-temannya. Lalu ketika acara selesai, Ocin menghampiri Rizky si empunya kain.
“Hey, Ky..inget sama kain ini nggak?” Tanya Ocin sambil menunjuk kain yang dikenakannya.
Rizky mengernyitkan dahinya. Otaknya berfikir lama. Mengobrak-abrik file-file yang tersimpan di memorinya.
“Hhhaa..ini kan punya gue!!!”
“Hahahaa....iya lucu kan Ky..” Ocin ke-PD-an.
“Iya lucu emang, nggak keliatan ya kalo sebenernya...” Rizky pengen ngomong tapi keliatannya nggak tega.
“Sebenernya apa Ky?” Tanya Ocin penasaran.
“Sebenernya ini kain yang biasa gue pake selimut.”
“Hhaaa..seriusss?”
Lihat muka Ocin yang terkejut dengan matanya terbelalak, Rizky ketawa. “HAHAHA..” gigi kelincinya membahana.
***
HU HA HU HA HU HA... Hiks.. Hiks.. jangan bilang kain ini nggak dicuci-cuci yaa. Entah sudah seberapa banyak ilernya. Makanya Cin, kreatif boleh tapi liat-liat juga kali yang dikreatifin. Besok besok kalo ga ada baju coba deh pake popok Reyhan, cucu Bu RT. Bagus juga kayaknya :P

Jumat, 12 April 2013

Apa arti kata 'tulus' Bunda?

Malam ini sebelum tidur, seperti biasa Bunda akan menemani Cifa memejamkan mata dengan cerita-cerita sederhana. Namun, kali ini berbeda. Cifa tidak mau diantar tidur dengan cerita sederhana. Cifa meminta penjelasan atas arti suatu kata, tulus.

"Bunda, orang-orang banyak bilang tulus..tulus.. Apa arti kata tulus Bunda?" Cifa bertanya. Bola matanya yang bulat berputar-putar memandangi wajah Bunda. Menunggu jawaban.

Bunda tersenyum. Ganjil, mengapa kali ini Cifa bertanya seperti ini. Tapi beginilah Cifa. Gadis kecil Bunda yang dikepalanya ada sejuta pertanyaan.

"Apa ya..?" Bunda menggoda Cifa sambil membelai rambutnya yang hitam lurus. Kemilau diterpa cahaya lampu kamar.

Cifa masih menatap wajah Bunda. Tak sabar menanti penjelasan Bunda.

"Cifa anak Bunda yang baik hati. Tulus itu tidak ada artinya yang pasti. Tapi bisa dirasakan."
"Bagaimana cara merasakannya Bunda?" Cifa lebih merapat ke arah Bunda. Penasaran. 

"Yang pertama. Malam ini sebelum tidur, Cifa berdoa untuk siapa saja yang ingin Cifa doakan untuk kebaikannya. Bunda tidak perlu tahu siapa orang itu, juga termasuk yang didoakan tidak perlu tahu." jelas Bunda.

Mata Cifa berbinar-binar. Senyum kecil. 
"yang kedua Bunda?" bertanya lagi.

"yang kedua, besok ketika dijalan ketemu pengemis, Cifa beri apa yang bisa Cifa beri. Misalnya roti atau uang kalau uang jajan Cifa berlebih. Syaratnya memberi dengan tangan kanan lalu tangan kiri disumputin dalam saku."

Cifa tersenyum. Puas akan jawaban Bunda. Lalu mulai memejamkan mata. Mulutnya komat kamit. Entahlah, nama siapa yang Ia sebut dalam doanya. Beberapa menit kemudian Cifa tertidur lelap.

"Selamat tidur sayang.." Bunda mencium dahi Cifa. Mematikan lampu. Berlalu meninggalkan Cifa.

Perawatan Payudara

Tadi ceritanya ada jadwal Kelas Ibu Hamil alias KUMIL. Setiap mahasiswa yang magang wajib memberi penyuluhan. Materi pertama diisi oleh Dana dan Mayang (koas gigi). Materi yang mereka sampaikan adalah Kesehatan Gigi Selama Kehamilan. Materi kedua diisi oleh Amoy dan kawan-kawan (mahasiswa Akbid). Materi yang mereka sampaikan adalah Tubektomi. Lalu materi ketiga datang dari seorang koas bahagia. Materi yang Ia sampaikan apa? Jreng.. Jreng.. Jreng..
Baiklah, ceritanya koas bahagia ini lupa kalau harus mengisi materi di Kelas Ibu Hamil. Rekannya yang juga koas bahagia (Haris) tengah pergi ke Padang karena ada musibah. Kakeknya meninggal dunia. Jadi koas bahagia sendirian dan gelabakan mau memberi materi apa. Detik-detik sebelum waktunya koas bahagia dipersilahkan menyampaikan materi. Koas bahagia sempat buka-buka Youtube daaaaann ketemulah pada sebuah video yang amat lucu. Video apakah itu? PERAWATAN PAYUDARA. Akhirnya koas bahagia memilih topik ini sebagai materi yang akan disampaikan.
“Ibu..Ibu..perkenalkan saya Koas Bahagia. Pada kesempatan ini saya tidak akan berceloteh panjang lebar. Saya hanya ingin mengajak ibu-ibu menonton sebuah video. Mudah-mudahan bermanfaat.”
Videopun diputar. Dengan layar yang tak lebih dari sepuluh inchi mampu membuat bola-bola mata para ibu hamil terbelalak. Menatap tajam. Iya inilah teknik perawatan payudara. Setelah video selesai diputar masuklah ke sesi tanya jawab. Hu.. ha.. hu.. ha.. hu.. ha..  koas bahagia narik nafas buang nafas narik nafas buang nafas. Takut kalau ada yang bertanya dan Ia bingung mau jawab apa. Secara ini materi dadakan. Ahh.. ngeles-ngeles aja jawabnya, yang penting tidak menyesatkan. Iya itu syaratnya.
Namun sebelum para ibu hamil mengajukan pertanyaan, si koas bahagia menyimpulkan langkah-langkah perawatan payudara tadi.
“Iya, jadi itulah ibu-ibu teknik perawatan payudara. Jika ibu-ibu kesulitan melakukan sendiri silahkan minta bantuan si bapak..”
Sontak semua ibu-ibu ketawa terbahak-bahak. Begitu juga dengan ibu-ibu bidan dan teman-teman magang yang lain. Koas bahagia kebingungan. Ada apa gerangan. Lalu terdengar celetukan dari dr.Yulifa (supervisor) dari sudut ruangan.
“WEEYY...MASIH KECIL EUY!!”
Wah..maaf maaf. Sesungguhnya koas bahagia tidak bermaksud menggiring ibu-ibu untuk berporno-porno ria. Ini pure maksudnya kalau ibu-ibu memang mau melakukan perawatan payudara dan butuh pertolongan dan di rumah cuma ada bapak. Iya, silahkan minta bantuan bapaknya saja. Okeh urusan ini tidak perlu dibuat panjang lebar. Lanjut, ada sebuah pertanyaan dari salah satu peserta Kelas Ibu Hamil.
“Dok, kalau misalnya susu sebelahnya bisa netekin tapi sebelahnya kering gimana?”
Koas bahagia mendongakkan kepala. Menatap ubun-ubun ruangan. Lalu mendapat sebuah wangsit.
“Ibu-ibu, Payudara itu kalau kita buka didalamnya berisi saluran-saluran. Anggap saja pipa-pipa kecil yang mengalirkan air. Nah makin sering disedot maka air yang melewati pipa ini makin lancar. Jadi air yang dikeluarkan mengucur deras. Nah, jika kita temui kasus, misalnya payudara kiri bisa produksi ASI tapi yang sebelah kanan tidak produksi ASI. Hal ini bisa disebabkan karena si bayi lebih cenderung nyusu di payudara sebelah kiri saja sehingga payudara kiri lebih terstimulasi untuk mengeluarkan ASI. Oleh karena itu, ibu-ibu jangan pilih kasih. Payudara kiri dan kanan harus sama-sama sering ditetekin ke anaknya ya. Iya bisa disebut NETEK KE KEDUA BELAH PIHAK.”
NETEK KE KEDUA BELAH PIHAK..
Mendengar kata-kata ini, seluruh isi ruangan riuh lagi. Waduh, sepertinya koas bahagia salah sebut lagi nih.
“MAKSUDNYA KEDUA BELAH PIHAK? PIHAK IBU SAMA PIHAK BAPAK GITU?” lagi-lagi dr.Yulifa nyaut sambil nahan ketawa.
Nah, salah tafsir lagi kan. Koas bahagia mencoba menjelaskan ulang. Akhirnya semua manggut-manggut. Setuju tidak setuju. Iya, pokoknya manggutlah ya.
Setelah disambung pertanyaan lain-lain, akhirnya sesi penyuluhan selesai. Ibu-ibu hamil senang dan si koas bahagia pun legaaaa. Tuntas sudah tugas hari ini.

***
Kesan dari kegiatan ini adalah.. #sebenter #ya #saya #mau #koprol #tiga #kali #dulu. WAW..WAW..WAW.. ketiga WAW ini saya persembahkan untuk ibu-ibu bidan puskesmas yang kerja keras mengumpulkan ibu-ibu hamil. Ibu-ibu bidan inilah yang merangkul ibu-ibu hamil agar rajin melakukan pemeriksaan, mengenali faktor risiko kehamilan sejak dini dan membantu mempersiapkan kelahiran bayi dengan baik. Tujuannya adalah tidak lain tidak bukan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi. Bener kata dr. Bobi untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi tidak mesti jadi menteri kesehatan. Okesip!
Pesan moral dari cerita ini adalah untuk area sensitif jangan sekali-kali menggunakan kata-kata sensitif nanti banyak yang jadi sensitif.
Pesan ngawur dari cerita ini adalah buat bapak-bapak yang berminat. Mari bergabung. Akan segera dibuka kelas baru. Kelas “Membantu Perawatan Payudara”. *Ampun..ampun..dr.Yulifa, iya iya iya koas bahagia masih kecil*



Pepaya Kecil untuk yang Kecil

Minggu lalu ada jadwal Posyandu. Lupa di RT mana. Ahh, sebut saja RT Pepaya. Kok RT Pepaya? Nurut aja sih. Kali ini jadwal ibu Lela, ibu Hamida dan ibu Dwi yang turun ke lapangan. Koas bahagia berniat ikut. Padahal di Puskesmas lagi ramai pasien, untung bu Iin mengizinkan koas bahagia ikut ke Posyandu. Akhirnya ketiga ibu tadi ditambah koas bahagia, beriringan dengan sepeda motor. Pergi melesat menuju RT Pepaya.
Sesampainya di RT Pepaya.
“Ini saya sudah ambilkan pepaya untuk ibu-ibu” ujar bu RT seraya menyerahkan tiga bungkus pepaya.
“Lah, kurang satu toh?” tambahnya lagi setelah melihat kali ini ada koas bahagia.
Kegiatan posyandu berjalan seperti biasa. Anak-anak balita ditemani ibunya datang berbondong-bondong minta sembako. Oh salah, maksudnya mau nimbang badan. Setiap anak yang ditimbang, ditulis hasil timbangannya di sebuah kartu. Kartu Menuju Sehat. Ada yang meningkat pesat berat badannya. Ada juga yang malah turun. Tak lupa Ibu Lela sebagai koordinator membagikan vitamin untuk anak-anak.
Ketika sudah sepi, bu RT menghidangkan empat gelas bubur kacang ijo. Wah, senangnya. Kalian tahu, apa tujuan koas bahagia ikut ke Posyandu. Iya ini, ngidam bubur kacang ijo. Wuih, surga banget deh. SLURRPPP... Manisnya pas. Biji kacang ijonya pulen tenan. Koas bahagia sampe melayang-layang keenakan.
Tiba-tiba dikejutkan suara bu RT yang mengambil sebuah tangga besi. Tangga yang biasa dipake bapak-bapak buat benerin atap rumah. Bu RT naik tangga sambil bawa satang. Daannn yaakk..dapatlah sebuah pepaya kecil. Lalu bu RT bergegas turun dan mendekati koas bahagia.
“INI PEPAYA KECIL UNTUK YANG KECIL”
Nah, apa coba perasaan kalian kalau jadi koas bahagia. Bu RT ini sudah nenek-nenek lho. Terimakasih. Terimakasih. Terimakasih. *peluk cium bu RT*

***
Dan ketika menulis ini, pepaya dari bu RT sudah mateng. Beberapa hari saya peram. Sekarang waktunya saya kupas dan saya makan. Lumayan supaya eeknya lancar. Dadadaaaaa...